in ,

Batu Kelam Menjadi Magnet Pariwisata Dunia(?), Mungkinkah?

Batu Kelam
Batu Kelam Ikon Pariwisata Kota Sintang (sumber: Borneo Channel)

TEROKABORNEO.COM – Baiklah judul ” Batu Kelam Menjadi Magnet Pariwisata Dunia ” mungkin memang terkesan terlalu dipaksakan, baik untuk menjadi judul sebuah artikel ataupun menyangkut pertanyaan/pernyataan yang dibawanya sendiri. Akan tetapi segala sesuatu yang menyangkut dengan “perubahan” hampir selalu berangkat dari awang-awang, sesuatu yang belum pernah diimajinasikan akan terjadi sebelumnya.

Untuk banyak orang di luar sana terutama yang bukan berasal dari Kalimantan khususnya Kalimantan Barat mungkin masih asing dengan nama Batu Raksasa Kelam (selanjutnya kita sebut Batu Kelam saja), kecuali bagi para traveler yang gemar melakukan perjalanan ke banyak tempat dan mengetahui ihwal ikon pariwisata kebanggaan masyarakat Sintang yang satu ini.

Mengenai Batu Kelam sendiri ada beberapa hal yang menjadikan ia begitu unik dan menjadi cukup menarik bagi saya untuk sedikit mengulasnya.

Batu Kelam, Gunung atau Bukit?

Batu Kelam merupakan bongkahan batu raksasa monolit dengan ketinggian yang mencapai 1.002 Mdpl (meter di atas permukaan laut). Dengan kriteria ketinggian yang dimilikinya tersebut menurut beberapa definisi rujukan ilmu geografi, Batu Kelam dapat dikategorikan sebagai sebuah gunung! Jadi tidaklah tepat jika kita menyebut Kelam sebagai bukit seperti yang disematkan oleh banyak orang selama ini.

Suatu tonjolan yang ada di permukaan bumi yang memiliki ketinggian minimal di atas 600 meter di atas permukaan laut (Mdpl) layak untuk disebut sebagai gunung. Sedangkan tonjolan yang tidak melebihi 600 Mdpl dan memiliki ketinggian minimal 200 Mdpl bisa kita kategorikan sebagai bukit saja, sehingga tentu saja menyebut kelam sebagai bukit sekali lagi tidaklah relevan.

Namun jika ditelusuri lebih jauh definisi-definisi yang ada juga tak satupun yang benar-benar pas untuk menyebut Kelam sebagai gunung!? Loh jika bukan bukit maupun gunung lantas harus disebut apakah landmark raksasa ini?

Batu Kelam
Penampakan Batu Kelam dari Google Earth (Sumber: Surya Warman Kontributor Wikipedia Indonesia)

Gunung atau bukit terbentuk karena proses alam berupa gaya tektonik yang mempertemukan tumbukan antar lempeng tektonik yang satu dan yang lainnya. Proses ini sendiri telah dan terus berlangsung dalam perut bumi selama puluhan hingga ratusan juta tahun yang lalu hingga saat ini. Tentu saya tidak akan membahas hal ini panjang lebar karena saya bukan pakar yang mengerti dan paham betul tentang ilmu alam. Satu hal yang pasti berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ilmuan dari negara Perancis dan Jerman yang berkesimpulan batu Kelam merupakan batu meteor yang jatuh ke bumi pada zaman dulu, melihat bahwa unsur batuan yang dikandungnya mirip dengan batuan meteorit umumnya. Banyaknya batu sejenis yang berserak di sekitarnya diduga kuat merupakan pecahan dari batu Kelam raksasa saat menghantam keras permukaan tanah.

Saya sendiri kesulitan untuk mendapatkan informasi akurat dari penelitian yang telah dilakukan tersebut sehingga tidak dapat membagikannya disini, namun atas dasar ini saja cukup tepatlah bagi kita untuk mulai menggunakan istilah Batu Kelam atau jika ingin di-rebranding sebagai sebuah calon “merek” pariwisata berkelas nasional tidaklah berlebihan rasanya jika menamainya sedikit lebih bombastis dengan mengubah namanya Batu Meteor Kelam! (note: masih membutuhkan informasi valid dan rinci soal penelitian yang pernah dilakukan terhadap Batu Kelam)

Perbedaan Klaim Tinggi Batu Kelam dan Batu/Gunung Tertinggi lainnya.

