• in , , , ,

    Daftar Pakaian Adat Kalimantan Barat, Tengah, Timur, Selatan, Utara

    baju adat suku melayu dan dayak kalimantan barat

    TEROKABORNEO.COM – Kalimantan dikenal oleh banyak orang dengan julukan pulau seribu sungai. Julukan tersebut diberikan karena begitu mudahnya  menemukan sungai-sungai di setiap wilayahnya, sebut saja Mahakam, Barito, atau Kapuas. Ketiganya merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Namun bukan itu saja yang menjadikan nama Kalimantan tersohor. Seperti juga diketahui, Daftar Pakaian Adat Kalimantan Barat, Tengah, Timur, Selatan, Utara.

    Nilai-nilai tersebut tumbuh dari kebudayaan beragam suku bangsa yang telah mendiami wilayah ini sejak lama. Entitas budaya seperti suku Dayak, suku Banjar, suku Kutai, suku Paser, suku Berau, suku Melayu dan suku Tidung selain sebagai suku asli Kalimantan juga memiliki andil yg sangat besar atas sumbangsihnya bagi budaya yang tumbuh dan berkembang di pulau Borneo ini.

    Setiap suku dari setiap daerah memiliki kekhasan yang ditampilkan dalam pakaian adatnya. Sehingga pakaian adat pulau Borneo pun sangat beragam dan memiliki keunikannya masing-masing. Untuk diketahui, saat ini Pulau Kalimantan secara administratif telah terbagi menjadi 5 provinsi. Kelima provinsi tersebut yaitu Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Kalimantan Selatan, dan yang terbaru Provinsi Kalimantan Utara. Inilah pakaian adat pulau Borneo dari tiap provinsi tersebut.

    1. Pakaian Adat Kalimantan Baratbaju adat suku melayu dan dayak kalimantan baratDaftar Pakaian Adat Kalimantan Barat, masyarakat Kalimantan Barat secara umum didominasi suku Dayak dan suku Melayu. Dalam hal berbusana, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Pakaian adat suku Dayak Kalimantan Barat bernama King Bibinge dan King Baba.  King Bibinge adalah pakaian wanita, sedangkan King Baba adalah pakaian yang digunakan oleh pria. Kedua pakaian tersebut dibuat dari kulit kayu. Sementara aksesorisnya seperti kalung, manik-manik, atau penutup kepalanya dibuat dari bulu burung, biji-bijian, dan bahan alam lainnya. Dan untuk suku Melayu, khususnya suku Melayu Sambas dikenal dengan Teluk Belanga dan Cekak Musang, dimana letak perbedaan di antara keduanya adalah bentuk leher yang berkerah dan tidak berkerah.Dan yang menjadi paling spesial dari baju adat Melayu Sambas adalah penggunaan Songket Khas Kalimantan.
    2. Pakaian Adat Kalimantan Tengahpakaian adat sangkarut kalimantan tengahDaftar Pakaian Adat Kalimantan Tengah, masyarakat Kalimantan Tengah mayoritas penduduknya adalah masyarakat suku Dayak Ngaju. Dalam hal berpakaian, sub suku Dayak ini memiliki sebuah busana khas yang bernama baju sangkarut.  Baju sangkarut merupakan baju model rompi yang terbuat dari serat kulit kayu. Baju ini dicat sedemikian rupa dengan pewarna alami dan dihiasi dengan pernik uang logam, kancing, serta kulit trenggiling. Baju ini dikenakan bersama cawat sebagai bawahan, dan senjata tradisional khas Dayak seperti mandau, perisai, dan tombak.
    3. Pakaian Adat Kalimantan Selatan.pakaian nikah adat kalimantan selatan

      Daftar Pakaian Adat Kalimantan Selatan, masyarakat Kalimantan Selatan mayoritas penduduknya dihuni oleh suku Banjar. Suku Banjar sendiri memiliki 4 jenis baju adat, yaitu Pengantin Babaju Kun Galung Pacinan, Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari, Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut, dan Pangantin Babaju Kubaya Panjang. Gambar di samping adalah gambar sepasang pengatin yang mengenakan baju Pangantin Babaju Kubaya Panjang

    4. Pakaian Adat Kalimantan Timur.baju kustim pakaian adat kalimantan timur

      Daftar Pakaian Adat Kalimantan Timur, masyarakat Kalimantan Timur tersusun atas 2 entitas besar yaitu suku Dayak dan Suku Kutai. Kedua suku ini memiliki pakaian adat yang berbeda. Suku dayak mengenakan pakaian bernama Ta’a dan Sapei Sapaq sementara suku Kutai mengenakan pakaian bernama baju kustim. Gambar di samping adalah gambar sepasang pria dan wanita Kutai yang tengah menggunakan pakaian adat Kustim. Antara pakaian Ta’a dan Sapei Sapaq maupun baju kustim, keduanya memiliki beberapa perbedaan.

    5. Pakaian Adat Kalimantan Utara

      Daftar Pakaian Adat Kalimantan Utara, provinsi Kalimantan Utara adalah hasil pemekaran provinsi Kalimantan Timur yang sekaligus menjadi provinsi paling muda di Indonesia. Oleh karena itu, budaya masyarakat provinsi ini tak jauh berbeda dengan budaya Kalimantan Timur, mengingat suku Dayak juga menjadi mayoritas suku penduduknya.  Hal ini dicirikan dengan pakaian adat Kalimantan Utara yang persis sama dengan baju Sapei Sapaq dan Baju Ta’a khas Kalimantan Timur. Kendati demikian, baju Sapei Sapaq dan Taa dari Kalimantan Utara punya beberapa perbedaan. Nah gambar di samping adalah gambar seseorang mengenakan baju Sapei Sapaq dan Baju Ta’a.

     

     

  • in , , , ,

    Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan

    Cerita Rakyat Dari Kalimantan

    TEROKABORNEO.COM – Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan adalah cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang di dalam masyarakat. Di Indonesia sendiri cerita rakyat berkembang secara turun temurun dan disampaikan secara lisan., cerita rakyat sangat digemari oleh anak – anak Indonesia sebagai pengantar tidur. Setiap daerah di Indonesia jelas memiliki cerita rakyatnya masing – masing, tidak terkecuali bagi masyarakat Kalimantan yang masih sangat menjaga adat istiadat dan warisan nenek moyangnya. Cerita rakyat Kalimantan sendiri – juga seperti kebanyakan daerah lainnya – terus diwariskan dari generasi yang satu kepada generasi lain lewat lisan maupun tulisan. Walau di jaman sekarang mulai jarang untuk kembali diperdengarkan namun cerita rakyat Kalimantan harus tetap dilestarikan keberadaannya. Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas mengenai cerita rakyat Kalimantan yang cukup umum dikenal

    1. Legenda Sangi Sang Pemburu

    Cerita Rakyat Dari Kalimantan

    Legenda Sangi sang pemburu adalah salah satu dari kumpulan kumpulan cerita rakyat Kalimantan yang diwariskan secara turun temurun. Kisah dongeng anak Sangi sang pemburu tepatnya berasal dari Kalimantan Tengah dan konon menjadi asal muasal Sungai Sangi. Percaya atau tidak sungai sangi hingga saat ini masih dianggap keramat dan ditakuti warga sekitarnya. Dalam cerita ini menceritakan seorang bernama sangi yang sangat piawai dalam hal berburu, tak jarang dia mendapatkan 2 sampai 3 ekor buruan setiap dia melakukan perburuan. Sampai suatu ketika saat berburu dia melihat seekor ular raksasa yang sedang memakan babi hutan, dan tanpa tiba tiba ular itu berubah menjadi seorang pria yang tampan dan mempesona, pria itu menghampiri sangi, dan mengatakan “ Kau akan ku kutuk menjadi siluman ular dan hidup abadi untuk selamanya karena sudah melihat sosok ku, namun kau harus menjaga rahasia ini, jika sampai terbongkar maka kau akan menjadi seekor ular selamanya “.

    Sangi berjanji untuk tidak sekali-kali membocorkan rahasia dirinya itu. Jika diminta memilih, ia tidak ingin menjadi ular raksasa. Ia tetap ingin menjadi manusia. Sangat senang pula ia jika dapat hidup abadi dan mempertahankan kemudaannya jika ia mampu menjaga rahasia besar dirinya itu sesuai pesan si pemuda jelmaan ular raksasa. Semula Sangi masih dapat menjaga rahasianya dengan mengemukakan berbagai alasan. Namun, karena keluarganya terus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, jengkel pula Sangi dibuatnya. Sangi yang tidak tahan lagi akhirnya membuka rahasia dirinya. Akibatnya, tubuh Sangi mengalami perubahan. Sangi berubah menjadi ular raksasa. Dengan kemarahan yang meluap, Sangi pun mengutuk, “Kalian semua akan mati seluruhnya dalam waktu singkat dalam pertikaian antar sesamamu!”

    Ia lantas menuju Sungai Kahayan dan memutuskan menjadi penjaga Sungai Kahayan di bagian hulu. Maka sejak saat itu anak Sungai Kahayan tempat di mana Sangi menjaga itu kemudian disebut Sungai Sangi. Sungai itu sangat dikeramatkan orang.

    1. Legenda Pesut Mahakam

    ikan pesut sungai mahakam

     

    Mahakam adalah salah satu sungai besar yang berada di Pulau Kalimantan. Di sungai yang panjang dan lebar ini banyak dihuni oleh bermacam makluk hidup, mulai dari tetumbuhan hingga berbagai jenis binatang. Salah satu binatang penghuninya adalah pesut mahakam, sejenis mamalia air berbentuk seperti lumba-lumba dan bernafas melalui paru-paru. Konon, menurut kepercayaan penduduk sekitar sungai, pesut bukanlah sembarang binatang, melainkan jelmaan dari manusia.

    Pada jaman dahulu, hiduplah keluarga yang sangat bahagia dan hasil panen nya selalu melimpah. Namun suatu hari, sang istri terkena penyakit yang sangat misterius dan akhirnya meninggal dunia. Hingga tinggallah sang ayah dengan putra dan putrinya. Suatu hari di desa mereka diadakan pesta panen selama 7 hari 7 malam, dan ada pertunjukan seorang wanita yang sangat cantik di acara itu. Jatuh hatilah sang ayah. Mereka kemudian saling jatuh cinta dan menikah. Namun tidak disangka sang wanita ini adalah seorang makhluk ghaib yang mempunyai rencana untuk memisahkan ayah dan kedua putra dan putrinya.

    Suatu hari wanita jahat ini menyusun rencana dengan menyuruh kedua putra putri tirinya pergi mencari kayu bakar di hutan yang jauh, dan mereka pun tersesat selama beberapa hari. Mereka luntang – lantung dan tak tau arah jalan pulang. Mereka merasakan lapar yang luar biasa. Namun mereka bertemu dengan seorang kakek yang baik dan memberikan mereka makanan, dan mereka makan dengan lahapnya untuk mengisi tenaga mereka lagi untuk pulang.

    Akhirnya mereka sampai di desa mereka lagi, namun alangkah terkejutnya mereka dengan kedapatan bahwa rumah mereka dengan keadan kosong tanpa sang ayah dan harta benda yang dimiliki mereka hilang semua. Mereka tidak ingin larut dalam kesedihan dan langsung pergi mencari ayah dan ibu tiri mereka. Namun mereka tidak tahu harus kemana, sampai akhirnya mereka ketemu dengan sang kakek yang menyelamatankan mereka itu, mereka pun menceritakan musibah mereka kepada si kakek. Dan kakek itu pun memberi petunjuk supaya mereka mencari kearah hutan yang lebih dalam.

    Memalui petunjuk kakek itu mereka kembali mencari kedalam hutan untuk menemukan ayah dan ibu tiri mereka, dan diujung dekat sungai mereka menemukan sebuah pondok dan segera bergegas menuju kesana, dan senangnya melihat pakaian ayah mereka dan langsung masuk kedalam rumah. Dan yang mereka dapati hanyalah bubur yang sudah matang, rumah pun dalam keadaan kosong.

    Karena dalam keadaan lapar mereka langsung menyantap bubur yang sedang panas itu, namun setelah menyantap bubur itu badan mereka tiba – tiba panas dan tanpa berpikir panjang mereka langsung melompat kedalam sungai, saat melompat itu sang ayah melihat kedua anaknya itu dan langsung menuju ke tepian sungai, namun yang dilihat hanya 2 ekor ikan yang berkepala mirip manusia, dan seketika itu pula istrinya menghilang, dan disadarinya bahwa sang istri adalah jelmaan mahluk ghaib.

    1. Kisah Bujang Sebeji

    bujang beji legenda bukit kelam

    Menurut legenda yang beredar, Bukit Kelam adalah batu yang di angkat oleh pemuda Dayak bernama Bujang Sebeji yang ingin menutup Sungai Melawi dengan Sungai Kapuas. Tapi niatnya gagal setelah digoda oleh bidadari sehingga dia terperosok ke dalam lubang dan batu ini dibiarkan saja sampai sekarang.

    Dahulu, hiduplah dua orang pemimpin yang bernama Bujang Beji dan Tumenggung Marubai. Kedua orang ini mempunya sif at yang sangat bertolak belakang. Tumenggung Marubai adalah orang yang baik hati dan tidak sombong. Sementara itu, Bujang Beji adalah orang yang sakti, tetapi serakah dan sombong. Keduanya mempunyai mata pencaharian sebagai pencari ikan dan mempunyai wilayah sendiri-sendiri. Tumenggung Marubai dan pengikutnya mencari ikan di Sungai Simpang Melawi, sedangkan Bujang beji di Sungai Simpang Kapuas. Tumenggung Marubai menggunakan bubu atau sejenis perangkap besar untuk menangkap ikan. Setelah terkumpul dalam perangkap, ia hanya memilih ikan-ikan yang besar, sementara ikan-ikan kecil dilepaskan kembali sehingga ikan-ikan di Sungal Simpang Melawi selalu berkembang biak dan tidak pernah habis. Melihat hasil tangkapan Tumenggung Marubai, Bujang Beji merasa iri. la pun mencari cara mengalahkan Tumenggung Melawi. Lalu, ia menempuh cara yang kurang baik. la mulai menangkap ikan dengan cara menuba, yaitu meracun ikan-ikan tersebut dengan tuba, yaitu sejenis racun ikan dari akar tumbuh-tumbuhan hutan yang sangat memabukkan. Pada awalnya, ia mendapatkan ikan yang sangat banyak. Lebih banyak dari hasil tangkapan Tumenggung Marubai. Namun, karena cara yang digunakan adalah membunuh ikan-ikan dengan racun, lama-kelamaan ikan-ikan di sungai Simpang Kapuas menjadi sangat berkurang. Sementara itu, Tumenggung Marubai tetap mendapatkan banyak hasil tangkapan. Ini membuat Bujang Beji menjadi semakin iri. Bujang Beji bermaksud menggunakan puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kapuas Hulu untuk menyumbat Sungai Melawi. Dengan kesaktiannya, ia memotong puncak Bukit Batu tersebut dan membawanya menggunakan tujuh lembar daun ilalang.

    Ketika sedang membawa bukit batu tersebut, tiba-tiba terdengar suara gadis-gadis sedang menertawakannya. Mereka adalah dewi-dewi di negeri khayangan. Ketika sampai di persimpangan antara Kapuas dan Malawi, Bujang Beji melongok ke atas untuk melihat siapa yang menertawakannya. Tanpa sengaja, kakinya menginjak duri beracun hingga la melompat dan menjerit kesakitan. Akibatnya, tujuh lembar daun ilalang yang dipakainya terputus. Puncak bukit batu tersebut pun terjatuh di sebuah aliran sungai yang disebut dengan jetak. Bujang Beji sangat marah kepada dewi-dewi khayangan yang menertawakannya.

    Kemudian, Bujang Beji berusaha mengangkat Bukit Batu yang sudah terendam di jetak dengan cara mencongkelnya menggunakan sebuah bukit memanjang. Namun, karena bukit batu tersebut sudah melekat di jetak, usahanya tidak berhasil. Bukit memanjang itu pun patah. Patahannya kini dinamakan Bukit Liut. Dengan demikian, gagallah usaha Bujang Beji menutup Sungai Melawi. Semua karena dewi-dewi khayangan. Aku akan membalas dendam,” kata Bujang Benji.

