in , , ,

Dayak Ngaju Suku Asli Kalimantan Tengah

Pemuda Pemudi Dayak Ngaju Kalimanatan Tengah

TEROKABORNEO.COM – Suku Dayak Ngaju adalah suku dayak yang terbesar yang berdiam di daerah sungai Khahayan, Kapuas  dan katingan. Reliigi suku ini sudah di teliti secara mendalam. Tentang leluhur asal usul Dayak Ngaju dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan sejarah tentang orang Dayak Ngaju. Dalam sejarahnya leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian Selatan, tepatnya di Cina Barat Laut berbatasan dengan Vietnam sekarang. Mereka bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia (Provinsi Yunan, Cina Selatan) sekitar 3000-1500 SM.

Menurut Tetek Tatum leluhur orang Dayak Ngaju merupakan ciptaan langsung Ranying Hatalla Langit, yang ditugaskan untuk menjaga bumi dan isinya agar tidak rusak. Dan Leluhur Dayak Ngaju diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau (Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan Ancak atau Kalangkang) diturunkan dari langit ke dalam dunia ini di empat tempat berturut-turut melalui Palangka Bulau, yaitu:

  1. Tantan Puruk Pamatuan di perhuluan Sungai Kahayan dan sungai Barito, Kalimantan Tengah, maka inilah seorang manusia yang pertama yang menjadi datuknya orang-orang Dayak yang diturunkan di Tantan Puruk Pamatuan, yang diberi nama oleh Ranying (Tuhan YME) : Antang Bajela Bulau atau Tunggul Garing Janjahunan Laut. Dari Antang Bajela Bulau maka terciptalah dua orang laki-laki yang gagah perkasa yang menteng ureh mamut bernama Lambung atau Maharaja Bunu dan Lanting atau Maharaja Sangen.
  2. Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting (Bukit Kaminting), Kalimantan Tengah oleh Ranying (Tuhan YME) terciptalah seorang yang maha sakti, bernama Kerangkang Amban Penyang atau Maharaja Sangiang.
  3. Datah Takasiang, perhuluan sungai Rakaui (Sungai Malahui, Kalimantan Barat, oleh Ranying (Tuhan YME) terciptalah 4 orang manusia, satu laki-laki dan tiga perempuan, yang laki-laki bernama Litih atau Tiung Layang Raca Memegang Jalan Tarusan Bulan Raca Jagan Pukung Pahewan, yang seketika itu juga menjelma menjadi Jata dan tinggal di dalam tanah di negeri yang bernama Tumbang Danum Dohong. Ketiga puteri tadi bernama Kamulung Tenek Bulau, Kameloh Buwooy Bulau, Nyai Lentar Katinei Bulau.
  4. Puruk Kambang Tanah Siang (perhuluan Sungai Barito, Kalimantan Tengah oleh Ranying (Tuhan YME) terciptalah seorang puteri bernama Sikan atau Nyai Sikan di Tantan Puruk Kambang Tanah Siang Hulu Barito.[1]

Susunan dan Tingkatan Masyarakat

Pada masa lampau masyarakat Dayak Ngaju memiliki susunan dan tingkatan strata sosial dalam masyarakatnya yaitu:

  • Kepala Kampung, yang dimasa kolonial tugasnya hanya melaksanakan perintah pegawai kolonial, dengan tugas utama menarik pajak dan mendayung perahu bagi para pegawai kolonial, apabila mengunjungi kampung lain, mengakibatkan terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Ada kaum bangsawan dan ada orang-orang pantan.
  • Orang-orang Pantan, adalah penduduk asli yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari diusahakan sendiri. Kewajiban mereka mematuhi perintah pimpinan, serta wajib menyediakan tenaga sukarela apabila dibutuhkan pimpinan. Disini jelas nasib mereka banyak tergantung kepada kepribadian pimpinan mereka.
  • Orang-orang Merdeka adalah keluarga jauh para Kepala Kampung. Mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun tetap harus menyediakan tenaga secara sukarela apabila dibutuhkan oleh pimpinan demi kepentingan umum.
  • Orang-orang Jipen, adalah golongan budak. Para Jipen sama sekali tidak memiliki harta benda, seluruh kebutuhan hidupnya disediakan oleh majikannya. Para Kepala Kampung, orang-orang merdeka, orang-orang pantan diizinkan mempunyai jipen. Jipen berasal dari orang-orang yang kalah perang dan tak sanggup melunasi hutang-hutangnya. Apabila para jipen telah sanggup melunasi utangnya, maka kemerdekaan akan mereka peroleh. Akan tetapi bila hingga akhir hayat utang belum mampu mereka lunasi, maka anak keturunannya akan tetap menjadi jipen, yang biasa disebut “utus jipen”, sampai utang yang ada dilunasi.
  • Orang-orang Abdi adalah orang-orang yang dibeli.
  • Orang-orang Tangkapan atau Tawanan.
  • Orang-orang Tamuei atau Orang Asing, mereka bukan penduduk asli.

