in

Asal-Usul Dayak Meratus

Asal-Usul Dayak Meratus
sumber: pustaka.my.id

TEROKABORNEO.COM – Asal-Usul Dayak Meratus. Terminologi Dayak atau Daya (Ejaan lama: Dajak atau Dyak) umumnya memiliki beberapa pemaknaan berbeda. Di dalam buku karangan Ch. F.H Duman, Dayak merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk kepada penduduk asli pulau Kalimantan (Duman, 1924). Di lain sumber, terminologi Dayak merujuk kepada penduduk asli pulau Kalimantan yang tidak beragama Islam (King, 1993, dikutip Klinken 2006:28). Secara garis besar dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Dayak merupakan suku ataupun penduduk asli pulau Kalimantan.

Dayak sendiri sebenarnya memiliki berbagai macam sub-suku di dalamnya, antara lain: Ngaju, Kayaan, Ot danum, Iban, Meratus dsb. Umumnya, berbagai sub-suku Dayak tersebut memiliki banyak persamaan dalam hal kebudayaannya. Meskipun demikian, masing-masing sub-suku memiliki bahasanya masing-masing. Selain itu, antar sub-suku Dayak umumnya tidak saling memahami satu sama lain dikarenakan faktor geografis dan sosio-kultural masyarakat Dayak.

Di Kalimantan Selatan, sebagian besar orang Dayak tinggal di pegunungan Meratus. Orang Dayak yang tinggal di pegunungan Meratus tersebut juga memiliki beberapa penamaan yang berbeda. Orang Banjar yang merupakan tetangga dan etnis dominan di daerah tersebut biasanya menyebut mereka dengan istilah “Orang Bukit” (Radam, 2001). Sedangkan bagi Pemerintah Indonesia, khususnya Orde Baru menyebut mereka dengan istilah “Suku Terasing”, istilah yang digunakan/digagas oleh para antropolog Indonesia sendiri (Koentjaraningrat dkk, 1993).

Dikarenakan dua terminologi tersebut (“Orang Bukit” maupun “Suku Terasing”) cenderung tidak
menguntungkan, Anna Lowenhaupt Tsing, antropolog berkebangsaan Amerika menggunakan istilah “Orang Meratus atau Suku Meratus.” Istilah tersebut ia gunakan selama kurang lebih dua tahun (1979-1981) pada saat melakukan penelitian di daerah tersebut (Badingsanak Banjar-Dayak, hal, 25). Istilah Dayak Meratus awalnya digagas oleh Bingan Sabda, orang setempat yang menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta – sederhananya istilah tersebut merujuk kepada daerah tempat tinggal mereka, yakni pegunungan Meratus (Tsing 1998:69).

Meski demikian, orang Meratus lebih sering mengidentifikasi dirinya menggunakan nama kampung tempat tinggalnya. Hal tersebut tidak mengejutkan mengingat adanya kesenjangan antar kelompok orang-orang Meratus sendiri. Orang Meratus lebih senang mengidentifikasi diri sesuai dengan nama daerah tempat tinggal, nama sungai ataupun berdasarkan hubungan ketetanggaan/kekerabatan (neighborhood).

Pengidentifikasian tersebut berkaitan erat dengan sistem sosio-kultural orang Meratus yang berdasarkan relasi kekeluargaan atau bubuhan. Bubuhan merupakan kumpulan dari umbun-umbun
yang terdiri dari keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak). Bubuhan dibentuk berdasarkan garis keturunan atau kesamaan teritorial. Umumnya, bubuhan mendiami balai atau rumah panjang dengan ukuran mencapai 30 meter dan lebar 10 – 15 meter. Setiap umbun-umbun tinggal di dalam bilik-bilik di dalam balai/rumah panjang tersebut.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

-9 points
Upvote Downvote

Total votes: 27

Upvotes: 9

Upvotes percentage: 33.333333%

Downvotes: 18

Downvotes percentage: 66.666667%

Masih Adakah Lembaga Sosial Yang Peduli Akan Kaumnya

Masih adakah Lembaga Sosial yang Peduli akan Kaumnya ?

Artis Dalam Balutan Busana Dayak

Artis Dalam Balutan “Busana” Dayak, Siapa Saja Mereka?