    Bujang Benji merencanakan untuk menggapai negeri khayangan dengan menggunakan pohon kumpang mambu, yaitu sejenis pohon kayu raksasa yang ujungnya menjulang ke langit. la mulai menanam pohon kumpang mambu. Dalam beberapa hari saja pohon tersebut sudah tumbuh tinggi sekali, sampai puncaknya tidak terlihat mata.Sebelum memanjat kumpang mambu, Bujang Beji melakukan ritual adat, yaitu memberi sesaji kepada roh-roh halus dan binatang-binatang di sekitarnya agar tidak mengganggu usahanya untuk mencapai negeri khayangan. Namun, ada dua jenis hewan yang lupa diberi sesaji oleh Bujang Beji, mereka adalah kelompok rayap dan beruang.Rayap dan Beruang merasa marah, karena tidak diberi sesaji. Mereka pun berunding untuk menggagalkan usaha Bujang Beji.

    Ketika Bujang Beji mulai memanjat pohon kumpang mambu, segerombolan rayap dan beruang datang menyerbu dan menggerogoti pohon tersebut di bagian bawah hingga pohon tersebut terputus.Pada saat itu, Bujang Beji sudah hampir mencapai negeri khayangan. la pun terhempas jatuh ke tanah dan tewas seketika.Dengan demikian, usaha Bujang Beji mencelakai dewi-dewi khayangan pun gagal. Tumenggung Marubai pun terhindar dari niat jahat Bujang Beji.Sementara itu, puncak Bukit Nanga Silat yang terlepas dari pukulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Kini Bukit Kelam menjadi salah satu objek wisata di daerah Sintang, Kalimantan Barat, dan menjadi kawasan hutan wisata dengan pemandangan yang sangat indah.

    Dan masih banyak lagi cerita rakyat yang lainnya yang dimiliki dkalimantan, yang dimana kita ketahui bahwa cerita rakyat dikalimantan masih sangat mengandung hal – hal mistis yang terjadi menjadi suatu cerita asal mula terbentuknya suatu tempat ataupun hewan di Kalimantan. Dimana kita tetap harus terus melestarikan cerita – cerita rakyat ini kepada anak – cucu kita.

  • in

    Film-Film berlatar Kalimantan, kalian sudah pernah nonton?

    TEROKABORNEO.COM – Kalimantan adalah salah satu pulau di Indonesia yang tidak bisa dimungkiri memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Mulai dari sumber daya hutan, gas alam, minyak bumi, tambang mineral dan lain sebegainya. Segala hal itu menjadikan Kalimantan menjadi objek yang tak henti-hentinya dieksploitasi secara terus menerus bagi oknum-oknum rakus dalam mengeruk keuntungan. Di sisi lain, kekayaan alam dan eksotisme yang dimiliki pulau Kalimantan memang juga tak jarang ”dieksploitisir” secara positif oleh para seniman dalam berkreatifitas dan menghasilkan karya seni. Salah satunya adalah dengan pernah dibuatnya film-film berlatar Kalimantan. Dalam prosesnya film-film ini memang tidak sepenuhnya mengambil lokasi syuting di kalimantan, bahkan ada yang sama sekali tidak berproses langsung di sana, melainkan hanya menggunakan nama Kalimantan saja. Walau begitu tentunya kita patut tetap mengapresiasi kehadiran film-film berlatar belakang Kalimantan berikut ini.

    Ini dia daftar film-film berlatar belakang Kalimantan, sudah pernah nonton?

    1.       Sleeping Dictionary (2003)

    Film berlatar Kalimantan
    The Sleeping Dictionary

    Sleeping Dictionary merupakan film yang berlatar tempat di Kalimantan (Borneo), tepatnya di Sarawak. Film yang dibintangi artis Hollywood Jessica Alba ini menceritakan bagaimana di masa kolonialisme, para petugas kolonial diharuskan untuk mempelajari bahasa penduduk setempat agar lebih mudah berinteraksi dan tentunya lebih bebas dan tidak kesulitan menjajah mengatur penduduk setempat. Drama-drama menarik juga tersedia di sini, lantaran terjadi percintaan antara gadis lokal (Jessica Alba) yang mengajari seorang petugas kolonial (diperankan Hugh Dancy) belajar bahasa Bahasa Indonesia/Melayu. Dalam beberapa adegan kita dapat menyaksikan artis cantik Jessica Alba mengucapkan “Selamat Pagi”, “Selamat Malam” dan banyak lagi.

    2.       Anaconda: The Hunt of Blood Orchid (2004)

    Film berlatar Kalimantan Berikutnya adalah Anaconda: The Hunt of Blood Orchid. Film Hollywood satu ini bercerita tentang sekelompok peneliti dan pemburu harta karun yang mencari bunga Anggrek Darah yang hanya terdapat di pulau Borneo (Kalimantan). Drama maupun konflik sering terjadi manakala anggota tim sering berselisih paham, padahal bahaya makhluk (monster) berupa ular Anaconda raksasa mengincar mereka. Walau adegan-adegan dalam film seolah-olah berada dalam hutan lebat Borneo, sesungguhnya syuting film ini tidak dilakukan langsung di sana, melainkan di hutan kepulauan Fiji.

    3.       Gold (2016)

    Film berlatar Kalimantan

    Film Hollywood satu ini juga tak kalah menariknya sebagai salah satu film berlatar belakang Kalimantan berikutnya. Film yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita mengenai skandal perusahaan emas tambang asal Amerika yang mengklaim telah menemukan sebuah tambang emas di pedalaman Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Timur. Konflik yang timbul kemudian ialah dikarenakan ternyata pusat tambang emas yang diklaim oleh perusahaan tersebut ternyata tidak benar-benar ada alias fiktif. Padahal perusahaan ini telah banyak menjalin begitu banyak kerjasama dengan rekanan bisnis. Drama percintaan pun turut hadir menambah ketegangan film ini. Scene mengenai pemburuan tambang sendiri tak benar-benar dilakukan di hutan Kalimantan melainkan di pedalaman negara Thailand yang memiliki cukup banyak kesamaan dengan nuansa hutan Kalimantan.

    4.       Sigek Coklat (2018)

    Film berlatar Kalimantan
    Sigek Coklat (sumber gambar: VoaIndonesia)

    Film Sigek Coklat adalah sebuah film pendek yang cukup fenomenal. Bagaimana tidak, film yang disutradarai oleh Ashram Shahvirar ini berhasil menembus film festival internasional. Tidak tanggung-tanggung dua festival film internasional pun berhasil ditembusnya, satu di Amerika dan satunya lagi di Inggris. Malah untuk festival film yang di Inggris film ini masuk dalam 3 nominasi sekaligus. Film Sigek Coklat mengangkat sisi kelam perindustrian kelapa sawit, konon film ini diangkat dari kisah nyata keluarga yang hidup dan bekerja sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. “Sigek” sendiri berarti “satu” dalam bahasa melayu Kalbar. Satu cokelat atau sebatang cokelat yang salah satu bahan dasarnya dibuat menggunakan minyak kelapa sawit. Sama seperti produk olahan rumah tangga lainnya seperti sabun, minyak goreng, dll. Itulah yang dijadikan sebuah penghantar dalam film pendek berdurasi 15 menit ini. Tak hanya berlatar belakang kalimantan saja, proses syuting juga melibatkan orang lokal setempat dalam pembuatannya.

    5.       Jaladri Sang Pejuang (2014)

    Film berlatar Kalimantan
    Jaladri sang pejuang

    Film berlatar Kalimantan berikut ini merupakan sebuah karya lokal yang berhasil masuk dalam salah satu nominasi festival film Nasional pada tahun 2014. Film yang bergenre cerita anak ini diangkat dari kisah nyata yang benar-benar terjadi. Berkisah tentang seorang anak bernama Juang yang tinggal dan hidup di perbatasan Kalimantan dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki dan harus terus berjuang melawan keras dan getirnya kehidupan.

    6.       Danum Baputi: Penjaga Mata Air (2015)

    Film berlatar Kalimantan
    Danum Baputi

    Film ini bercerita tentang sekelompok masyarakat adat di pedalaman Kalimantan yang menjaga lingkungan atau hutan warisan leluhur. Mereka juga meyakini bahwa akan adanya sosok yang telah ditakdirkan untuk mengemban misi ini. Tokoh sentralnya ialah seorang yang bernama sama dengan judul film ini yaitu Danum Baputi, anak dari Tuwo Damang sang kepala suku yang kelak akan diberi gelar Danum Pembelum (Penjaga Mata Air). Konflik pun tak pelak hadir manakala pihak yang memiliki kepentingan (investor saham) dan oknum-oknum masyarakat yang mendukung perusakan alam demi uang dan keuntungan.

    7.       Erau Kota Raja (2015)

    Film berlatar Kalimantan
    Erau Kota Raja

    Film berlatar kalimantan ini mengangkat tentang sebuah festival tahunan kebudayaan Erau yang diselenggarakan di Kutai Kartanegara. Diselipkan drama percintaan yag terjadi antara Nadine Chandrawinata (kirana) jurnalis Ibukota dengan seorang pemuda lokal bernama Reza yang diperankan oleh Denny Sumargo. Konflik hadir manakala orang tua Reza tidak merestui hubungan mereka berdua.

    8.       Perawan Seberang (2013)

    Film berlatar Kalimantan
    film perawan seberang

    Film berikut ini bergenre horor satu ini bercerita tentang seorang gadis bernama Yulia (alm. Julia Perez) anak seorang kepala Suku Dayak yang berjuluk Pankalima Kumbang Jaya. Yulia yang akan menempuh pendidikan ke Jakarta diberi azimat berupa kalung penyang untuk menjaganya dari tindakan jahat. Di Jakarta Yulia yang berparas ayu pun didekati oleh banyak lelaki tampan dan kaya. Yulia pun sempat melepas kalung tersebut sehingga mengalami banyak kejadian aneh dan menyeramkan, musibah pun datang bertubi-tubi manakala ia diperkosa dan akhirnya hamil. Yulia yang frustasi akhirnya bunuh diri dan bergentayangan menebar teror.

    Pulau Kalimantan yang memiliki begitu banyak kekayaan alam memang selalu mengundang rasa kagum dari banyak orang-orang dari seluruh dunia, tak terkecuali dari industri kreatif (perfilman). Setidaknya melalui film berlatar Kalimantan ini berusaha menunjukkan atau membangun kesadaran akan begitu banyaknya hal yang dapat dieksplorasi dari Kalimantan. Tidak melulu tentang hutan dan sumber daya alam lainnya yang terus dikeruk tanpa henti sehingga mengakibatkan berkurangnya jumlah luas hutan.

  • in

    Dugaan Mengenai Asal Usul Suku Dayak

    TEROKABORNEO.COM – Seperti yang kita ketahui Suku Dayak merupakan penduduk atau masyarakat yang menghuni pulau Kalimantan. Suku Dayak sendiri merupakan salah satu suku asli pulau Kalimantan bersama dengan beberapa suku lainnya seperti Suku Melayu, Banjar, Kutai, Paser, Berau dan Tidung. Suku Dayak sendiri terbagi ke dalam banyak sub suku. Menurut data dari sensus yang pernah dilakukan pada tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik RI, Suku Dayak memiliki sejumlah 268 sub suku yang tentunya memiliki bahasa yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Suku Dayak yang memiliki beragam bahasa dan adat istiadat menimbulkan kesan unik dan menarik untuk ditelusuri, termasuk asal usul suku Dayak itu sendiri. Ada begitu banyak spekulasi bahkan kajian ilmiah yang dibuat berdasarkan hal itu. Berikut diantaranya yang bisa saya sajikan.

    1. Berasal dari China

      Asal Usul Suku Dayak
      Orang Dayak tempo dulu (sumber gambar: patriot NKRI/Spoters)

    Menurut Mikhail Coomans penulis buku Manusia Daya (red; Dayak) Suku Dayak berasal dari daratan Asia tepatnya dari daerah Yunan, China Selatan. Ia menyebut, diperkirakan sekitar 3000-1500 Sebelum Masehi terjadi imigrasi kelompok ras Kaukasoid dan Mongoloid yang menyebrangi Selat Karimata dan Laut China Selatan. Hal ini dimungkinkan karena saat itu (zaman Glasial) es di kutub utara maupun kutub selatan belum mencair sehingga belum terbetuk selat-selat belum terbentuk dan masih banyak daratan yang bersambung dan memungkinkan mereka menggunakan perahu-perahu kecil untuk melewatinya.

    1. Kerabat dari Suku Atayal di Taiwan

      Asal Usul Suku Dayak
      Suku Atayal

    Pernah menonton film Warriors of Rainbow? film ini mengingatkan kita bahwa “budaya” atau kebiasaan Suku Atayal ternyata cukup mirip dengan apa yang juga terdapat di suku Dayak. Kebiasaan itu diantaranya seperti kebiasaan berburu dengan kepemilikan teritorial (lahan) sendiri-sendiri, hidup secara komunal, hingga kebiasaan mentato tubuh. Kaum wanitanya juga memiliki kebiasaan menenun kain. Memang bukan hanya suku Dayak saja yang memiliki kebiasaan seperti itu, banyak juga suku di Indonesia ataupun di belahan dunia lain yang mempunyai “budaya” serupa. Akan tetapi merujuk pada penemuan ilmiah yang mengatakan bahwa suku Atayal pernah bermigrasi ke Asia Tenggara. Hal ini dibuktikan dengan adanya kesamaan secara genetika serta relativitas kesamaan secara fisik dengan suku lain di Filipina dan Thailand, dan bukan juga tidak mungkin juga dengan Suku di Indonesia khususnya Kalimantan (Dayak).

    Budaya mentato tubuh memang sejak lama dikenal sebagai identitas suku Dayak. Melalui berbagai macam pola (pattern) yang didasari oleh filosofi tertentu, tak jarang baik pria maupun wanita di suku ini merajah (mentato) tubuh mereka. Di masa lampau orang Dayak yang memiliki tato dianggap memiliki keistimewaan tersendiri berupa ilmu atau sebagai tanda bahwa ia bukan orang sembarangan. Hal ini cukup mirip dengan apa yang terdapat pada suku Atayal.

    Bagi suku Atayal sendiri mentato tubuh adalah sebagai tanda bahwa seseorang telah “dewasa”. Dalam hal ini, pria yang sudah pernah memenggal kepala musuhnya maka sudah layak ditato. Sedangkan bagi kaum wanita, ketika mereka sudah bisa membuat hasil tenun yang baik maka mereka juga sudah layak diberi “tanda” berupa tato dan boleh menikah. Tato bagi mereka juga merupakan tanda bahwa mereka dapat berkumpul di “surga para leluhur”.

    Demikianlah beberapa dugaan mengenai asal-usul suku Dayak yang cukup akrab kita dengar. Tentu hal-hal tadi tidak cukup untuk dijadikan acuan atau bahkan pembenaran mengenai asal-usul suku Dayak itu sendiri.

  • in , ,

    Dayak Bahau Dari Kalimantan Timur

    TEROKABORNEO.COM – Suku Dayak Bahau, mengenai asal usulnya secara lengkap dan akurat belumlah ditemukan. Berdasarkan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Dayak Bahau bahwa Dayak Bahau masih satu keturunan dengan Dayak Tunjung, Dayak Benuaq, Dayak Kutai dan Dayak Kenyah. Dimana Tulur Aji Jejangkat dan Mook Manor Bulnat, menurunkan 5 anak yang menurunkan 5 suku, yaitu:
    1. Sualas Gunaan melahirkan suku Tunjung,
    2. Nara Gunaq melahirkan suku Benuaq,
    3. Jelivan Benaq melahirkan suku Bahau,
    4. Puncan Karnaaq melahirkan suku Kutai,
    5. Tantan Cunaq melahirkan suku Kenyah.