Batu Kelam padahal punya predikat Batu Monolit terbesar di dunia setelah Gunung Augustus (bukan Ayers Rock seperti yang selama ini diberitakan) di Australia – yang mengenai ini saya sendiri masih bingung apakah memang benar demikian? Karena beberapa sumber menyebutkan keterangan tinggi yang berbeda-beda dan tidak memiliki rujukan yang pasti. Gunung Augustus diaku memiliki tinggi 1.106 Mdpl, sedangkan Batu Kelam 1.102 Mdpl. Informasi lain menyebutkan tinggi Gunung Augustus hanyalah 715 Mdpl sementara Batu kelam di sumber lain disebut mencapai 900 Mdpl. Membingungkan bukan? di antara sedemikian banyak sumber tidak satupun yang bisa dianggap cukup kredibel untuk dijadikan patokan mengenai hal ini. Kalau mau berpikir sedikit konspiratif, tidakkah semua label dan klaim tentang warisan alam seperti ini terjadi juga berkat beraroma politis dan soal untung rugi hitung-hitungan ekonomi? Tapi sudahlah, itu persoalan lain lagi yang tidak akan dibahas panjang lebar disini.

Kalaulah Batu Kelam memang “kalah klaim” sebagai yang tertinggi di dunia dan malah jadi nomor dua, bisakah kita aku saja ia sebagai batu meteor terbesar di dunia?! (note: sekali lagi kalau benar Batu Kelam adalah meteor yang jatuh ribuan tahun lalu, yang katanya pernah diteliti itu). Kalau memang betul merupakan batu meteor maka Gunung Augustus dan deretan gunung tertinggi di dunia lainnya bukanlah lagi menjadi “saingan” bagi Batu Kelam, karena gunung-gunung tersebut terbentuk secara alami oleh bumi sendiri. Adapun batu meteor yang pernah jatuh ke bumi ukurannya jauh sangat kecil dan jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Batu Kelam ini. Untuk hal ini teman-teman bisa cari sendiri dari berbagai sumber yang memungkinkan dan mudah diakses di internet.

Misi Pariwisata dan Perhatian Pemerintah Daerah

Segenap keistimewaan yang dimiliki oleh Batu Kelam nyata-nyatanya belum membuat para pemangku kepentingan untuk segera bergerak mengambil tindakan konkret yang menunjukkan keseriusannya mengelola aset pariwisata “ajaib” satu ini.

Jika saja pihak-pihak terkait menyadari betul potensi ini maka perencanaan untuk membangun aset pariwisata daerah untuk menjadi berskala Nasional bahkan Internasional harus segera dibangun, apalagi kalau bukan demi visi Indonesian Tourism yang terus digalakkan itu. Dengan catatan segala macam pembangunan sarana dan prasarana yang turut melibatkan dan menyejahterakan masyarakat sekitarnya.

Selain itu yang tidak kalah penting ialah prasarana penunjang seperti akses jalan antar kota dan akses menuju Batu Kelam itu sendiri agar memudahkan orang-orang untuk datang mengunjungi keajaiban raksasa satu ini agar semakin dikenal dan dicintai oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Dapatkah Anda membayangkan itu semua? Bagaimana jika orang dari seluruh dunia datang dan berkunjung dan Batu Kelam beserta Kota Sintang mendapat exposure dari seluruh media luar?

Perlu diingat sekali lagi Batu Kelam ialah aset berharga yang masih menunggu untuk “disulap” menjadi ikon pariwisata kelas dunia. Sementara itu kita bisa berperan aktif untuk mendorong pemerintah untuk mulai menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk itu semua, karena begitu banyak hal bisa dilakukan mulai dari membangun website khusus untuknya seperti yang dilakukan orang di luar negeri sana untuk gencar mengenalkan kekayaan pariwisata dan budayanya.

Tulisan ini saya tulis sebagai unek-unek pribadi semata dan memiliki banyak kekurangan disana-sini. Kita semua tentu menginginkan perubahan tata kelola yang lebih baik di kampung halaman kita tercinta Kota Sintang, Kalimantan Barat. Terima Kasih kepada Teroka Borneo telah bersedia menjadi wadah bagi saya untuk menulis. Salam.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

57 points
Upvote Downvote

Total votes: 59

Upvotes: 58

Upvotes percentage: 98.305085%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 1.694915%

ikan bakar banjarmasin

Ikan Bakar Banjarmasin, Mencicipi Kuliner “Kota Seribu Sungai” di Yogyakarta

Lunggak adalah

Lunggak