in

Ganti Hari Batik Nasional dengan Hari Kain Tradisional Nasional

Hari Batik Nasional
ilustrasi

TEROKABORNEO.COM – Memakai batik menjadi semacam kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Gembar gembor kampanye cinta budaya dan tradisi membuat muncul trend di masyarakat Indonesia agar kembali melihat kebudayaannya. Batik tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno. Tua hingga muda, baik lelaki dan perempuan dengan bangga mengenakan batik, tidak jarang fashion show batik pun kita lihat berseliweran di televisi maupun di surat kabar dan majalah. Menggunakan batik adalah sesuatu yang membanggakan. Pertanyaannya sejak kapan tren ini muncul? Dan kenapa?

Saya masih ingat, ketika awal-awal kuliah di tahun 2006, saya memakai batik ke kampus. Seorang teman berkata, “rapi amat bro, mau kondangan (ke undangan)?” pertanyaan ini saya jawab dengan senyum saja. Belum terpikirkan oleh saya di kemudian hari, karena saat itu memang memakai batik hanya identik dengan pergi ke undangan saja (biasanya undangan pernikahan). Pandangan itu seolah berbalik 180 derajat sejak pemerintah menetapkan hari batik nasional. UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 2 Oktober 2009. Sejak saat itu jadilah tiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari batik nasional.

Uniknya, pemerintah Indonesia – dan kalau mau dengan jujur mengakuinya – sebagian besar masyarakat Indonesia “tiba-tiba” cinta dengan batik karena ada isu Malaysia mengklaim batik sebagai miliknya, maka dengan reaktif seluruh elemen masyarakat Indonesia bersatu dan mengatakan “Batik milik Indonesia”. Jadilah batik milik Indonesia, jadilah hari batik nasional.

Dijadikannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional dan diperingati setiap tahunnya secara langsung maupun tidak, membuat kain-kain tradisional lain di berbagai daerah di Indonesia menemukan momentum untuk muncul kembali. Pegiat-pegiat dan pengrajin kain-kain tradisional seperti menemukan kembali semangat untuk terus berkarya – meski pengrajin kain tradisional tidak pernah punah sepenuhnya, mereka tetap ada. Sebut saja Songket di Palembang, tenun NTT, tenun ikat Dayak dan lain-lain. Sama seperti batik, kain-kain tradisonal dari berbagai macam daerah ini pun budaya asli indonesia yang perlu dilestarikan. Caranya? Beli dan pakai hasil kerajinan mereka, dengan demikian para pengrajin tetap bisa hidup dari berkerajinan dan akan terus berkarya.

Keunikan nama kain tradisional di berbagai daerah ini sesungguhnya perlu menjadi perhatian pemerintah. 2 Oktober sudah seharusnya bukan hari batik nasional saja tetapi menjadi Hari Kain Tradisional Nasional. Dengan demikian setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Palembang akan mengenakan songket, masyarakat NTT memakai kain tenunnya, Dayak dengan kain tradisionalnya dan daerah-daerah lain dengan kain khas daerahnya masing-masing. Efeknya jelas, semua kekayaan budaya termasuk eksistensi kain tradisional tiap daerah di Indonesia tetap terjaga.

Pertanyaan yang mungkin timbul berikutnya ialah, tidak cukupkah kain-kain tadi disebut “batik” saja? Menurut saya jelas tidak. Batik tentu merupakan kain tradisional dari Jawa. Songket tidak bisa disamakan batik. Kain tenun NTT juga tidak bisa disebut batik. Begitu pula dengan Kain tenun Dayak (bukan batik). Jikalaupun ada batik dengan motif Dayak, tentulah itu merupakan “produk baru” dan bukan tradisi asli yang dikenal berasal Suku Dayak.

Perlukah kain-kain tradisional ini dilestarikan? Jelas iya. Sama dengan batik, kain-kain tradisional ini merupakan warisan budaya bangsa yang harus terus diperkenalkan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga setiap tanggal 2 Oktober bisa diperingati sebagai momentum tiap daerah yang memiliki kain khas daerahnya untuk menunjukkan dengan penuh rasa bangga bahwa di daerahnya juga terdapat kain khas yang tidak kalah menawannya dan layak disetarakan dengan batik. Maka, tidaklah berlebihan rasanya untuk Bangsa Indonesia mengganti nama perayaan “Hari Batik Nasional” pada tanggal 2 Oktober menjadi “Hari Kain Tradisional Nasional”.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

4 points
Upvote Downvote

Total votes: 8

Upvotes: 6

Upvotes percentage: 75.000000%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 25.000000%

Pekan Budaya Dayak Nasional

Pekan Budaya Dayak Nasional II: Sebuah ‘Sampah Ingatan’ (?)

Laju Pilkada Menimbun Bara

Laju Pilkada Menimbun Bara