    Menurut cerita kedua putra Tulur Aji Jejangkat pergi naik perahu. Puncan Karnaaq pergi ke arah hilir dan Jelivan Benaq pergi ke arah hulu sungai dan kemudian menetap di wilayah hulu sungai Mahakam dan menguasai daerah sekitar Tering.

    Dayak Bahau terdiri dari 3 kelompok besar yaitu :
    1. Bahau Modang,
    2. Bahau Busang,
    3. Bahau Saq.

    Dari ketiga kelompok suku ini terbagi-bagi lagi menjadi 14 anak sub suku, yaitu:
    1.   Ma’suling
    2.   Ma’urut
    3.   Ma’tepe
    4.   Ma’rekue
    5.   Ma’tuan
    6.   Ma’mehaq
    7.   Ma’sem
    8.   Ma’keluaq
    9.   Ma’aging
    10. Ma’bole
    11. Ma’Bengkelo
    12. Ma’wali
    13. Ma’ruhuq
    14. Ma’palo

    SEJARAH MIGRASI SUKU DAYAK BAHAU

    Dayak Bahau merupakan salah satu komunitas subsuku Dayak yang besar di Kalimantan Timur. Warga Dayak Bahau umumnya berdiam di daerah hulu sungai Mahakam, tepatnya di Kabupaten Kutai Barat. Selain mendiami tepian sungai Mahakam, sebagian orang Dayak Bahau bermukim di kampung Matalibaq atau Uma Telivaq, di tepi sungai Pariq, anak sungai Mahakam.Dari penuturan lisan, orang Dayak Bahau di Uma Telivaq, berasal dari Telivaq Telang Usan, Apo Kayan. Mereka pindah karena kawasan Apo Kayan tidak subur (kini daerah Apo Kayan dihuni Dayak Kenyah, Kabupaten Bulungan di hulu sungai Kayan yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia Timur.

    Konon sewaktu rombongan ini menyeberang sungai Mahakam dengan jembatan dari anyaman rotan, rombongan yang belum menyeberang berteriak “payau-payau”. Karena jaraknya cukup jauh, rombongan yang sudah tiba di seberang, bukanlah mendengar payau melainkan “kayau”, yang berarti ada musuh menyerang. Mendengar teriakan itu, rombongan di seberang memotong jembatan. Setelah itu, barulah mereka sadar bahwa telah terjadi salah pengertian. Yang diteriakkan bukan kayau tapi ayau yang artinya rusa.Akhirnya rombongan yang belum menyeberang kembali ke tempat semula, yaitu Telivaq Telang Usan. Rombongan yang meneruskan perjalanan singgah di Lirung Isau, dekat Muara Pariq dan membuat perkampungan dan dipimpin seorang hipui bernama Tana Yong.

    Setelah sekitar 5 tahun, tahun tahun 1821 mereka pindah ke Uma Tutung Kalung, tepat di Dermaga Wana Pariq saat ini. Mereka menetap di kawasan ini hingga tahun 1907 di bawah pimpinan Hipui Ding Luhung. Setelah Hipui Ding Luhung wafat, digantikan Hipui Bang Gah, pada tahun 1907 mereka melakukan perpindahan lagi dan membuat luvung (tempat singgah sementara) di Long Paneq hingga tahun 1909.Dari Long Paneq mereka pindah dan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama membuat perkampungan di Bato Lavau dengan pimpinan Hipui Bang Gah. Tahun 1910, kampung Bato Lavau terkena layo, mereka pindah ke Ban Lirung Haloq. Rombongan kedua dipimpin Hipui Bo Ngo Wan Imang masuk sungai Meliti dan membuat luvung di gah (riam kecil) Bekahaling, sekitar tahun 1909. Tahun 1910 pindah dan membuat perkampungan di sungai Tuvaq. Setelah itu, mereka keluar sungai Pariq dan membuat luvung di Gah Belawing. Tahun 1913, kedua hipui sepakat bersatu di Uma Lirung Bunyau dibawah pimpinan Hipui Belawing Ubung.

    Maka tahun 1919 mereka melakukan perpindahan dan menetap di Datah Itung, sering juga disebut Lirung Arau atau lebih dikenal dengan sebutan Uma Telivaq atau Matalibaq kini dipimpin Hipui Belawing Ubung Dulu masyarakat Dayak Bahau mengenal tiga jenis pengelompokan dalam masyarakat. Yakni keturunan bangsawan (hipui), keturunan masyarakat biasa (panyin), keturunan budak (dipan). Namun, saat kini tinggal dua saja, yakni hipui dan pinyin.

    Dalam struktur masyarakat Dayak Bahau di Matalibaq, peranan hipui sangat penting dalam mengatur kehidupan masyarakat. Hipui adalah orang yang paling tahu tentang adat istiadat, orang yang baik hati dan tidak pilih kasih sehingga menjadi panutan dalam masyarakat.

    Dalam hal perladangan, hipui lah yang berhak menentukan kapan harus memulai kegiatan perladangan, penetapan lokasi ladangan. Kelompok masyarakat biasa (panyin) terkondisi menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap hipui. Namun sejak diberlakukannya UU Pemerintahan Desa tahun 1979, peran hipui berkurang. Karena selain kepala adat, juga ada kepala desa/dusun/kampung. Terjadi pergeseran peranan hipui dalam masyarakat. Hipui bukan lagi dipandang sebagai tokoh sentral dalam masyarakat. Namun demikian keberadaan keturunan hipui tetap dihormati dalam masyarakat

  • in , ,

    Cantik! 3 Pakaian Adat Kalimantan Utara.

    TEROKABORNEO.COM – Teroka Borneo kali ini akan berbagi informasi tentang pakaian Adat Kalimantan Utara, salah satu Provinsi yang paling muda yang resmi disahkan menjadi provinsi dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 25 Oktober 2012 berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2012.

    namun memiliki banyak budaya dan Adat yang sangat kental yaitu Kalimantan Utara. Belum lama Kalimantan Utara ini telah disahkan menjadi Provinsi sendiri yang dulunya masih bergabung dengan Kalimantan Timur.

    Kementerian Dalam Negeri menetapkan 11 daerah otonomi baru yang terdiri dari satu provinsi dan 10 kabupaten, termasuk Kalimantan Utara pada hari senin, 22 April 2013. Bersama dengan penetapan itu, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi melantik kepala daerah masing-masing termasuk pejabat Gubernur Kalimantan Utara yakni Irianto Lambrie.

    Infrastruktur pemerintahan Kalimantan Utara sedang dalam proses persiapan yang terlah direncakan yang akan berlangsung paling lama dalam 1 tahun.

    Pada tanggal 22 April 2015, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo telah melantik Triyono Budi Sasongko sebagai Pejabat Gubernur Kalimantan Utara menggantikan Irianto Lambrie yang telah menjabat selama 2 periode masa jabatan Pj. Gubernur Kalimantan utara.

    Sebelum pembentukan, dalam sejarahnya negeri-negeri dibagian utara pulau Kalimantan, yang telah meliputi Sarawak, Sabah, Brunei.

    Sejak masa Hindu hingga masa sebelum terbentuknya Kesultanan Bulungan, daerah yang sekarang telah menjadi wilayah provinsi Kalimantan Utara hingga daerah Kinabatangan di Sabah bagian Timur merupakan wilayah mandala negara Berau yang dinamakan Nagri Marancang.

    Namun belakangan ini sebagian utara Nagri Marancang (alias Sabah dibagian Timur) terlepas dari Berau karena diklaim sebagai wilayah mandala Brunei, kemudian oleh Brunei dihadiahkan kepada Kesultanan Sulu dan Suku Suluk mulai bermukim di sebagian besar wilayah tersebut.

    Kemudian itu kolonial Inggris menguasai sebelah utara Nagri Marancang dan Belanda menguasai sebelah selatan Nagri Marancang (sekarang provinsi Kalimantan utara).

    Wilayah yang menjadi propinsi Kalimantan Utara merupakan bekas wilayah Kesultanan Bulungan.

    Kesultanan Bulungan menjadi daerah perluasan pengaruh Kesultanan Sulu. Namun Kerajaan Berau yang merupakan induk dari Kesultanan Bulungan menurut Hikayat Banjar termasuk salah satu vazal atau negara bagian di dalam mandala negara Kesultanan Banjar sejak zaman dahulu, ketika Kesultanan Banjar masih bernama Kerajaan Negara Dipa (masa lalu).

    Sampai tahun 1850, negeri Bulungan masih diklaim sebagai negeri bawahan dalam mandala negara Kesultanan Sulu (bekas bawahan Brunei). Namun dalam tahun 1853, negeri Bulungan sudah dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda atau kembali menjadi bagian dari Berau.

    Walaupun belakangan negeri Bulungan dibawah kekuasaan Pangeran dari Brunei, namun negeri tersebut masih tetap termasuk dalam mandala negara Berau.

    Berdasarkan perjanjian antara negara Kesultanan Banjar dengan VOC Belanda yang telah dibuat pada tanggal 13 Agustus 1787 dan 4 Mei 1826, maka secara hukum negara Kesultanan Banjar menjadi daerah protektorat VOC Belanda.

    Dan beberapa daerah bagian dan negara bagian yang telah diklaim sebagai bekas vazal Banjar diserahkan sebagai properti VOC Belanda, maka Kompeni Belanda membuat batas-batas wilayahnya yang diperolehnya dari Banjar berdasarkan perjanjian tersebut yaitu wilayah paling barat adalah negara bagian Sintang.

    daerah bagian Lawai dan daerah bagian Jelai (bagian dari negara bagian Kotawaringin) sedangkan wilayah paling timur adalah negara bagian Berau.

    Walaupun Provinsi Kalimantan Utara ini adalah Provinsi termuda, sudah pasti tentunya Kalimantan Utara juga mempunyai produk kebudayaan yang khas, terutama pakaian Adat Kalimantan Utara yang unik dan indah. Kalimantan Utara diisi oleh sebagian besar suku jawa dengan jalur transmigrasi yang mencapai 40 persen.

    Untuk selebihnya dihuni penduduk “Pribumi” asli dari Provinsi Kalimantan Utara. Kalau kita mendengar nama Suku Dayak bukan tidak mungkin masih banyak yang tersirat hal yang berbau mistis, terutama menyangkut akan segala Adat dan budaya yang ada.

    Provinsi  Kalimantan Utara (Kaltara) merupaka provinsi ke 34, provinsi yang paling termuda di Indonesia. Kalimantan Utara merupakan Provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan yang juga merupakan pecahan dari provinsi Kalimantan Timur. Kalimantan Utara berbatasan dengan Negara bagian Serawak dan Sabah di Malaysia Timur.

    Sahabat, Pakaian Adat Kalimantan Utara adalah salah satu produk budaya yang sampai saat ini digunakan secara khusus pada acara-acara tertentu dan pada upacara khusus.

    Pakaian Adat Kalimantan Utara

    Pakaian Adat Kalimantan Utara

    Kalimantan Utara sering disebut dengan Suku Dayak yang tersebar di wilayah Kalimantan, terutama di kalimantan Utara, terdiri atas banyak sekali beberapa Sub suku. Adapun yang menjadi suku Dayak kalangan mayoritas di Kalimantan Utara adalah suku Dayak Kenyah.

    Sub suku yang orangnya dicirikan mirip dengan keturunan Tionghoa ini memiliki pakaian adat bernama Ta’a dan Sapei Sapaq. ada 3 Pakaian Adat Kalimantan Utara yaitu Ta’a, Sapei Sapaq dan Bulang Kurung yang dikenal luas sebagai pakaian Adat Kalimantan Timur.

    Begitu pula, provinsi Kalimantan Utara telah mengakui bahwa ketiga pakaian ini sebagai pakaian adatnya. Adapun yang mesti memiliki nama yang sama, Ta’a, Sapei Sapaq dan Bulang Kurung khas Kalimantan Timur dan yang khas Kalimantan Barat sebetulnya mempunyai perbedaan yang sangat mencolok.

    Sebelum membahas tentang perbedaan-perbedaan tersebut, terlebih dahulu mari kita mengenali apa itu pakaian Ta’a dan Sapei Sapaq. Untuk lebih lengkapnya mari simak bersama mengenai informasi pakaian Adat Kalimantan Utara yang sebagian besar dari Suku Dayak ini.

     

    1. Baju Ta’a Kalimantan Utara

    Baju Ta’a Kalimantan Utara

    Pakaian Ta’a merupakan pakaian Adat Kalimantan Utara yang khusus dipakai oleh para perempuan Suku Dayak di Kalimantan. Pakaian ini terbuat dari kain beludru berwarna hitam dengan berbagai macam hiasan yang berupa manik-manik yang dijahit.

    Ta’a sendiri terdiri dari pakaian (atasan) dengan model yang menyerupai rompi (tanpa lengan), penutup kepala berhias bulu burung enggang, bawahan berupa rok dengan warna serta motif yang sama, dan aksesoris lainnya seperti kalung, gelang, dan manik-manik.

    Setiap Motif hiasan rompi dan rok Ta’a ini sangat kental pada perpaduan warna-warna yang mencolok seperti warna putih, hijau, merah, biru, dan warna-warna lainnya yang sangat kontras dengan warna kain rompi. Pada bagian dada dan lengannya akan dilengkapi rumbai-rumbai dengan warna motif yang sama.

    Perbedaan utama dari pakaian Sapei Sapaq dan Ta’a adalah pada motifnya. Untuk motif pakaian Adat Provinsi Kalimantan Utara, baik itu baju Ta’a maupun Sapei Sapaq sebenarnya terbagi menjadi 3 motif, yakni motif burung enggang, motif tumbuhan, dan motif harimau atau hewan lainnya.

    Baju dari motif burung enggang dan harimau umumnya diperuntukan untuk para bangsawan, sedangkan baju dengan motif tumbuhan yang sangat diperuntukan untuk rakyat biasa. Baju Adat Ta’a ini memiliki komponen yang berupa Da’a yaitu ikat kepala yang pembuatan bahan dasarnya dari beberapa daun pandan.

    Pakaian ini sering dipakai oleh para orang tua penduduk setempat. Baju bagian atas berupa Sapei Inoq dan bawahan pada pakaian Adat ini yang adalah rok yang disebut Ta’a. Hiasan pada baju yang penuh manik-manik membuat pakaian Adat ini semakin tertarik dan cantik.

    Ada tambahan pelengkap dari pakaian Adat ini yaitu kalung bermanik yang menguntai sampai ke bawah dada. Pakaian ini biasa dipakai oleh para wanita.

    2. Sapei Sapaq Kalimantan Utara

    Sapei Sapaq

    Baju Sapei Sapaq merupakan baju Adat Provinsi Kalimantan Utara yang telah diperuntukan untuk para pria. Dari bahan pembuatan, model dan juga berbagai motif dari baju ini sangat mirip dengan baju Ta’a. Hanya saja, pada bawahan, pakaian Adat yang dipakai para pria ini hanyalah berupa gulungan selendang yang bentuknya seperti pakaian celana dalam.

    Meskipun demikian, bawahan seperti ini sekarang tapi biasanya sudah diganti dengan celana pendek hitam dikarenakan dinilainya yang kurang begitu elok dipandang oleh mata.

    Pelengkap baju Sapei Sapaq biasanya adalah sebuah peralatan senjata tradisional bernama mandau yang diselipkan di bagian pinggang, perisai perang, dan kalung-kalung dari beberapa bahan alam seperti taring babi, tulang, dan biji-bijian.

    Pakaian Adat Kalimantan Utara yang biasa dipakai seorang laki-laki dikenal dengan nama Sapei Sapaq. Corak yang telah diberikan pada pakaian Adat ini kurang lebih hampir sama dengan corak yang ada pada pakaian Adat wanita. Yang membedakan dari pakaian untuk pria ini pakaian atasannya berupa rumpi.

    Untuk pakaian bawahnya ada yang namanya cawat kalau di Kalimantan Utara disebut dengan abet kaboq. Untuk menambah keperkasaan dan terlihat budaya yang sangat menonjol ditambahkan senjata mandau yang diikat di bagian pinggang pria.

