in , , ,

Multikulturalisme dalam Pergelaran Akulturasi Budaya Kalimantan Barat 2017

Akulturasi Budaya Kalimantan Barat
Akulturasi Budaya Kalimantan Barat 2017 (foto: [email protected]_jogja)

TEROKABORNEO.COM – Pada tanggal 28 Oktober 2017 lalu telah diadakan sebuah event kebudayaan yang diberi nama Akulturasi Budaya Kalimantan Barat (ABKB). Seperti judulnya, acara yang digagas oleh @Bujangdare_jogja ini merupakan event yang mengangkat seni dan budaya yang ada di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat. Acara ini sesungguhnya telah beberapa kali digelar dan di tahun 2017 ini merupakan tahun penyelenggaraan untuk kali ketiga di kota Yogyakarta.

@Bujangdare_jogja sendiri merupakan sebuah komunitas atau perkumpulan mahasiswa/pelajar asal Kalimantan Barat yang saat ini berada di Yogyakarta. Pagelaran seni budaya ini mereka maksudkan sebagai ajang untuk berkumpul dan saling bersilahturahmi antar seluruh teman-teman se-Kalimantan maupun dari luar Kalimantan yang ada di Yogyakarta. Fajar Budianto selaku ketua panitia acara menyebutkan bahwa tema acara ABKB adalah “Liburan ke rumah kawan”, sehingga setting venue dan dekorasinya berusaha dirancang sedemikian rupa agar mampu menghadirkan suasana “kampung halaman” (baca: Kalimantan Barat). Hal ini memang terlihat dari sajian makanan yang dijajakan di sana. Pengunjung yang datang bisa langsung mampir untuk mencicipi makanan seperti bubur pedas, korket, temet/kerupuk basah, bingke, bakwan, es rujak, chaikue, dan lain lain. Deretan makanan ini sendiri memang merupakan representasi dari kuliner khas Kalimantan Barat.

Disinggung mengenai persiapan acara, Fajar mengaku banyak melibatkan teman-teman dari Kalimantan Barat dan juga dari luar Kalimantan. “Alhamdulillah untuk panitia yang terlibat mayoritas merupakan kawan-kawan dari Kalimantan Barat, tapi ada juga kawan-kawan dari luar (luar Kalbar), yang juga berpartisipasi karena mereka peduli terhadap budaya, jadi kita libatkan di dalamnya, kami tidak menutup ruang itu, silahkan saja”.

Sehubungan dengan semangat multikulturalisme yang mereka (panitia) bawa, Fajar menambahkan bahwa akulturasi sangat mungkin dilakukan dan dapat membawa dampak yang lebih besar ke depannya. “Kita juga mau menunjukkan bahwa masih Event yang kita menggabungkan kebudayaan di Kalbar dan luar Kalbar, karena kita mengambil konsep akulturasi Dayak, Cina, Melayu, dan Jawa (Yogyakarta), mungkin kedepannya nanti akan lebih besar tidak hanya Jogja tapi dari manapun apabila ingin bergabung, kami persilahkan dan selalu buka peluang untuk hal itu.” Ungkapnya.

Penampilan Delacroix dan Jemek Supardi di ABKB 2017.

Benar saja, sejak dimulai dari jam 14.00 WIB, acara yang mengambil tempat pelaksanaan di daerah Banguntapan, Bantul, tepatnya di Sumber Roso Nuansa Ndeso, Jl. Wonosari, Yogyakarta ini mulai terlihat ramai. Para talent pengisi acara secara bergantian menghibur para pengunjung yang ingin melihat dan merasakan “atmosfer” musik tradisional dan kontemporer a la Kalimantan. Saat hari semakin gelap nuansa meriah pun mulai terasa kala kerlap-kerlip lampu panggung pertunjukkan mulai menyala dan menghiasi malam itu. Sembari duduk menikmati kuliner di muka panggung kita sesekali disuguhkan petikan instrumen Sape’ Dayak dan merdunya gesekan alunan biola nuansa melayu yang syahdu diselingi tabuhan drum dan nyanyian merdu. Tidak berlebihanlah rasanya jika sejenak kita seakan dibuai lamunan seakan berada di Kalimantan. Tak hanya itu, mata kita juga dimanjakan oleh tari-tarian melayu dan jawa yang kreatif nan ciamik. Sekalipun acara sempat diselingi rintik hujan dan membuat acara terhenti sejenak namun tetap tak menyurutkan antusiasme pengunjung dalam semarak “pesta kebudayaan” yang satu ini.

Suasana acara Akulturasi Budaya Kalimantan Barat 2017. Yogyakarta.

Ditemui di belakang panggung pertunjukkan, Delacroix sebagai salah satu penampil yang kami wawancarai menyatakan senang dapat berpartisipasi dalam acara ini. Alex dan Adi (personel Delacroix) merasa sangat berterimakasih kepada panitia penyelenggara yang telah menginisiasi kolaborasi mereka dengan salah satu seniman senior Yogyakarta Jemek Supardi. Selebihnya mereka berharap agar acara ini dapat terus terselenggara setiap tahunnya agar dapat menjadi ajang mengapresiasi karya seni, dan membangkitkan animo para pemuda Kalimantan untuk giat mempelajari dan menghayati tradisi seni budaya itu sendiri.

Hal senada diungkapkan pula oleh Fajar Budianto, ia beranggapan apabila antusiasme pengunjung tidak menutup kemungkinan acara ini akan menjadi acara tahunan. “InsyaAllah kami ingin acaranya bisa lebih besar dan menjadi acara tahunan, jika melihat respon teman-teman yang hadir (antusias), kami pun optimis dan berusaha menghadirkan lagi acara seperti ini, tentu berkat support dari kawan-kawan semua.”

Dukungan, support dan kerjasama dari berbagai pihak memang senantiasa diperlukan dalam menyukseskan acara-acara seperti ini, hal ini juga yang disorot oleh Fajar. “Kita juga melihat swadaya (kemandirian) dari teman-teman di sini sangat baik, karena memang mau peduli sama budayanya, jadi ada teman-teman yang berwirausaha di Jogja, dan Pemda Kalbar juga mau mendukung, berkat merekalah acara ini dapat terlaksana.” Tak lupa ia menyampaikan kepada masyarakat bahwa lewat acara seperti ini, mereka (anak muda Kalimantan) mau menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap budayanya, peduli terhadap tradisi kampung halaman nun jauh di sana walaupun diterpa oleh era modernitas seperti sekarang ini. -DHR

What do you think?

9 points
Upvote Downvote

Total votes: 13

Upvotes: 11

Upvotes percentage: 84.615385%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 15.384615%

Alat Musik Khas Kalimantan

5 Alat Musik Khas Kalimantan Yang Perlu Kita Jaga

Tempat Wisata Di Kalimantan Barat

Tempat Wisata di Kalimantan Barat Surga yang Tersembunyi