Keyakinan Terhadap Dewa

Menurut keyakinan suku Ngaju, ada dua tokoh dewa yang tertinggi yaitu Mahatala dan jata. Mahatala juga disebut hatala atau Lahatala. Memiliki sebuatan yang lain juga  umpamanya Mahatara atau Bahtara. Nama aslinya adalah Tingang (burung enggang atau rangkok).

Jata memiliki nama asli Tambon, yang juga sering disebuut Bawin jata Balawang Bukau, artinya wanita jata perpintuka Permata. Cerita tentang kedua dewa ini saling bertentangan. Ada yang menyatakan behwa kedua dewa ini ada sejak semula, tanpa ada yang menjadikan tetapi ada juga yang menyatakan bahwa keduanya terjadi karena sentuhan dua bukit. Mana yang benar sukar untuk ditentuakan.

Mahatala bersemayam di atas yaitu alam diatas alam kediaman manusia. Alam diatas ini merupakan pencerminan alam tempat kediaman manusia, namun disana segala sesuatu berada dalam keadaan lebih indah dan lebih berkelimpahan dari pada keadaan di dunia manusia. Jata bersemanyam di alam bawah yaitu alam di bawah kediaman manusia. Disitu hidup bersama-sama dengan rakyatnya yang terdiri dari para buaya. Dibawah alam ini buaya perwujudan seperti manusia. Akan tetapi jika mereka meninggalkan alam bawah itu  baik untuk menolong manusia atau membianasakannya  mereka menampakan diri seperti buaya (bagi suku Ngaju buaya adalah binatang suci yang tidak boleh dibunuh kecuali jika ia membunuh seorang anggota keluarga).

Kedua dewa ini menampakkan diri kepada manusia dalam perwujudan emblem atau simbol. Mahatala menampakkan diri dalam bentuk burung dan Jata menampakkan diri dalam bentuk naga. Sering kali kedua dewa ini digambarkan oleh satu kesatuan dalam suatu perwujudan, baik perwujudan burung elang yang bersisik, atau seekor burung naga yang berbulu burung enggang. Oleh karena itu kedua dewa ini dapat dipandang sebagai satu kesatuan yang dwitunggal (artinya 2 menjadi 1). Suatu dwitunggal, suatu totalitas yang memiliki dua sifat yang saling bertentangan  yaitu yang menyatukan diri dalam satu bentuk yaitu sifat baik dan jahat, hidup dan mati, demikian juga gelap serta terang.

Kecuali kepada kedua tokoh ini suku ngaju juga percaya akan banyak roh yang baik da yang jahat. Ada yang dipandang sebagai pembantu alam atas aa yang dipandang sebagai pembantu alam bawah. Roh roh itu dalah :

  1. Raja Pali atau Nyaro (nguntur petir) bertindak sebagai pembalas yang menghukum pelanggar adat atau aturan-aturan Pali. Ole karena itu dia dipandang ikut serta dalam persidangan hukum adat. Ia memberi keputusan melalui ketua adat yang mengepalai persidangan. Ia dihubungkan dengan alam atas
  2. Raja Ontong yang menjadi sumber keselamatan dengan memberi rejeki dan kemakmuran.
  3. Raja sial adalah roh yang mendatangkan kecelakaan dengna memberikan kerugian , kematian dan sebagainya, orang hanya dapat dibebaskan oleh kesialan itu melaui upacara-upacara penyucian besar kedua roh ini raja ontong dan raja sial) dihubungkan dengan alam atas yaitu yang mengungkap kedua hubungan kedua alam tersebut.
  4. Raja puru atau peres yang menjadi sumber penyakit. Terlebih-lebih penyakit yang menular.
  5. Raja Hanteun yang menjadi sumber kerusuhan ia sering mengganggu manusia dengan sihirnya yang dilakukan dengan perantara dukun, kedua roh ini ( raja puru dan Hanteun dihubungkan dengan alam bawah dan jata).