    3. Bulang Kurung Kalimantan Utara

    Contoh Bulang Kurung

    Bulang kurung merupakan jenis pakaian Adat yang dimiliki oleh Kalimantan Utara biasa digunakan pada kegiatan ritual tradisional Kalimantan Utara. Khususnya pada oleh Suku Dayak yang biasanya memakainya pada upacara-upacara khusus. Untuk jenis dari bulang kurung ini sebenarnya masih banyak aneka ragam dan masih terbagi-bagi kategorinya.

    Pada pakaian Adat bulang kurung disebabkan pakaian ini pada bagian tangan tidak ada lengannya. Namun, jenisnya juga ada yang banyak lengan pendek atau disebut dokot tangan atau yang baju lengan panjang atau lengke.

     

    Dengan berbeda dan unik banyak orang yang lebih mudah membedakan dan mengenal lebih dalam pakaian-pakaian Adat milik daerah masing-masing. Baju Adat yang memiliki fungsi sakral seharusnya tidak sembarangan digunakan. Masyarakat Kalimantan Utara juga tidak sembarangan memakai pakaian Adat ini jika tidak dalam acara yang khusus.

    Dengan ini apa yang menjadi pitutur leluhur dapat dijaga kesuciannya.

     

  • in ,

    Hutan Kalimantan Hancur Sejak 1973

    TEROKABORNEO.COM – Hasil dari sebuah penelitian terbaru menunjukkan lebih dari 30 persen dari hutan tropis Kalimantan telah hancur selama 40 terakhir akibat kebakaran, industri penebangan kayu dan industri perkebunan. Penelitian itu berdasarkan analisis yang paling komprehensif dari tutupan hutan Kalimantan sampai saat ini. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE, menunjukkan bahwa lebih dari seperempat hutan dataran rendah Kalimantan masih tetap utuh.

    Penelitian yang melibatkan tim peneliti internasional yang dipimpin oleh David Gaveau dan Erik Meijaard itu menggunakan analisis data satelit dan foto udara. Metode itu memungkinkan para peneliti mengidentifikasi secara selektif hutan tanaman industri dari hutan alam. Penelitian itu juga memetakan jalur logging kayu pada berbagai ketinggian, membedakan antara hutan dataran rendah yang terancam punah dan hutan dataran tinggi yang tidak dapat dirambah.

    Hasil penelitian itu cukup mengagetkan bagi para pegiat konservasi : hutan dataran rendah Kalimantan dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi dan menyimpan karbon dalam jumlah terbesar, luasannya berkurang 73 persen selama periode tersebut. Berkurangnya luasan hutan, karena 34 persennya akibat aktivitas tebang pilih, dan 39 persen telah benar-benar terbuka, yang biasanya dikonversi menjadi industri perkebunan pemasok kebutuhan global untuk kelapa sawit, kertas, dan kayu.

    Grafik hasil penelitian Gaveau yang menunjukkan tingkat kehilangan hutan di Kalimantan sejak 1973
    Grafik hasil penelitian Gaveau yang menunjukkan tingkat kehilangan hutan di Kalimantan sejak 1973

    Menurut penelitian ini, Sabah, negara bagian paling timur di Malaysia, memiliki laju kerusakan hutan tinggi yaitu sebanyak 52 persen luas hutan dataran rendah yang dibuka dan 29 persen luasan hutan untuk aktivitas penebangan kayu. Hanya 18 persen dari hutan dataran rendah yang masih utuh. Kerusakan hutan tertinggi ada empat propinsi di Indonesia yang merupakan 72 persen luas daratan Kalimantan.

    Secara keseluruhan Kalimantan kehilangan 123.941 kilometer persegi selama periode tersebut, dengan menyisakan hutan seluas 22.865 km persegi di Sabah, 21.309 km persegi di Serawak, dan 378 km persegi hunta di Brunei. Dalam prosentase, Sabah kehilangan 40 persen hutannya, Kalimantan 31 persen, 23 persen Sarawak, dan Brunei 8 persen. Secara keseluruhan, kerusakan hutan Borneo dua kali lipat tingkat lebih tinggi dari sisa luasan hutan tropis dunia.

    Penelitian ini menemukan bahwa aktivitas produksi komoditas menjadi faktor utama deforestasi di Kalimantan. Degradasi hutan dimulai dengan pembukaan jalur penebangan kayu, yang memberikan akses ke daerah-daerah terpencil untuk penebangan dan pengolahan kayu. Setelah kayu diambil, hutan diratakan untuk industri perkebunan. Studi ini juga menemukan bahwa bahkan hutan pegunungan yang sebelumnya tidak bisa dirambah, sekarang mulai dibuka untuk diambil kayunya dan dikonversi untuk perkebunan.

    “Konversi hutan mencakup pembukaan hutan untuk membangun industri kelapa sawit (Elaeis guineensis), dan untuk tingkat yang lebih rendah yaitu Akasia (Acacia spp) dan perkebunan tanaman karet (Hevea brasiliensis),” kata para penulis. “Pada tahun 2010, daerah yang ditanami untuk kawasan industri kelapa sawit seluas 64.943 km persegi dan hutan tanaman seluas 10.537 km persegi, yang merupakan 10 persen dari luas Kalimantan.”

    Empat dekade kondisi hutan, pembukaan dan penebangan di Kalimantan. Hutan (hijau tua) dan non-hutan (putih) pada tahun 1973, dan awan (cyan) di Panel A. Area hilangnya hutan selama 1973-2010 (merah) di jalan logging Panel B. Primer 1973-2010 (kuning baris) di Panel C. sisa hutan utuh (hijau tua), sisa hutan yang ditebang (hijau muda), dan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (Black) pada tahun 2010 di Panel D. Sumber : Gaveau dkk

    Peneliti memperkirakan bahwa setidaknya 271.819 kilometer jalur logging di Kalimantan telah dibuka antara tahun 1973 dan 2010, yang setara 58 panjang perjalanan antara New York ke San Francisco. Kepadatan pengangkutan kayu pada jalur logging itu 16 kali lebih tinggi daripada di daratan Kongo.

    The Heart of Borneo dan perkembangan spasial penebangan sejak tahun 1973 menggambarkan logging ‘perbatasan’ yang bergerak terus ke atas dan ke pedalaman, dari kawasan pantai sampai dataran tinggi. Di banyak kawasan, jalur logging berada di sekeliling dan berbatasan langsung pada tepi hutan lindung dataran tinggi. Sumber : Gaveau dkk

    Meskipun mudah terbiaskan oleh angka, studi ini memastikan dampak nyata aktivitas manusia terhadap hutan tropis Kalimantan, dimana sampai 50 tahun yang lalu dianggap hutan yang paling liar dan paling asli di planet ini, dan menjadi rumah bagi suku-suku nomaden, serta menjadi habitat bagi orangutan, gajah kerdil, dan badak.

    Sekarang ini, tradisi suku-suku Kalimantan hampir punah, sama seperti badak , orangutan dan gajah yang diambang kepunahan. Di sisi yang lain, hutan Kalimantan telah beralih dari penyerap karbon dan gas rumah kaca di atmosfer, menjadi sumber emisi karena deforestasi dan kebakaran hutan yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Tapi meskipun situasinya menakutkan, peneliti belum kehilangan harapan. Mereka menyarankan reklasifikasi konsesi kayu di hutan alam sebagai kawasan lindung, dan memperkuat undang-undang yang mengharuskan hutan dikonservasi. Membatasi konversi hutan primer untuk perkebunan kelapa sawit merupakan prioritas penting, dengan pengembangan dan penerapan sistem hutan konservasi, termasuk peran penting hutan dalam penyerapan karbon dan penyangga aliran air, yang akan mencegah erosi tanah dan banjir adalah. Hal itu yang sama pentingnya dengan potensi ekonomi kayu dan hasil hutan lainnya.

    Rekomendasi peneliti tersebut telah dilakukan dalam upaya yang tengah dilakukan melalui pengembangan proyek-proyek konservasi karbon dalam skema REDD+ di bawah Badan PBB. REDD+ bertujuan untuk memberikan pembiayaan berbasis kinerja dalam perlindungan dan pengelolaan hutan tropis yang lebih baik. Akan tetapi skema REDD+ itu lambat pelaksanaannya karena timpangnya safeguards untuk masyarakat lokal, kompleksitas pelaksanaan, dan kurangnya kemauan politik untuk mengatasi perubahan iklim.

    Selain REDD+, sebuah koalisi kelompok konservasi telah mendorong terbentuknya inisiatif Heart of Borneo, yang berusaha untuk membuat kawasan konservasi baru dan menghubungkan kawasan lindung yang ada di bagian tengah pulau. Tapi seperti REDD +, inisiatif tersebut juga terhenti. Inisiatif itu dianggap tidak cukup melindungi hutan tropis Kalimantan, seperti penegasan penelitian yang mengatakan Kalimantan menjadi pulau yang paling terancam punah. Dan data baru dari Global Forest Watch menunjukkan situasi itu mungkin semakin buruk.

  • in , , ,

    Asal Muasal Dayak Kayaan Kalimantan

    TEROKABORNEO.COM – Dayak Kayaan adalah salah satu kelompok sub suku Dayak yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia bahkan dunia, karena keberadaannya sering ditulis oleh para peneliti baik dari luar maupun dalam negeri dan lebih lagi suku Kayaan di Malaysia sebagai suku yang cukup  berpengaruh keberadaannya dari berbagai aspek baik pemerintahan, perdagangan maupun pendidikan, yang intinya jauh lebih maju dari suku Kayaan di Kalimantan Barat, meskipun harus menjadi catatan penting bahwa gubernur Oevaang Oeray dan pastor D.J Ding adalah Orang Dayak pertama di Kalbar berasal dari Orang Dayak Kayaan. Selain itu aktualisasi kebudayaan suku ini sering pula ditampilkan diberbagai event nasional dan internasional, apalagi suku Kayan memiliki alat musik yang khas yaitu Sape’. Suku Kayaan selain terdapat di Indonesia Kalbar, Kaltim dan Kalteng, suku ini juga terdapat di Sarawak Malaysia (simak prosentase orang Kayaan di Malaysia dalam tulisan Asmah).

    Terminologi Kayaan hakikatnya didasarkan atas nama salah satu sungai di Kalimantan yang terdapat di Kalimantan Timur. Sehubungan suku ini berasal dari sungai ini, oleh karena itu mereka menyebut dirinya suku Dayak Kayaan.

    Suku Kayaan menurut H.J. Malinckrodt dalam Fridolin Ukur (1971:52) suku Kayaan merupakan salah-satu dari 6 rumpun besar suku Dayak lainnya di Kalimantan. Manakala menurut Ch.F.H Duman dalam J.U Lontaan (1975: 49) Dayak Kayaan dikelompokkan dalam rumpun Apu Kayan yang terdiri dari 10 sub.suku kecil, yaitu :

    1) suku Uma Pliau

    2) suku Uma Samuka

    3) suku Uma Puh

    4) suku Uma Paku

    5) suku Uma Bawang

    6) suku Uma Naving

    7) suku Uma Lasung

    8) suku Uma Daru

    9) suku Uma Juman

    10) suku Uma Leken

    Jika diperhatikan pengelompokkan yang dilakukan oleh Ch.F.H Duman hakikatnya sangat membingungkan, karena 10 sub. Suku yang merupakan bagian dari suku Kayaan ini tidak ada terdapat 3 sub.suku Dayak Kayaan yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu, yaitu Uma’ Aging, Uma’ Pagung, dan Uma’ Suling. Ch.F.H Duman malahan memasukkan 3 sub.suku Dayak Kayaan ini ke dalam rumpun Bakau yang menganggotai 26 sub.suku Dayak. Dan menurut peneliti tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya yang sudah dilakukan, namun hal ini merupakan kekeliruan Ch.F.H Duman, karena ketiga sub.suku Dayak Kayaan yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu sehubunan dengan pengakuan kelompok ini yang dijumpai dalam penelitian ini semestinya dimasukkan ke dalam kelompok Kayaan. Dan kelompok ini juga tidak setuju dengan sistem penulisan yang dipakai selama ini KAYAN.

    Bagi kelompok ini penulisan tersebut tidak merefleksikan tentang suku mereka. Tanpa memberikan alasan kongkrit tetapi bagi mereka sistem penulisan yang tepat ialah KAYAAN (bunyi vokal ‘a’ setelah fonem ‘y’ pengucapannya dipanjangkan). Dan tradisi atau system tulisan yang umum digunakan oleh masyarakat ini pemanjangan bunyi vokal ini biasanya direfleksikan secara ganda, sebagai contoh Oevaang Oeray (Gubernur pertama Dayak). Selain itu pemanjangan bunyi vokal ini juga berfungsi untuk membedakan arti. Namun bagi peneliti kritikan ini masuk akal jika dihubungkan dengan tinjauan dari aspek linguistik. Dalam hal ini peneliti menemukan dalam bahasa Kayaan bunyi vokal [a], [o], [u], pada suku kata tertutup maupun terbuka pada posisi akhir cenderung dipanjangkan pengucapannya. Sebagai contoh:

    [usu:?] ‘tangan’ usuu, [hiku:n] ‘siku’, [liko:]’kening’, [tako:]’curi’, [daha:?] ‘kening’, [mata:n] ‘mata’

    Pemanjangan bunyi vokal ini tidak hanya sekedar asal-asalan karena dalam bahasa Kayaan bunyi vokal yang dipanjangkan dengan yang tidak mengalami pemanjangan dapat membedakan arti kata, dalam istilah linguistik disebut pasangan minima.

    Sebagai contoh:

    1. [ata:?] ’mentah’
    2. [atak?] ‘air’
    3. [patak] ‘keruh’

    Sedangkan contoh lainnya pada kosa-kata :

    1. [tegan]‘tikam’
    2. [tega:n] ‘tempat tidur khusus anak kecil’.

    Dalam masyarakat Dayak Kayaan terdapat strata sosial. Strata yang paling tinggi disebut Hipi (setarap raja), Panyin (orang biasa), dan Dipan (budak). Strata ini banyak mempunyai kemiripan dengan strata sosial dalam masyarakat Dayak Taman, Alau’ dan Dayak Tamambalo. Tetapi dalam masyarakat Dayak Kayaan jarang terdengar kezaliman dari strata yang paling tinggi dan berkuasa, kecuali kisah perlakuan kaum Hivi terhadap kaum Diivan yang sewenang-wenang terutama pada saat kaum Hipi meninggal. Dalam hal ini apabila kaum Hipi meninggal biasanya disemayamkan selama 8 hari di rumah duka. Dan bilamana dalam rumah tersebut ada budak (kaum Diivan), maka selama 8 hari tersebut budak diperintahkan untuk tengkurap di atas “lungun” (peti mati). Dan setelah hari kedelapan, budak tadi disembelih dan darahnya disembelih di atas lungun. Perlakuan ini memang keji, namun Akam Igau (sahabat Sariamas Balle Polokayu, tokoh Dayak Taman), bersama-sama menghilangkan kebiadaban ini pada suku Dayak Kayaan dan Dayak Taman.

    3.1.1 Wilayah Penyebaran dan Jumlah Penutur

    Keberadaan sub.suku Dayak Kayaan di kabupaten Kapuas Hulu, sebagaimana telah disinggung di atas, tersebar disepanjang sungai Mendalaam. Sehubungan wilayah geografis ini, suku ini juga dikenal sebagai Dayak Kayaan Mendalam, yang tersebar dalam 9 kampung.

    Nama Wilayah Penyebaran di Kalbar
    Sub. Suku & Bahasa Dayak Berdasarkan Kampung Wilayah

    Kecamatan

    Jumlah Penutur
    Kayaan 1. Luung Miting Putussibau
    2. Tanjung Karang
    3. Teluk Telaga
    4. Padua
    5. Tanjung Kuda
    6. Umaa’ Suling
    7. Umaa’ Tadan
    8. Umaa’ Pagung
    Total

    Asal Usul Dayak Kayaan di Sungai Mendalam

    Cerita Perjalanan Suku Dayak Kayaan yang Mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu dari Apo Kayaan, Kalimantan Timur.

