in , ,

Dayak Bahau Dari Kalimantan Timur

Tari Hudoq Tarian Asli Dayak Bahau

TEROKABORNEO.COM – Suku Dayak Bahau, mengenai asal usulnya secara lengkap dan akurat belumlah ditemukan. Berdasarkan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Dayak Bahau bahwa Dayak Bahau masih satu keturunan dengan Dayak Tunjung, Dayak Benuaq, Dayak Kutai dan Dayak Kenyah. Dimana Tulur Aji Jejangkat dan Mook Manor Bulnat, menurunkan 5 anak yang menurunkan 5 suku, yaitu:
1. Sualas Gunaan melahirkan suku Tunjung,
2. Nara Gunaq melahirkan suku Benuaq,
3. Jelivan Benaq melahirkan suku Bahau,
4. Puncan Karnaaq melahirkan suku Kutai,
5. Tantan Cunaq melahirkan suku Kenyah.

Menurut cerita kedua putra Tulur Aji Jejangkat pergi naik perahu. Puncan Karnaaq pergi ke arah hilir dan Jelivan Benaq pergi ke arah hulu sungai dan kemudian menetap di wilayah hulu sungai Mahakam dan menguasai daerah sekitar Tering.

Dayak Bahau terdiri dari 3 kelompok besar yaitu :
1. Bahau Modang,
2. Bahau Busang,
3. Bahau Saq.

Dari ketiga kelompok suku ini terbagi-bagi lagi menjadi 14 anak sub suku, yaitu:
1.   Ma’suling
2.   Ma’urut
3.   Ma’tepe
4.   Ma’rekue
5.   Ma’tuan
6.   Ma’mehaq
7.   Ma’sem
8.   Ma’keluaq
9.   Ma’aging
10. Ma’bole
11. Ma’Bengkelo
12. Ma’wali
13. Ma’ruhuq
14. Ma’palo

SEJARAH MIGRASI SUKU DAYAK BAHAU

Dayak Bahau merupakan salah satu komunitas subsuku Dayak yang besar di Kalimantan Timur. Warga Dayak Bahau umumnya berdiam di daerah hulu sungai Mahakam, tepatnya di Kabupaten Kutai Barat. Selain mendiami tepian sungai Mahakam, sebagian orang Dayak Bahau bermukim di kampung Matalibaq atau Uma Telivaq, di tepi sungai Pariq, anak sungai Mahakam.Dari penuturan lisan, orang Dayak Bahau di Uma Telivaq, berasal dari Telivaq Telang Usan, Apo Kayan. Mereka pindah karena kawasan Apo Kayan tidak subur (kini daerah Apo Kayan dihuni Dayak Kenyah, Kabupaten Bulungan di hulu sungai Kayan yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia Timur.

Konon sewaktu rombongan ini menyeberang sungai Mahakam dengan jembatan dari anyaman rotan, rombongan yang belum menyeberang berteriak “payau-payau”. Karena jaraknya cukup jauh, rombongan yang sudah tiba di seberang, bukanlah mendengar payau melainkan “kayau”, yang berarti ada musuh menyerang. Mendengar teriakan itu, rombongan di seberang memotong jembatan. Setelah itu, barulah mereka sadar bahwa telah terjadi salah pengertian. Yang diteriakkan bukan kayau tapi ayau yang artinya rusa.Akhirnya rombongan yang belum menyeberang kembali ke tempat semula, yaitu Telivaq Telang Usan. Rombongan yang meneruskan perjalanan singgah di Lirung Isau, dekat Muara Pariq dan membuat perkampungan dan dipimpin seorang hipui bernama Tana Yong.

Setelah sekitar 5 tahun, tahun tahun 1821 mereka pindah ke Uma Tutung Kalung, tepat di Dermaga Wana Pariq saat ini. Mereka menetap di kawasan ini hingga tahun 1907 di bawah pimpinan Hipui Ding Luhung. Setelah Hipui Ding Luhung wafat, digantikan Hipui Bang Gah, pada tahun 1907 mereka melakukan perpindahan lagi dan membuat luvung (tempat singgah sementara) di Long Paneq hingga tahun 1909.Dari Long Paneq mereka pindah dan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama membuat perkampungan di Bato Lavau dengan pimpinan Hipui Bang Gah. Tahun 1910, kampung Bato Lavau terkena layo, mereka pindah ke Ban Lirung Haloq. Rombongan kedua dipimpin Hipui Bo Ngo Wan Imang masuk sungai Meliti dan membuat luvung di gah (riam kecil) Bekahaling, sekitar tahun 1909. Tahun 1910 pindah dan membuat perkampungan di sungai Tuvaq. Setelah itu, mereka keluar sungai Pariq dan membuat luvung di Gah Belawing. Tahun 1913, kedua hipui sepakat bersatu di Uma Lirung Bunyau dibawah pimpinan Hipui Belawing Ubung.

Maka tahun 1919 mereka melakukan perpindahan dan menetap di Datah Itung, sering juga disebut Lirung Arau atau lebih dikenal dengan sebutan Uma Telivaq atau Matalibaq kini dipimpin Hipui Belawing Ubung Dulu masyarakat Dayak Bahau mengenal tiga jenis pengelompokan dalam masyarakat. Yakni keturunan bangsawan (hipui), keturunan masyarakat biasa (panyin), keturunan budak (dipan). Namun, saat kini tinggal dua saja, yakni hipui dan pinyin.

Dalam struktur masyarakat Dayak Bahau di Matalibaq, peranan hipui sangat penting dalam mengatur kehidupan masyarakat. Hipui adalah orang yang paling tahu tentang adat istiadat, orang yang baik hati dan tidak pilih kasih sehingga menjadi panutan dalam masyarakat.

Dalam hal perladangan, hipui lah yang berhak menentukan kapan harus memulai kegiatan perladangan, penetapan lokasi ladangan. Kelompok masyarakat biasa (panyin) terkondisi menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap hipui. Namun sejak diberlakukannya UU Pemerintahan Desa tahun 1979, peran hipui berkurang. Karena selain kepala adat, juga ada kepala desa/dusun/kampung. Terjadi pergeseran peranan hipui dalam masyarakat. Hipui bukan lagi dipandang sebagai tokoh sentral dalam masyarakat. Namun demikian keberadaan keturunan hipui tetap dihormati dalam masyarakat

What do you think?

-7 points
Upvote Downvote

Total votes: 9

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 11.111111%

Downvotes: 8

Downvotes percentage: 88.888889%

Cantik! 3 Pakaian Adat Kalimantan Utara.

Dugaan Mengenai Asal Usul Suku Dayak