Kecuali gambaran tersebut ada gambaran bahwa dunia ini berbentuk lingkaran yang dilingkari oleh naga dengan menggigit ekor nya sendiri. Maksud gambaran gambaran itu ialah bahwa dunia ini didukung oleh dewa dan bahwa manusia hidup dibawah naungan, perlindungan, damai dan keselamatan dari dewa. Manusia hidup di tanah suci yang dimiliki oleh mahatala dan jata.

Sistem Religi

Agama yang dianut oleh masyarakat dayak ngaju adalah Hindu kaharingan sebagai agama leluhur mereka. Ngaju memandang diri mereka dilahirkan dari Mahatala dan Jata dan hidup seutuhnya dari kedua tokoh dewa ini . kedudukan suku dipandang dengan kedudukan seluruuh alam semesta, yang keberadaannya disebabkan oleh kedua desa tersebut. Suku Ngaju adalah suku yang suci. Mereka berada karena dikehendaki oleh dewa-dewa dan tata tertib kehidupannya dalah tata tertib ilahi. Bahkan dapat dikatakan bahwa suku ngaju adalah dewa-dewa. Persiapan bagi pesat kematian ini sering dilakukan hingga berbulan-bulan yaitu dengan mendirikan tempat untuk upacaranya. Membuat tempat pemakamn yang tetap, berebelanja, menumbuk padi dan membuat minuman. Ini disebabkan akan mendapatkan tamu banyak (kadang-kadang sampai 2000 orang).

Pesta berlangsung sampai tujuh hari tetapi pekarjaan yang harus dilakukan imam sering berlangsung hingga 33 hari. Harus mengadakan persiapan simbolis dengan memanjatkan puji-pujian, didalam puji-pujian itu digambaran bagaimana sangiang dijemput dan bagaimana mereka bersama dengan pra imam mendirikan tempat upacara dan tempat pemakaman yang tetap (sanding). Sesudah pesat selesai para imam harus juga menyucikan orang-orang yang terllibat dalam pesta itu dan menghantarkannya para sangiang kembali kealam atas.

Tiga hari sebelum tiwah dimulai orang menjemput yang wafat mula-mula dimakamkan untuk sementara waktu diluar desa. Dengan suatu pawai tulang-tulang sang wafat yang berada di peti dibawa ke balai tempat penempatan peti-peti itu. Peti itu dihias dengan mutiara bulu burung panji-panji, anyaman-anyaman halus. Sedangkan didepan peti jenazah diletakkan harta pustaka kerabat yang berharga, upamanya bejana suci, tobak, pedang, dsb. Sesudah peti-peti jenazah ditempatkan dibalai seluruh desa dan sungai dinyatakan najis. Dimulailah pali selama tujuh hari. Desa dianggap tertutup bagi dunia luar. Karena diliputi oleh kesialan, maka orang asing tidak boleh memasukinya. Perbatan desa diberi rintangan berupa rotan sebagai tanda bahaya. Plali berlangsung hingga hari kelima dari pesta itu.

Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.

Mereka lebih memilih dan berpindah ke budaya asing yang belum tetntu sesuai dengan keperibadian bangsa bahkan masyarakat lebih merasa bangga terhadap budaya asing daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri..Tanpa mereka sadari bahwa budaya daerah merupakan faktor utama terbentuknya kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang mereka miliki merupakan sebuah kekayaan bangsa yang sangat bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestarian dan keberadaanya oleh setiap individu di masyarakat.

Pada umumnya mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebudayaan merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada didalalmnya.Besar harapan saya, semoga dengan dibuatnya makalah yang berjudul Budaya Suku Dayak  yang didalamnya membahas tentang kebudayaan yang berasal dari daerah Kalimantan ini menjadi salah satu sarana agar masyarakat menyadari betapa berharganya sebuah kebudayaan bagi suatu bangsa, yang ahirnya akan membuat masyarakat menjadi lebih tau dan mengenal akan budayanya  sehingga merasa bangga terhadap budaya daerahnya sendiri.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Jenis-Jenis Ornamen Suku Dayak

Kenali Motif Tato Dayak Dan Artinya