    Menurut (Paran Lii’ Long dari Uma Lung Miting) penutur cerita tentang asal usul suku Dayak Kayaan di Sungai Mendalam Paran Lii’ (Sebutan oleh orang dari luar Kayaan) Medalaam (Sebutan dalam bahasa Kayaan). sebutan itu identik dengan kebiasaan orang Kayaan yang selalu menggunakan dua huruf (a) yang bergandengan yang dibaca agak panjang. Kedatangan orang suku Dayak Kayaan di Pulau Kalimantan, konon menurut cerita, berasal dari negeri Cina. Menurut para penutur bahwa mereka berasal dari negeri Tongshan, (Tanaa’ Tusaan: Sebutan dalam bahasa Kayaan).

    Dari apa yang para penutur ketahui, mereka menceritakan bahwa ada dua kelompok suku yang sama-sama berada dalam sampan yang sama, yakni orang Kayaan dan Cina. kedua suku ini sedang berlayan dilautan, ketika di laut, mereka dihantam badai ombak besar. dalam situasi yang serba panik, saat itupul surat menyurat yang dimiliki orang Kayaan disimpan dalam Bah(cawat; Bhs Kayaan), sementara milik Cina disimpan dalam topi, agar tidak hilang. surat yang disimpan orang cina tersebut masih bisa dibaca, walaupun basah. Sementara punya orang Kayaan, dalam cerita tersebut tidak diceritakan. Apakah hilang atau tidak bisa dibaca.

    Cerita terus dikonsentrasikan pada kelompok Kayaan, sementara Cina tidak disebutkan. kedatangan orang Kayaan di Pulau Kalimantan tidak diuraikan dengan jelas, apakah dari pelayaran bersama-sama dengan cina atau sendiri. Yang pasti kedatangan orang Kayaan di Kalimantan, dikatakan langsung masuk ke daerah yang belum berpenghuni. karena ketika mereka datang ditempat dimana mereka hidup berkumpul bersama, yang dinamakan Apo Kayaan (Daratan Tinggi), disebutkan belum ada orang lain. sungai yang ada ditempat itu di beri nama Sungai Kayaan, sementara posisi Apo Kayaan ditepi sungai Kayaan, yang kini masuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Mereka menempati daerah tersebut karena takut ancaman bahaya dari berbagai hal, termasuk manusia agar anak istri mereka bisa aman.

    Nama Kayaan sendiri menurut para penutur adalah nama suku, yang diperkuat dari tinjauan syair sastra lisan Kayaan (Dalam tekna’ Lawe’: Manusia perkasa orang Kayaan). orang luar Kayaan menyebut suku Dayak Kayaan adalah Kayan, tanpa menggunakan dua huruf (a) Karena lawe’ sendiri menyadari dan mengatakan dirinaya adalah orang Kayaan. Setelah beberapa lama orang Kayaan menetap di Apo Kayaan. Datanglah orang Dayak Kenyah, yang juga serumpun dengan Kayaan, disusul kemudian orang lain, seperti Suku Dayak Bukat yang juga termasuk dalam grup Kayaan.

    Karena semakin banyaknya orang menetap di Apo Kayaan, orang Kayaan merasa tidak aman, ditambah lagi dengan semakin kurangnya lahan pertanian, maka menimbulkan permusuhan antar orang Kayaan dengan orang Kenyah dan suku-suku pendantang lainnya. kondisi itu membuat orang menjadi waspada antar sesama.

    karena rasa curiga dan waspada, hinggalah suatu ketika terjadi peristiwa salah pengertian.

    dari seberang Sungai Kayaan, menyeberanglah seekor payo (Payo dalam bahasa Kayaan: Rusa). Payo tersebut menyeberang menuju ke perkampungan warga yang berada di Apo Kayaan. Melihat itu orang yang melihat payo tadi berteriak. Payo!. Sementara yang lain yang berada dalam rumah panjang yang mendengarkan teriakan payo tadi mengira bahwa yang diteriakan adalah Ayo (Ayo: Musuh dalam bahasa Kayaan).

    Orang Kayaan yang berada dihilir perkampungan dengan orang banyak, langsung bersiap dengan segala perlengkapan pakaian Kayo-nya (Pakaian perangnya). Bagi yang sempat turun. turun, sementara bagi yang tidak siap turun mereka memilih berdiam dalam rumah. Jumlah orang yang turun dari rumah diperkirirakan sama banyaknya dengan jumlah yang tingga. Bahkan mereka yang turun itu lengkap dengan anak istrinya. Untuk mengamankan diri, karena payo yang dipikir ayo tadi akan menyeberang menuju perkampungan, maka mereka memilih menyeberang ke sebelah sungai melalui Ja’it (Jembatan Gantung), yang terbuat dari rotan membelah Sungai Kayaan.

    Mereka yang menyeberang tadi, demi penyelamatan diri dan saudara mereka yang berada di kampung, maka Ja’it itu diputuskan dari seberang perkampungan oleh kelompok yang menyeberang sungai, agar ayo tidak menyeberang ke kampung. Tanpa berpikir panjang, kelompok yang menyeberang tadi langsung lari. Dalam rombongan itu, tidak hanya orang Kayaan, tapi ada juga orang lain. Menurut narasumber (Paran Lii’ Long), ada orang Suku Dayak Bukat. (Cerita Bukat ada bersama orang Kayaan, ketika mereka sudah ada di Sungai Sibau, Kabupaten Kapaus Hulu). Termasuk juga orang Kenyah. (Keikutsertaan orang Kenyah dalam kelompok ini tidak dicertiakan selengkapnya, karena kurangnya pengetahuan narasumber).

    Menurut Narasumber lain yang pernah menceritakan hal yang sama kepada penulis (D.Uyub Lung), di bawah bukit Apo Kayaan juga disebut Datah Purah (Dataran rendah tempat orang berhamburan kemana-mana). Menurut Atong, asal Datah Diaan-Malaysia, yang merantau ke Sungai Mendalam dan di Umaa’ Pagung, dan Almarhum Dulah, asal Umaa’ Suling bahwa, dari Puncak bukit Apo Kayaan, orang Kayaan pindah ke bawah, yang disebut Datah Purah. kepindahan mereka ke bawah karena suatu ketiak embuh pagi menyelimuti bukit Apo Kayaan. Anak-anak yang tidak tahu bahwa itu embun, yang dikira mereka adalah air pasang, salngsung melompat, seolah-oleh seperti mandai. Anak-anak yang yang terjun tadi, tidak ada yang muncul, seperti layaknya mandi di sungai. Setelah hari semakin siang, barulah semua orang sadar bahwa itu adalah embun. Tentu saja peristiwa itu membuat para orang tua menjadi ketakutan. Mereka menganggap bahwa itu adalah pertanda buruk. Karenanya, mereka memilih untuk turun dari Apo Kayaan dan bermukim di dataran rendah, yang kemudian tempat itu disebut Datah Purah.

    Kelompok yang lari, terus berjalan sehingga tibalah mereka di hulu Sungai Batang Rajang-Malaysia. Mereka memilih berdiam sementara di Sungai Jengayaan, anak Sungai Batang Rajang. Rombongan yang lari ini dipimpin oleh seorang ibu dari kasta Hipii’ (Bangsawan, dan kepala suku) Husun Aging, dari Umaa’ Aging, sub suku Dayak Kayaan. Istri Husun Aging yakni Hengo’ Lekan, asal dari Umaa’ Lekan. Anak dari Husun Aging dan Hengo Lekan adalah Bataang lalang, Hajaang Lalang, dan Lejo Aging, ke tiga anak mereka, semuanya laki-laki.

    Selama bermukin dalam Jengayaan, mereka terus mencari lokasi yang bagik untuk membuat pemukiman baru, dan tentunya tanah yang subur dan kaya alamnya. Karenanya, mereka bersepakat untuk mengutus tiga kelompok untuk mencari lokasi baru, yang disebut Ngasip atau Mato(survey). Utusan tersebut, satu kelompok ke arah Sungai Balui-Malaysia, dan kelompok, satu kelompok ke Sungai Kelimaan (Sungai Kapaus), namun yang dituju adalah Hunge Tevio (Sungai Sibau; Bahas Kayaan), (Orang taman sering menyebutnya adalah Banua Sio), Kabupaten Kapuas Hulu, dan kelompok lain menjuju Sungai Mahakam. Setelah beberapa waktu ketiga kelompok itu berangkat, muncullah mereka dengan masing-masing laporan yang disampaikan pada Husun Aging serta para masyarakatnya. Ke tiga kelompok itu sama-sama mempertahankan wilayah yang mereka anggap paling bagus.

    Kata kelompok yang datang dari Sungai Mahakam, mengatakan bahwa sungainya sangat bagus, memang sudah ada orang yang bermukim dihilirnya, yakni di Lung Gelaat, dan anak Sungai Mahakam, tapi orang itu baik, walau tidak cocok bahasa. Dari kelompok yang ke Sungai Sibau, mengatakan bahwa sungai yang mereka temua paling baik, tidak ada riamnya, banyak ikannya. Sementara kelompok yang ke Batang rajang juga mengatakan kebaikan yang diperoleh, dan tetap mempertahankan hasil temuan mereka.

    Akhirnya, karena semua temuan mereka dinyatakan baik, Husun Aging membaw maka mereka untuk mencari tempat untuk bermufakat, yaitu di Ngalaang Bato’ (Bukit: Ngalaang, Bato’; Batu; Bahasa Kayaan), yang berada di hulu Sungai Jengayaan. Dari keputusan atas dasar mufakat itu, diputuskan bahwa pembagian rombongan di bagi menjadi tiga. Ada yang ke Batang Rajang, yang dipimpin oleh (INI TIDAK JELAS). Yang turun ke Sungai Batang Rajang dipimpin oleh Hajaang Lalang, anak sulung Husun Aging. Yang turun ke Sungai Sibau dipimpin langsung oleh Hippi mereka yakni Husun Aging. Ketika dalam persiapan keberangkatan ke Sungai Sibau, tiba-tiba Husun Aging meninggal dunia. Namun sebelumnya, suami Husun Aging, Hengo Lekan, juga sudah meninggal.

    Karena Husun Aging meninggal, maka kepempmpinan di pegang oleh Bataang Lalang, adik Hajaang Lalang, anak Husun Aging. Sementara adiknya, Lejo Aging, ikut abangnya Bataang lalang ke Sibau. Rombongan yang ke Batang Rajang berpisah dari kelompok yang ke Sibau dan Mahakam. demikaian juga sebaliknya pada kelompok lainnya.

    Perjalanan diteruskan ke Sungai Sibau. Kelompok yang dipimpin oleh Bataang Lalang masuk dari hulu Sungai Sibau, setelah memeotong beberap sungai besar dan kecil serta hutan lebat belentara, tibalah mereka di tempat yang bernama Lung Putaan (Nanga Putaan). Kelompok yang dipimpin Bataang Lalang ini, jumlahnya sedikit dari kelompok yang ke Batang rajang dan yang ke Sungai Mahakam. Dalam ekodus itu kelompom yang banyak adalah Sungai Mahakam, Batang Rajang, baru Sungai Sibau.

    Waktu berangkat dari Sungai Jengayaan, Bataang Lalang, masih bujangan. Ketika menetap di Lung Putaan, Bataang lalang menikan dengan Belasaat, orang asal suku Dayak Bukat yang ikut dalam rombongan itu. Blasaat menurut cerita adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Pemukiman di Lung Putaan, belum permanen. Dari Lung Putaan, mereka pindah lang di Nahaa Bekaraan (Naha; Karangan berbatuan, Bekaraan: pisang hutan). lokasi itu berada agak di hilir Lung Putaan. di Tempat baru inilah Blasaat, istri Bataang Lalnag meninggal dunia. Buah dari perkwainan Bataang Lalang dengan Belasaat, ada tiga orang, yakni yang sulung adalah Sigo Lung, yang ke dua Buaa’ Maring, dan yang ketiga adalah Tipung Bataang.

    Setelah istri Bataang Lalang meninggal, dia sangat stres. Tentu saja karena pemimpin mereka mengalami stres, maka warga jadi serba bingung dan hampir tidak bisa berbuat apa-apa, karena selain Blasaat yang harus memegang lalii’ (adat sitiadat) meninggal dunia, juga Bataang Lalang yang setiap harinya selalu murung. Dengan segala keberanian, layaknya seorang hamba menghadap tuan, warganya pergi menghadap Bataang Lalang, menanyakan prihal apa gerangan yang menjadi kesedihannya dan kemurungnnya. Setelah diceritakan oleh Batang Lalang, bahwa dia sangat merasa kehilangan istrinya, barulah warganya tahu apa yang menyebabkan dia stres.

    Akhirnya warga menganjurkan agar Bataang Lalang menikah lagi, karena setelah Blasaat meninggal dunia, tidak ada lagi yang memegang Lalii’, karena lalii’ karena yang harus memegang lalii’ adalah seorang ibu keturunagn hipii. Permintaan warganya ditolak halus oleh Bataang Lalang. Dia mau menikah asal ada perempuan yang mirip dengan Almarhum Blasaat istrinya.

    Mendengar permintaan Bataang Lalang, warganyapun berembuk untuk mencari istri Bataang Lalang yang ada kemiripan dengan Blasaat. Dari hasil hasi kesepakatan, mereka bersepakat mencari perempuan ke Batang Rajang, tempat dimana abang Bataang Lalang, yakni Hajaang Lalang yang memimpin warganya.

    Rombongan pergi ke Batang Rajang:

    Kepala rombongan serta anak buahnya yang pergi tidak disebutkan oleh narasumber. Setiap bertemu dengan rumah orang Kayaan di Batang Rajang, mereka selalu mengintip. Akhirnya pada sebuah rumah panjang milik Umaa’ Blur, (Umaa’ Blur juga adalah orang Kayaan), di sana mereka sedang menemukan seorang gadis cantik yang sedang mandi di sungai. Gadis itu bernama Haran, yang baru menyelesaikan tato pada bagian kakinya. Gadis yang ditato dikaki menununjukkan bahwa dia barui menginjak dewasa.

    Khusus tentang tato Orang Kayaan:

    Jika perempuan menginjak dewasa berumur sekitar 15-17 tahun, maka harus ditato di bagian kaki dan tangannya. Sementara jika sudah berusia sekitar 17-20 tahun maka dia harus ditato paha.

    Jika ada perempuan yang tidak bertato, maka di adalah orang yang paling hina. Karena selain orang itu tidika mampu, juga menandakan dia tidajk tahan sakit jika ditato. Tato bagi orang Kayaan tidak sekedar perhiasan, tapi juga selaku membantu rohnya jika dia sudah meninggal dunia. Jika roh tersebut berjalan dalam alam baka, maka yang akan menjadi poenerangnya atau cahaya dalam perjalanannya adalah tato yang ada disekujur tubuhnya. Karenannya orang zaman dulu berusahaan bertato. Walaupun harus membayar dengan padi, tikar, sampan. Bagi yang mampu harus membayar penato dengan manik, atau gong.

    Mengenai Haran. Dia berendam dalam sungai bersama kawan-kawanya dalam sungai. Rupanya haran adalan anak tunggal dari seorang Hipii Umaa’ Blur. Ketika melihat Haran, saat itu rumah panjang sedang sepi, (sekitar jam 9 waktu sekarang). Karena pada jam-jam itu, orang pada pergi ke ladang. Setelah pengintai menguasai situasi, mereka langsung menyergap dan menangkap Haran yang sedang berendam tadi. Oleh tim pencari istri yang mirip dengan Blasaat, Haran dibawa langsung secara berlarian ke Sungai Sibau, karena takut dikejar warga haran.

    Setelah tiba di rumah, Haran diserahkan pada Bataang Lalang, melihat kecantikan Haran, yang juga kebetulan ada kemiripan dengan Blasat, maka Bataang Lalang langsung menerima Haran sebagai istrinya. Tapi kehadiran Haran yang mampu membuat hatinya tentran dan senag, tidak melupakan Bataang Lalang lupa akan dampak yang terjadi setelah menculik Haran. Menurutnya kepada warga, akibat penculikan itu, maka akan terjadi bayaha menyusul yang menimpa seisi rumah panjang. Kapada Haran, Bataang lalang berbicara banyak prihal kenapa dia di culik. Setelah Bataang Lalang bercerita apa yang dialaminya setelah kepergian Blasaat, maka Haran pun mau menerima Bataang Lalang sebagai suaminya.

    Dalam waktu yang tidak terlalu lama, apa yang dipikirkan Bataang Lanang, ganap terjadi. Serombongan besar keluarga Haran datang menyerang rumah panjang Bataang Lalang. Tidak diketahui siapa yang memberi informasi yang pasti tentang tempat Batang Lalang bermukim kepada orang Umaa’ Blur. Dalam rombongan Umaa’ Blur itu, tidak disebutkan bahwa orang tua Haran ikut. Tidak ada yang berani keluar, mereka lebih memilik bersiap dan berjaga-jaga dalam rumah, karena selain jumlah warga Bataang Lalang sedikit, juga karena situasi sangat terjepit. Sekeliling rumah panjang dikepung oleh ayo (Musuh) Umaa’ Blur. Untungnya Ayo Umaa’ Blur, tidak berani membakar rumah panjang itu. Namun Ayo bapaknya Haran, dari bawah berteriak dan mengatakan ”Anak saya (Haran) haru keluar dari dalam rumah panjang, kalau tidak maka rumah panjang ini akan kami bakar” teriakan ayo dari bawah mengancam Bataang Lalang dan warganya.

    Setelah sekian lama ayo Umaa’ Blur mengepung rumah panjang itu, maka dari kesepakatan Bataang Lalang dangan Haran istrinya, maka mereka berdua keluar dari dalam Amin (Bilik) milik Bataang Lalang. Tentu saja melihat Bataang Lalang bersama Haraan keluar dari bilik, para ayo Umaa’ Blur semakin geram, dan ingin membunuh Batang Lalang. Namun situasi dapat diredakan oleh Bataang Lalang dan Haran bersama seisi rumah. Bataang Lalang meminta agar para ayo naik, untuk menjelaskan persoalan apa sesungguhnya yang dialami olehnya. Setelah mengetahui bahwa Bataang Lalang adalah hipii orang Kayaan dengan segala persoalan pribadinya, dan setelah Haran sendiri mengatakan bahwa dia tidak akan kembali ke Bantang Rajang, karena sudah terlanjur cinta dengan Bataang Lalang, maka orang Umaa’ Blur tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya situasi yang mencekam dan keganasan dari ayo Umaa’ Blur tadi berumah menjadi suka cita.

    Karena Umaa’ Blur juga suku Dayak Kayaan, maka setelah didapati jalan keluar dari akar pengkayauan itu, maka perkawinan Bataang Lalang dengan Haran, dilakukan secara darurat dengan cara petsak kanan (Saling mencicipi nasi. Petsak: Mencicipi Kanan: Nasi), yang berlangsung dalam rumah panjang Bataang Lalang. (Yang dimakan tidak hanya nasi, tapi juga ikan. Kedua mempelai harus saling suap menyuap nasi). Tentunya perkawinan tersebut disaksikan oleh kedua belah pihak. Sistim perkawinan petsak kanan tersebut adalah sistim perkawinan adat suku Dayak Kayaan yang hanya dapat digunakan ketika dalam keadaan darurat, salah satunya seperti kasus tersebut, atas dasar suku sama suka.

    setelah beberapa lama ayo Umaa’ Blur berdiam dirumah Bataang Lalang, tibalah saatnya mereka harus pulang kembali ke Batang Rajang. Karena keputusan keluarga, makanya Bataang Lalang bersama sejumlah orang ikut bersama rombungan Umaa’ Blur untuk bertemu dengan bapak dari Haran yang sudah lama menunggu kabar berita anak tunggal kesayangannya itu.

    Setibanya mereka di Umaa’ Blur di Batang Rajang, rombongan disambut dengan hati yang gelisah. Tentunya semua orang ingin melihat siapa gerangan orang yang menculik Haran. Setelah diketahui oleh orang tua Haran dan sanak saudaranya, tentang siapa sebetulnya Bataang Lalang, maka orang tua Haran harus dengan berbesar hati menerima kenyataan itu. Setelah beberap lama Bataang Lalang bersama warga Umaa’ Blur, maka tibalah saatnya dia harus kembali ke rumah panjangnya di Sungai Sibau. Sebelum kembali, Bataang lalang dan Haran mendapat jatah bagian dari harta benda yang dimiliki oleh orang tuanya, serta beberap orang sanak keluarga yang sangat dekat dengan Haran sebanyak enam buah amin ikut Haran dan Bataang lalang ke Sibau.

    Setelah beberapa lama bermukim di hulu Sungai Sibau, akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke hilir, agak berdekatan dengan orang Taman Sibau (Banua Sio). keberadaan orang Kayaan membuat orang Taman Sibau merasa iri tanpa sebab yang jelas, seperti yang dituturkan oleh narasumber.

    Peristiwa Pertikaian Orang Kayaan dengan Orang Taman di Sibau:

    Ketika orang Kayaan hidup berdampingan dengan orang Taman Sibau, mereka diterima dengan berbagai sikap pelecehan. Ketika orang Kayaan menjemur padi di Karangan, selalu dihamburkan dan diisi batu kedalam tikar oleh orang Taman. Ketika ibu-ibu sedang Sikap (Mansai) mencari ikan, ke ladang sendiri, diperkosa oleh orang Taman. Perbuatan orang Taman itu harus diterima dengan berbesar hati, karena orang Kayaan sangat sadar bahwa jumlah mereka sangat kecil jkika dibandingkan dengan orang Taman Sibau.

    Ditempat itulah Bataang Lalang meninggal dunia karena sakit. Bataang lalang meninggalkan Haran istri tercintanya serta bayi yang berada dalam kandungan Haran. Untuk menggantikan tampuk kepemimpinan sang ayah, maka Sigo Lung putra sulung Bataang Lalang dengan Blasaat istri pertama Bataang Lalang, dipercayakan untuk memimpin seisi rumah panjang, mulai dari adat istiadat yang menjadi kewajibannya, hingga hukum adat.

    Karakter Sigo Lung yang saat itu masih bujangan sangat berbeda dengan ayahnya yang bijaksana dan penyabar itu. Sigo Lung berkarakter keras, suka membangkang dan cendrung otoriter. Selama dia memimpin warganya, disebutkan oleh narasumber dia tidak terlalu pandai. Karena dia masih bujang, maka Sigo Lung didampingi tetua betang, yakni Uvat Ubung. Uvat Ubung adalah termasuk hipi uk (Hipi kecil). Setiap apa yang dilakukan oleh Sigo Lung, selalu di kontrol oleh Uvat Ubung. Namun saran dan pendapat Uvat Ubung tidak diperdulikan oleh Sigo Lung. Karena tipe pemimpin mereka yang berjiwa muda dan otoriter itu, warga menjadi kacau.

    Ditambah lagi situasi kala itu sangat tidak tenteram, karena orang Taman menganggu Akhirnya Uvat Ubung bersama beberap warga lainnya mmemilih keluar dari rumah panjang dan menuju Sungai Mendalam. (Orang Kayaan menyebut Sungai Mendalam: Medalaam. Medalaam tidak punya arti dan makna). Rombongan Uvat Ubung inilah yang disebut Umaa’ Tadaan di Mendalam. Disebutnya mereka sebagai Umaa’ Tadaan, karena ketika ayo dari suku dayak Iban menyerang orang Kayaan di Mendalam, kelompok inilah yang pertama kali menjadi sasaran/serbuan pertama musuh (Tadaan Ayo).

    Setelah kepergian Uvat Ubung, situasi orang Kayaan Sungai Sibau tambah kacau lagi. selain sebagian ada yang pindah ke Sungai Mendalam, ditambah lagi orang Taman semakin gencar melakukan intimidasi, maka warga semakin hidup dalam kebimbangan dan serba terjepit. Orang taman yang awalnya hanya melakukan pelecehan, berbuntut bunuh membunuh. Jika mau berpergian, seperti mencari ikan dan sebagainya, mereka harus berramai-ramai.

    Selain Uvat Ubung yang juga sebagai tetua warga Kayaan di Sungai Sibau, ada juga Hanye’ Jaraan, anak Jaraan Ulah yang juga sama-sama memimpin dimasa kepemimpinan Bataang Lalang. Hanye’ Jaraan lah yang mengantikan Uvat Ubung, ketika pindah ke Sungai Mendalam.

    Sambungan Kasus orang Kayaan dengan Taman Sibau:

    Hanye’ Jaraan adalah orang yang sangat gagah perkasa yang memiliki postur tubuh besar tinggi. Dalam rumah panjang itu dia adalah seorang pemimpin perang. Kehebatan Hanye’ Jaraan, ketika di pergi bersama perempuan mencari ikan dengan cara sikap di danau, biasanya setelah situasi di anggapnya aman, maka dia berguling-guling dalam danau. Ketika selesai berguling, maka ikan kedakang (sejenis ikan pati yang ada durinya), melekat di sekujur tubuhnya. Dikatakan oleu narasumber, gelang betisnya (Pasaan: Bahasa Kayaan), sebesar bahu orang dewasa.

    Dalam situasi yang sudah tidak memungkinkan itu, Sigo Lung beserta hipi uk, lainnya, termasuk Hanye’ Jaraan, membicarakan tentang situasi yang mereka hadapi. Saat itulah mereka teringat dengan kesepakatan yang pernah mereka sepakati sebelum mereka berpisah di hulu Sungai Jengayaan. Setelah mereka sepakat untuk meminta bantuan kepada saudara mereka yang ada di Sungai Mahakan, maka Hanye’ Jaraan dipercayakan untuk memimpin rombongan kecil kesana.

    Rombongan yang dipimpin Hanye’ Jaraan langsung menuju Umaa’ Lung Gelaat. Di sana ada Bo’ (kake’ dalam bahasa Kayaan di Mahakam. Ukuu’Bahasa Kayaan di Sungai Mendalam) Leju. Waktu Hanye’ Jaraan pergi meninggalkan Sungai Sibau, dia membawa pasir yang diisi dalam selpa(tempat menyimpan tembakau, terbuat dari tembaga kuningan) dan satu batu asah berukuran sedang. Setibanya di rumah orang Lung Gelaat, dia langsung bertemu dengan Bo’ Leju. Katanya setelah basa basi dan saling sapa menyaapa, ”Saya datang kesini untuk meminta bantuan sesuai dengan kesepakatan kita di Bato’ Masaan, hulu Sungai Jengayaan. kala itu kita sepakat, siapa yang kesusahan dia berhak meminta bantuan. Sekarang Kami dalam Sungai Tevio/Sibau, sedang dalam kesusahan, dan sangat menderita. Kami tidak bisa bergerak, oleh prilaku orang Dayak Taman,” Kata Hanye Jaraan. Dia menambahkan, ”Sebanyak pasir yang kami bawa inilah kamu harus membawa orang Kayaan yang ada dalam Sungai Mahakam ini, dan batu asah yang kami bawa ini, sebelum batu asah ini habis digunakan untung mengasah malaat Kayo (Mandau perang), maka pasukanmu belum siap turun.

    Sebelumnya Bo’ Leju sudah penasaran dengan orang yang berasal dari Sungai Kapuas. Ketika itu, Mambo Ajang, dikatakan narasumber, adalah raja orang Dayak Tamambaloh (Orang Kayaan menyebut orang Tamambaloh: Turi MaluhTuri: Taman, Maluh: Sungai Embaloh). Ketika itu Mambo Ajang pergi merantau ke Mahakam dan tinggal di rumah Bo’ Leju. Selama Mambo Ajang di sana, dia dilayani layaknya seperti saudara sendiri, walaupun berasal dari suku lain. Setelah sekian lama hidup bersama warga Bo’ Leju, tibalah waktunya Mambo Ajang mau kembali ke kampung halamannya di Sungai Embaloh. (Tidak disebutkan Mambo Ajang berasal dari kampung mana dalam Sungai Embaloh). Oleh Bo’ Leju, Mambo Ajang di kasih harta benda yang mampu dibawanya pulang, sebagai wujud dari rasa kekeluargaan. Karena barang itu terlalu banyak dan dia tidak mampu membawanya sendiri, (Tidak disebutkan, apakah Mambo Ajang sendiri, atau ada anak buahnya), Bo’ Leju menugaskan delapan orang anak buah Bo’ Leju untuk ikut mengantar harta benda yang diberikan pada Mambo Ajang. Sepanjang perjalanan menuju hulu Sungai Kapaus, mereka masih tetap bersahabat dan tidak saling menaruh curiga.

    Ketika sampai di Nanga Bungaan (Orang Kayaan menyebut tempat ini: Lung: Nanga Bhungaan: Nama Sungai), ketika tidur malam, muncullah niat buruk si Mambo Ajang. Delapan orang anak buah Bo’ Leju yang sedang tertidur pulas dalam pondok darurat, bangunlah Mambo Ajang. Melihat mereka tidur pulas, maka dia berniat membunuh mereka. Dari delapan orang tersebut, tujuh yang mati ditempat dan satu berusaha lari menyelamatkan diri, hingga tiba di rumah Long Gelaat. Orang tersebutpun menceritakan banyak hal kepada Bo’ Leju. Mendengar itu, tentu saja Bo’ Leju sangat sakit hati. Tapi kala itu Bo’ Leju belum segera turun untuk mengayau.

    Ibarat gayung bersambut, selang beberap waktu datanglah Hanye’ Jaraan, prihal memohon bantuan padanya, membuka tabir baru cerita duka yang masih melekat dalam ingatannya, ketika tujuh orangnya di bunuh oleh Mambo Ajang, yang dalam pengetahuannya adalah orang Dayak Taman. Dengan kasus yang menimpa anak buah Bo’ Leju ditambah lagi kasua yang dihadapi saudaranya orang Kayaan di Sungai Sibau, laporan hanye’ Jaraan di tanggapinya dengan mengatakan akan menyerang orang Taman di Kapaus. Setalah Hanye’ Jaraan menceritakan persoalannya, tidak terlalu lama di rumah Bo’ Leju, di bersama rombonganpun kembali ke Sungai Sibau.

    Sementara Bo’ Leju sendiri menyiapkan anak buahnya yang terdiri dari orang Kayaan yang berada di bagian hulu Long Gelaat, dan orang Bo Leju sendiri, dalam jumlah ribuan orang. Tibalah saatnya Bo’ Leju memimpin rombongan menuju Sungai Mahakam. Perjalanan bala Leju itu menelusuri perjalanan yang pernah diikuti oleh delapan orangnya yang ikut Mambo Ajang. Setiba di Lung Bhungaan, tempat dimana ketujuh orangnya dibunuh oleh Mambo Ajang, mereka mendirikan pondok. (Menurut narasumber, Ketika itu, bnelum ada orang yang berada di Lung Bhungan). Di sana mereka tinggal selama satu sekitar tahun, yang disebut pedo{berhari-hari, untuk mengadakan adat pengayauan yakni dengan mencari nyaho kayu’ (Burung Kayau, yakni sejenis burung elang putih, burung hisit: iram, Burung Ketukung, dan lainnya)}. Ditempat itu mereka membentangi tali yang terbuat dari rotan dan membuat lingkaran rotan yang di gantung ditengah sungai terikat pada tali yang membentang sungai Kapaus. Setiap hari rotan itu ditunggu oleh dua orang, saming-masing seberang sungai. Sementara menunggu, orang tersebut berdoa meminta keselamatan agar dalam pengayauan mereka semua selamat, dengan meminta tanda dari alam yang berupa burung yang harus masuk dalam lingkaran rotan tadi.

    Selama di Lung Bhungaan, ada yang membuat jalan pintas menuju Sungai Mendalam. Yakni dari Brukong Kapsau ke Berukong Mendalam. (Berukong adalah teluk yang memiliki arus air yang berputar-putar, didasar sungai ada lobang besar yang menembus ke Sungai Mendalam, dan sebaliknya. Orang Kayaan meyakini lobang Brukung adalah tempat jalan hantu). Di Mendalam mereka berhubungan dengan dengan orang Kayaan, termasuk rombongan Uvat Ubung. Namun dihilir orang Kayaan, ada juga orang Taman, yang disebut Taman Semangkok. Saat ini mereka memiliki dua rumah panjang. dari kedua rumah panjang yang ada sekarang ini, satu yang masih asli, Yakni Semangkok Ulu.

    Melalui orang Kayaan di Mendalam, mereka mengkomunikasikan rencana penyerangan Bala Leju ke orang Kayaan yang berada di Sungai Sibau. Mendengar bahwa bala Leju sudah berada du hulu Kapuas, maka Hanye’ Jaraan menjemput mereka di sana. Hanye’ jaraan tidak langsung ke Lung Bhungan, tapi dia singgah di Naha’ Kaping Tingaang. (Hingga saat ini, lokasi Naha Kaping Tingaang itu belum di jummpai), dihilir Lung Bhungaan, di hulu Nanga Enap saat ini.

    Setelah semua burung amsuk dalam lingkaran rotan, maka bala Leju, membawa anakbuahnya milir Sungai Kapuas. Ketika mereka milir sungai Kapuas, rombongan Leju melihat orang sedang mandi di Naha Kaping Tingaang. Yang mandi adalah Hanye’ Jaraan, dia sengaja membuat kejutan agar bala Leju heboh. Tentu saja bala leju yang sudah dirasuki rasa keberani, setelah mengadakan adat ngayau, melihat Hanye’ Jaraan langsung mau membunuhnya, karena satupun diantara mereka tidak ada yang mengenalnya. Dengan sabar hanye jaraan yang sudah tahu bahawa merka adalah orang Kayan. bertanya ”Dari mana kalian!”. Bala Leju itu terkejut. Mengapa ada orang Kayaan ada ditampat itu.. Mereka menjawab, ”Kami ayo leju”. Hanye’ Jaraan bertanya lagi ”Hii’ pengulaan kayu pelo?’” (Siapa kepala pengayauan kalian?”). Mereka manjawab ”Bo’ Leju”. Mendengar itu Hanye; Jaraan semakin tenang, karena jika bukan pimpimpinan Bo’ Leju maka jiwanya akan terancam. Bo’ Leju yang berada dalam sampan yang diapiti oleh ratusan sampan lainnya itupun terkejut melihat Hanye’ Jaraan yang sudah berada didepannya.

    Hanye” Jaraan meminta agar Bo’ Leju dan ayonya singah di tempat itu. Sementara itu Hanye’ Jaraan kembali ke pondok kecilnya untuk memasang pakain perangnya. Kebetulan ditempat itu ada satu pohon bush sibau hutan (Sejenis rambutan), langsung di potong oleh Hanye’ Jaraan dengan Malaat Kayo-nya. pohon sibau itu menurut narasumber sebesar badang orang dewasa, yang kemudian ditancapkannya di tengah Naha Kaping Tingaang, untuk berteduh. Melihat kelebihan Hanye’ Jaraan, ayo Leju jadi penasaran.

  • in ,

    Kumpulan Cerita Mistis Masyarakat Dayak

    TEROKABORNEO.COM – Indonesia adalah negara yang kaya akan suku bangsa. Setiap suku memiliki keunikannya tersendiri dengan berbagai cerita mistis dan kisah kemasyarakatan yang sangat menarik. Salah satu suku di Indonesia yang sangatlah populer adalah Suku dayak. Sebagai salah satu suku di Indonesia, kita warga negara Indonesia perlu untuk mengetahui mengenai keberadaan suku dayak yang sangat terkenal ini. Suku ini sebenarnya bukan hanya terkenal di Indonesia saja namun juga terkenal di dunia. Keberadaan suku ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Dahulu suku ini sangat ditakuti oleh Belanda karena memiliki kekuatan yang sangat hebat untuk berperang.

    Beberapa cerita mistis ditakuti oleh masyarakat di suku ini adalah sebagai berikut:

    1. Tato

      Tato Yang Digunakan Oleh Pria Dayak

    Hal yang sangat menarik di Suku dayak kalimantan salah satunya adalah tato. Pria suku dayak sangat identik dengan tato. Tato yang ada di tubuh pria dayak memiliki makna yang sangat unik. Semakin banyak tato yang ada di tubuh maka akan semakin tinggi kebanggaan seseorang tersebut. Tato yang ada di tubuh menandakan perjalanan. Semakin banyak tempat yang dikunjungi oleh seorang pria dayak makan akan semakin banyak juga tato yang akan di dapatkan. Suku ini terlihat semakin sangar dengan tato yang dimiliki. Meskipun tatonya tidak berwarna warni namun memiliki gambar yang sangat unik dan berbeda-beda. Anda yang datang ke sana akan semakin terkagum dengan tradisi di sana.

    1. Mandau si pedang mematikan

      Motif Yang Digunakan Pada Mandau

    Hal yang membuat masyarakat selain Suku dayak merasa begitu takut adalah Mandau. Mandau adalah senjata seperti parang atau pedang yang memiliki bentuk unik dan biasanya selalu di bawa oleh pria dayak untuk menjaga diri. Mandau memiliki sarung khusus yang melindunginya. Berdasarkan cerita, Mandau adalah parang yang mematikan dan ketika Mandau dikeluarkan dari sarungnya maka akan harus ada yang terbunuh. Mandau bahkan dikenal bisa terbang sendiri dan mencari sasaran untuk dibunuh. Hal ini dikenakan Mandau memiliki kekuatan magis.

    1. Ilmu gaib racun paser

      Contoh Ritual Racun Paser

    Kengerian yang bisa terjadi di masyarakat Suku dayak adalah adanya ilmu gaib yang memang masih sangat kental di sana. Masyarakat dayak masih banyak yang menganut animism dan memuja roh. Salah satu ilmu gaib yang sangat mengerikan adalah racun paser yang digunakan untuk membunuh. Racun ini hampir seperti ilmu santet karena seseorang bisa mengalami penyakit aneh dan sangat sulit disembuhkan. Racun paser akan menyebabkan seseorang yang terkena akan merasa gatal dan dagingnya seperti dihisap oleh tulang hingga mengering. Rasa gatal bukan hanya dikulit saja namun juga sampai ke tulang. Sakit semacam ini akan sangat mengerikan.

    1. Pasukan hantu atau panglima burung

      Ilustrasi Pasukan Hantu Dan Panglima Burung

    Suku dayak memang memiliki banyak keunikan yang bisa dikatakan cukup menakutkan. Di masyarakat dayak ada sebuah istilah panglima burung yang merupakan pasukan hantu yang sering membantu suku dayak. Pasukan hantu ini pernah membantu masyarakat dayak untuk melawan penjajah Belanda. Karena adanya pasukan burung atau panglima hantu, Belanda sangat takut dan segan dengan suku dayak karena kekuatan gaib dari pasukan hantu benar benar bisa membantu memukul mundur Belanda. Ketika pengunjung datang ke wilayah dayak maka akan sangat terasa sekali aura mistis yang menyelimuti perkampungan tersebut. Masyarakat disana masih sangat banyak berkaitan dengan hal hal gaib. Suku ini adalah salah satu suku indonesia yang sangat terkenal di manca negara sehingga kita patut untuk menjaga dan tetap menghormati agar Indonesia tetap utuh sampai kapanpun.

  • in , , ,

    Kenali Motif Tato Dayak Dan Artinya

    TEROKABORNEO.COM – Indonesia dengan keanekaragaman suku dan budayanya memiliki banyak keunikan tersendiri, salah satunya adalah keunikan motif tato Dayak dari Kalimantan. Bagi suku Dayak, gambar tato memiliki arti dan filososfinya tersendiri. Hal ini erat kaitannya dengan pengalaman-pengalaman yang suku Dayak gambarkan sebagai bentuk pengingat pengalaman pribadi maupun pengalaman spiritual.

    Sebagian besar tato yang dilukis nyaris menutupi seluruh anggota tubuh, bahkan ada juga yang mempunyai tato diseluruh anggota tubuh. Maka tak perlu terkejut jika memasuki perkampungan suku Dayak kemudian berjumpa dengan orang-orang tua baik pria maupun wanita yang memiliki berbagai macam tato unik diberbagai bagian tubuhnya.

    Gambar motif tato Dayak bukan sekedar hiasan saja, gambar-gambar ini memiliki arti dan makna yang sangat mendalam.

    Tato ditubuh pria suku Dayak adalah sebagai simbol dari segala hal yang berkaitan dengan: Tanda inisiasi, simbol kekuatan magis, religi, pengobatan, kenangan perjalanan ataupun catatan kehidupan.

    Tapi, arti yang paling mendalam dari gambar motif tato Dayak tersebebut bagi mereka adalah bukti kelaki-lakian yang tahan akan penderitaan.

    Sedangkan tato ditubuh wanita suku Dayak adalah sebagai simbol yang menandakan bahwa wanita tersebut sudah dewasa. Ada juga gambar tato yang berfungsi sebagai penjaga dari roh-roh jahat dan sebagai penolak sakit.

    Dalam hal motif, motif tato Dayak dari kalimantan penuh dengan simbol serta filosofi. Mitologi Dayak dalam sketsa menampilkan sosok-sosok makhluk hiddup dalam bentuk yang abstrak. Penempatan suatu motif disuatu bagian tubuh juga memiliki maknanya tersendiri.

    Bagi orang Dayak, tato lebih dari sekedar gaya hidup semata. Tato di tubuh bisa menjelaskan beberapa hal, seperti: Bagian dari tradisi religi, status sosial, penghargaan terhadap kemampuan atau jasa yang pernah diraih, ahli dalam ilmu pengobatan dan menandakan seseorang sering mengembara.

    Pembuatan Motif Tato Dayak

    Alat Tato Yang Digunakan Oleh Dayak Ngaju

    Motif tato Dayak dari Kalimantan dulu dibuat dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar. Seperti jelaga dari lampu pelita atau arang periuk serta kuali, dipergunakan sebagai pewarnanya. Bahan-bahan tersebut kemudian dikumpulkan, lalu dicampurkan dengan gula kemudian diaduk sampai sedemikian rupa.

    Dengan menggunakan duri dari pohon jeruk yang ukurannya cukup panjang dan tingkat ketajaman yang mencukupi jika dipergunakan sebagai alat merajah. Duri tersebut bisa digunakan atau dijepitkan ketangkai kayu untuk pegangan sehingga menyerupai dalam menggunakannya.

    Setelah itu duri pohon jeruk dicelupkan pada tinta berbahan jelaga dan gula, kemudian pentato menusukkan duri ke kulit sesuai motif tato dayak yang ingin dibentuk.

    Ketika motif tato dayak yang dibuat terlalu rumit, proses perajahan bahkan bisa memakan waktu seharian. Bekas tusukan duri pohon jeruk tersebut bisa berakibat pada pembengkakan dan mengeluarkan darah. Bahkan bisa menyebabkan demam 1 sampai 2 hari.

    Seiring perkembangan zaman, pembuatan motif tato dayak sudah menggunakan jarum. Bahan yang digunakan juga sudah bukan jelaga lagi, karena sudah ada alternatif lain, yaitu tinta.

    Tinta sebagai bahan pewarna terdiri dari 2 bentuk, batu arang dan cair. Jika yang digunakan batu arang, makan sebelum digunakan harus digosok kemudian dicampurkan air.

    Motif tato Dayak hanya memiliki satu warna, yaitu hitam kebiru-biruan dengan gambar yang khas buatan tangan. Sedangkan tato zaman sekarang sudah jauh lebih rapih dan memiliki banyak varian warna berkat peralatan mesin dan tintanya.

    Makna Motif Tato Dayak

    Koleksi Tato Dayak Iban

    Panglima perang Dayak (Panglima Damai), Edy Barau mengatakan. Motif yang digunakan masyarakat dayak, khususnya Dayak Iban untuk mengukir tubuh berhubungan erat dengan kehidupan di alam (hutan)

    Dengan demikian, motif tato dayak ada yang berasal dari binatang maupun tumbuhan, bunga dan buah. Semua ini memiliki arti dan makna bagi suku Dayak.

    Menurut Edy, ada tujuh bentuk motif tato dayak yang berhubungan erat dan sering digunakan dalam masyarakat Dayak Iban. Selain itu, untuk tempat atau lokasi untuk mengukir gambar tidak boleh sembarangan.

    Ketujuh motif tato Dayak itu adalah: Motif rekong, bunga terong, ketam, kelingai, buah andu, bunga ngakabang atau bunga tengkawang dan bunga terung keliling pinggang. Masing-masing motif ini memiliki makna yang berbeda-beda.

    1. Motif Rekong

    Contoh Penempatan Tato Rekong

    Motif Rekong biasanya diukir pada leher. Bagi suku Dayak Iban, seseorang yang mendapat ukiran rekong adalah orang yang mempunyai kedudukan dimasyarakat. Seperti Timanggong/Temanggung dan panglima perang. Ataupun orang yang dianggap sesepuh di kampung halamannya sendiri, maupun di tempat merantau.

    Motif rekong juga berbeda-beda bentuknya, tergantung dari jabatan dan kedudukan. Selain itu, antara sub suku Dayak yang satu dengan yang lainnya juga memiliki motif rekong yang berbeda. Tapi, tetap memiliki makna yang sama.

    Untuk motif rekong sendiri biasanya berupa gambar sayap kupu-kupu, kalajengking dan udang. Intinya lebih cenderung berbentuk binatang-binatang.

    Sub suku Dayak yang biasanya memiliki motif rekong adalah Dayak Kayan, Dayak Iban dan Dayak Taman. Sementara masyarakat Dayak biasa yang memiliki tato rekong di leher akan dikenakan hukuman adat. Namun sekarang hukum ini sudah tidak berlaku lagi, karena sebagian suku Dayak memandangnya sebagai seni saja.

    2. Motif Bunga Terong

    Motif Tato Bunga Terong

    Bunga terong adalah kebanggaan suku Dayak Iban, kalimat “Bunga terong sudah naik” atau yang memiliki arti “orang itu sudah profesioanal” sering diucapkan masyarakat Iban.

    Umumnya motif tato bunga terong diukir pada bahu, sehingga bunga terong juga memberi makna pangkat atau kedudukan.

    Bentuk dan jenis bunga terong yang digunakan juga ada berbagai macam, letak pengukirannya pun berbeda-beda. Ada tato bunga terong yang diukir pada bagian lengan, tangan, kaki dan perut. Ada juga yang mengukir seluruh tubuhnya dengan motif tato bunga terong.

    3. Motif Ketam

    Tato Ketam

    Motif ketam memberikan arti hidup selalu menyentuh alam. Meski begitu, ketam biasanya diukir pada bagian tubuh belakang atau tepatnya di daerah punggung.

    4. Motif Kelingai

    Tato Kelingai Pada Bagian Betis

    Motif kelingai melambangkan binatang yang ada di lubang tanah. Motif ini juga memberikan arti hidup kita tidak pernah lepas dari alam ataupun bumi.

    Motif kelingai biasanya di ukir pada bagian pada atau betis.

    5. Motif Buah Andu

    Motif Tato Buah Andu

    Motif buah andu biasanya diukirkan pada bagian belakang paha, maknanya adalah ketika merantau kita orang Dayak selalu berjalan jauh. Buah andu juga makanan untuk penyambung hidup. Jadi, motif ini juga memiliki arti kehidupan.

    6. Motif Bunga Ngkabang atau Bunga Tengkawang

    Dayak Iban

    Motif bunga ngkabang atau bunga tengkawang juga memiliki arti sumber kehidupan. Bunga tengkawang adalah bunga yang paling banyak di tempat asal suku Dayak Iban. Ukiran ini biasanya ada di atas perut.

    7. Motif Bunga Terung keliling pinggang

    Motif bunga terung keliling pinggang ada yang memiliki jumlah kelopak enam ada juga yang berjumlah delapan. Seorang masyarakat Dayak Iban yang memiliki bunga terung keliling pinggang biasanya memakai bunga yang memiliki delapan kelopak.

    Biasanya orang Dayak yang memiliki motif ini sudah puas merantau atau sudah pernah merantau ke berbagai tempat.

    Makna Motif Tato Dayak yang Lain

    Masih ada berbagai macam motif tato dayak lain yang juga memiliki makna yang mendalam, seperti:

    1. Kelatan, biasanya motif ini diukir pada bagian leher. artinya yang merupakan hiasan bagi kaum wanita.
    2. Telingkai puntul, motif ini biasanya diukir pada bagian kiri atau kanan badan bagian bawah. Artinya bahwa kelamin pria dipasang alat perangsang dalam hubungan intim.
    3. Telingai besai, motif ini merupakan tanda bagi orang yang benyak berjalan jauh atau pengembara.
    4. Tali sabit dan tali gasing, kedua motif ini biasanya ada pada bagian pergelangan tangan, motif memiliki arti seperti perhiasan.
    5. Tebulun, motif ini biasanya terdapat pada bagian belakang ibu jari. Arti dari motif ini adalah orang yang suka membantu dalam mengayau, untuk kamu wanita paintar bertenun atau rajin.

    Sekarang ini, hanya sebagian kecil suku Dayak yang masih mempertahankan budaya ini. Semoga dengan artikel ini, motif tato Dayak di Kalimantan masih bisa terus diingat dan bisa menjadi pengingat generasi selanjutnya. Bahwa di Indonedia terdapat tato tradisional tertua di dunia, bahkan lebih tua dari tato mesir. Yaitu tato tradisional suku Dayak dari Kalimantan.

  • in , , ,

    Dayak Ngaju Suku Asli Kalimantan Tengah

    TEROKABORNEO.COM – Suku Dayak Ngaju adalah suku dayak yang terbesar yang berdiam di daerah sungai Khahayan, Kapuas  dan katingan. Reliigi suku ini sudah di teliti secara mendalam. Tentang leluhur asal usul Dayak Ngaju dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan sejarah tentang orang Dayak Ngaju. Dalam sejarahnya leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian Selatan, tepatnya di Cina Barat Laut berbatasan dengan Vietnam sekarang. Mereka bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia (Provinsi Yunan, Cina Selatan) sekitar 3000-1500 SM.

    Menurut Tetek Tatum leluhur orang Dayak Ngaju merupakan ciptaan langsung Ranying Hatalla Langit, yang ditugaskan untuk menjaga bumi dan isinya agar tidak rusak. Dan Leluhur Dayak Ngaju diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau (Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan Ancak atau Kalangkang) diturunkan dari langit ke dalam dunia ini di empat tempat berturut-turut melalui Palangka Bulau, yaitu:

    1. Tantan Puruk Pamatuan di perhuluan Sungai Kahayan dan sungai Barito, Kalimantan Tengah, maka inilah seorang manusia yang pertama yang menjadi datuknya orang-orang Dayak yang diturunkan di Tantan Puruk Pamatuan, yang diberi nama oleh Ranying (Tuhan YME) : Antang Bajela Bulau atau Tunggul Garing Janjahunan Laut. Dari Antang Bajela Bulau maka terciptalah dua orang laki-laki yang gagah perkasa yang menteng ureh mamut bernama Lambung atau Maharaja Bunu dan Lanting atau Maharaja Sangen.
    2. Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting (Bukit Kaminting), Kalimantan Tengah oleh Ranying (Tuhan YME) terciptalah seorang yang maha sakti, bernama Kerangkang Amban Penyang atau Maharaja Sangiang.
    3. Datah Takasiang, perhuluan sungai Rakaui (Sungai Malahui, Kalimantan Barat, oleh Ranying (Tuhan YME) terciptalah 4 orang manusia, satu laki-laki dan tiga perempuan, yang laki-laki bernama Litih atau Tiung Layang Raca Memegang Jalan Tarusan Bulan Raca Jagan Pukung Pahewan, yang seketika itu juga menjelma menjadi Jata dan tinggal di dalam tanah di negeri yang bernama Tumbang Danum Dohong. Ketiga puteri tadi bernama Kamulung Tenek Bulau, Kameloh Buwooy Bulau, Nyai Lentar Katinei Bulau.
    4. Puruk Kambang Tanah Siang (perhuluan Sungai Barito, Kalimantan Tengah oleh Ranying (Tuhan YME) terciptalah seorang puteri bernama Sikan atau Nyai Sikan di Tantan Puruk Kambang Tanah Siang Hulu Barito.[1]

    Susunan dan Tingkatan Masyarakat

    Pada masa lampau masyarakat Dayak Ngaju memiliki susunan dan tingkatan strata sosial dalam masyarakatnya yaitu:

    • Kepala Kampung, yang dimasa kolonial tugasnya hanya melaksanakan perintah pegawai kolonial, dengan tugas utama menarik pajak dan mendayung perahu bagi para pegawai kolonial, apabila mengunjungi kampung lain, mengakibatkan terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Ada kaum bangsawan dan ada orang-orang pantan.
    • Orang-orang Pantan, adalah penduduk asli yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari diusahakan sendiri. Kewajiban mereka mematuhi perintah pimpinan, serta wajib menyediakan tenaga sukarela apabila dibutuhkan pimpinan. Disini jelas nasib mereka banyak tergantung kepada kepribadian pimpinan mereka.
    • Orang-orang Merdeka adalah keluarga jauh para Kepala Kampung. Mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun tetap harus menyediakan tenaga secara sukarela apabila dibutuhkan oleh pimpinan demi kepentingan umum.
    • Orang-orang Jipen, adalah golongan budak. Para Jipen sama sekali tidak memiliki harta benda, seluruh kebutuhan hidupnya disediakan oleh majikannya. Para Kepala Kampung, orang-orang merdeka, orang-orang pantan diizinkan mempunyai jipen. Jipen berasal dari orang-orang yang kalah perang dan tak sanggup melunasi hutang-hutangnya. Apabila para jipen telah sanggup melunasi utangnya, maka kemerdekaan akan mereka peroleh. Akan tetapi bila hingga akhir hayat utang belum mampu mereka lunasi, maka anak keturunannya akan tetap menjadi jipen, yang biasa disebut “utus jipen”, sampai utang yang ada dilunasi.
    • Orang-orang Abdi adalah orang-orang yang dibeli.
    • Orang-orang Tangkapan atau Tawanan.
    • Orang-orang Tamuei atau Orang Asing, mereka bukan penduduk asli.

    Keyakinan Terhadap Dewa

    Menurut keyakinan suku Ngaju, ada dua tokoh dewa yang tertinggi yaitu Mahatala dan jata. Mahatala juga disebut hatala atau Lahatala. Memiliki sebuatan yang lain juga  umpamanya Mahatara atau Bahtara. Nama aslinya adalah Tingang (burung enggang atau rangkok).

    Jata memiliki nama asli Tambon, yang juga sering disebuut Bawin jata Balawang Bukau, artinya wanita jata perpintuka Permata. Cerita tentang kedua dewa ini saling bertentangan. Ada yang menyatakan behwa kedua dewa ini ada sejak semula, tanpa ada yang menjadikan tetapi ada juga yang menyatakan bahwa keduanya terjadi karena sentuhan dua bukit. Mana yang benar sukar untuk ditentuakan.

    Mahatala bersemayam di atas yaitu alam diatas alam kediaman manusia. Alam diatas ini merupakan pencerminan alam tempat kediaman manusia, namun disana segala sesuatu berada dalam keadaan lebih indah dan lebih berkelimpahan dari pada keadaan di dunia manusia. Jata bersemanyam di alam bawah yaitu alam di bawah kediaman manusia. Disitu hidup bersama-sama dengan rakyatnya yang terdiri dari para buaya. Dibawah alam ini buaya perwujudan seperti manusia. Akan tetapi jika mereka meninggalkan alam bawah itu  baik untuk menolong manusia atau membianasakannya  mereka menampakan diri seperti buaya (bagi suku Ngaju buaya adalah binatang suci yang tidak boleh dibunuh kecuali jika ia membunuh seorang anggota keluarga).

    Kedua dewa ini menampakkan diri kepada manusia dalam perwujudan emblem atau simbol. Mahatala menampakkan diri dalam bentuk burung dan Jata menampakkan diri dalam bentuk naga. Sering kali kedua dewa ini digambarkan oleh satu kesatuan dalam suatu perwujudan, baik perwujudan burung elang yang bersisik, atau seekor burung naga yang berbulu burung enggang. Oleh karena itu kedua dewa ini dapat dipandang sebagai satu kesatuan yang dwitunggal (artinya 2 menjadi 1). Suatu dwitunggal, suatu totalitas yang memiliki dua sifat yang saling bertentangan  yaitu yang menyatukan diri dalam satu bentuk yaitu sifat baik dan jahat, hidup dan mati, demikian juga gelap serta terang.

    Kecuali kepada kedua tokoh ini suku ngaju juga percaya akan banyak roh yang baik da yang jahat. Ada yang dipandang sebagai pembantu alam atas aa yang dipandang sebagai pembantu alam bawah. Roh roh itu dalah :

    1. Raja Pali atau Nyaro (nguntur petir) bertindak sebagai pembalas yang menghukum pelanggar adat atau aturan-aturan Pali. Ole karena itu dia dipandang ikut serta dalam persidangan hukum adat. Ia memberi keputusan melalui ketua adat yang mengepalai persidangan. Ia dihubungkan dengan alam atas
    2. Raja Ontong yang menjadi sumber keselamatan dengan memberi rejeki dan kemakmuran.
    3. Raja sial adalah roh yang mendatangkan kecelakaan dengna memberikan kerugian , kematian dan sebagainya, orang hanya dapat dibebaskan oleh kesialan itu melaui upacara-upacara penyucian besar kedua roh ini raja ontong dan raja sial) dihubungkan dengan alam atas yaitu yang mengungkap kedua hubungan kedua alam tersebut.
    4. Raja puru atau peres yang menjadi sumber penyakit. Terlebih-lebih penyakit yang menular.
    5. Raja Hanteun yang menjadi sumber kerusuhan ia sering mengganggu manusia dengan sihirnya yang dilakukan dengan perantara dukun, kedua roh ini ( raja puru dan Hanteun dihubungkan dengan alam bawah dan jata).

    Kecuali gambaran tersebut ada gambaran bahwa dunia ini berbentuk lingkaran yang dilingkari oleh naga dengan menggigit ekor nya sendiri. Maksud gambaran gambaran itu ialah bahwa dunia ini didukung oleh dewa dan bahwa manusia hidup dibawah naungan, perlindungan, damai dan keselamatan dari dewa. Manusia hidup di tanah suci yang dimiliki oleh mahatala dan jata.

    Sistem Religi

    Agama yang dianut oleh masyarakat dayak ngaju adalah Hindu kaharingan sebagai agama leluhur mereka. Ngaju memandang diri mereka dilahirkan dari Mahatala dan Jata dan hidup seutuhnya dari kedua tokoh dewa ini . kedudukan suku dipandang dengan kedudukan seluruuh alam semesta, yang keberadaannya disebabkan oleh kedua desa tersebut. Suku Ngaju adalah suku yang suci. Mereka berada karena dikehendaki oleh dewa-dewa dan tata tertib kehidupannya dalah tata tertib ilahi. Bahkan dapat dikatakan bahwa suku ngaju adalah dewa-dewa. Persiapan bagi pesat kematian ini sering dilakukan hingga berbulan-bulan yaitu dengan mendirikan tempat untuk upacaranya. Membuat tempat pemakamn yang tetap, berebelanja, menumbuk padi dan membuat minuman. Ini disebabkan akan mendapatkan tamu banyak (kadang-kadang sampai 2000 orang).

    Pesta berlangsung sampai tujuh hari tetapi pekarjaan yang harus dilakukan imam sering berlangsung hingga 33 hari. Harus mengadakan persiapan simbolis dengan memanjatkan puji-pujian, didalam puji-pujian itu digambaran bagaimana sangiang dijemput dan bagaimana mereka bersama dengan pra imam mendirikan tempat upacara dan tempat pemakaman yang tetap (sanding). Sesudah pesat selesai para imam harus juga menyucikan orang-orang yang terllibat dalam pesta itu dan menghantarkannya para sangiang kembali kealam atas.

    Tiga hari sebelum tiwah dimulai orang menjemput yang wafat mula-mula dimakamkan untuk sementara waktu diluar desa. Dengan suatu pawai tulang-tulang sang wafat yang berada di peti dibawa ke balai tempat penempatan peti-peti itu. Peti itu dihias dengan mutiara bulu burung panji-panji, anyaman-anyaman halus. Sedangkan didepan peti jenazah diletakkan harta pustaka kerabat yang berharga, upamanya bejana suci, tobak, pedang, dsb. Sesudah peti-peti jenazah ditempatkan dibalai seluruh desa dan sungai dinyatakan najis. Dimulailah pali selama tujuh hari. Desa dianggap tertutup bagi dunia luar. Karena diliputi oleh kesialan, maka orang asing tidak boleh memasukinya. Perbatan desa diberi rintangan berupa rotan sebagai tanda bahaya. Plali berlangsung hingga hari kelima dari pesta itu.

    Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.

    Mereka lebih memilih dan berpindah ke budaya asing yang belum tetntu sesuai dengan keperibadian bangsa bahkan masyarakat lebih merasa bangga terhadap budaya asing daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri..Tanpa mereka sadari bahwa budaya daerah merupakan faktor utama terbentuknya kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang mereka miliki merupakan sebuah kekayaan bangsa yang sangat bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestarian dan keberadaanya oleh setiap individu di masyarakat.

    Pada umumnya mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebudayaan merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada didalalmnya.Besar harapan saya, semoga dengan dibuatnya makalah yang berjudul Budaya Suku Dayak  yang didalamnya membahas tentang kebudayaan yang berasal dari daerah Kalimantan ini menjadi salah satu sarana agar masyarakat menyadari betapa berharganya sebuah kebudayaan bagi suatu bangsa, yang ahirnya akan membuat masyarakat menjadi lebih tau dan mengenal akan budayanya  sehingga merasa bangga terhadap budaya daerahnya sendiri.

  • in , , ,

    Jenis-Jenis Ornamen Suku Dayak

    TEROKABORNEO.COM – Motif seni lukis suku Dayak adalah merupakan perpaduan antara suatu pola dasar yang memiliki artinya masing-masing, kemudian dikreasikan dalam berbagai perpaduan beberapa motif dasar sehingga menjadi satu kesatuan rangkaian makna yang berarti. Motif atau ornamen suku dayak itu sendiri biasanya diambil dari bentuk binatang (burung enggang/tingang, naga, anjing, dan lain-lain), tanaman/bunga, wajah manusia, dan lain-lain.
    Motif atau ornamen seni lukis suku Dayak seringkali digunakan dalam perpaduan baik itu seni lukis tubuh / tato ataupun berbagai lukisan kemudian ukiran dan pahatan pada rumah adat (rumah betang), properti kesenian daerah/alat musik tradisional (contohnya sape/kecapi), senjata (mandau, sumpit, telawang), topeng/bukung, serta sulam/rajutan pada busana adat (baju kapuak yang terbuat dari kulit kayu), dan lain-lain. Berikut ini beberapa contoh motif seni lukis suku Dayak.

    Seni Ukir Pada Rumah Dayak

    Ukiran Motif Dayak Pada Rumah Masyarakat Dayak

    Motif Manik Pada Kain

    Seni Kerajinan Manik Kalimantan

    Motif Pada Pakaian Adat

    Motif Pada Pakaian Adat Dayak

    Motif Pada Topeng

    Motif Yang Digunakan Pada Topeng

    Motif Pada Tameng Atau Perisai

    Motif Yang Digunakan pada Tameng atau Perisai

    Motif Pada Senjata Atau Mandau

    Motif Yang Digunakan Pada Mandau
Load More
Congratulations. You've reached the end of the internet.