in

Gawai Dayak PSBDK Punya Siapa?

Gawai Dayak
Poster Pekan Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan 2016. (gambar: capture from youtube)

TEROKABORNEO.COM – Gawai Dayak “PSBDK” selalu punya cerita menarik untuk Pelajar-Mahasiswa se-Kalimantan yang pernah menimba ilmu di Pulau Jawa, terkhusus Kota Yogyakarta. Dalam pelaksanaanya sendiri tidak jarang pelajar-mahasiswa Kalimantan (Dayak maupun etnis lain) yang datang dari kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Salatiga, Malang dan kota-kota lainnya turut ikut serta dalam meramaikan perhelatan tahunan tersebut. Bagaimana tidak, kerinduan terhadap kampung halaman, budaya, makanan, dapat sedikit tersalurkan lewat acara seperti ini. Belum lagi jika membahas tentang banyaknya pengunjung yang datang; pria-wanita, wajah-wajah mahasiswa lama maupun mahasiswa baru pun berseliweran di sekitar tempat diadakannya acara ini. Saking ramainya acara, tak heran para penderita jomlo akut juga turut hadir dan memanfaatkan peluang ini untuk mendapatkan pacar (mungkin) 🙂 . Yah, setidaknya begitulah kesan singkat saya mengenai acara ini, atau kalau anda tidak percaya, coba tanyakan saja kepada semua! sekali lagi tanyakan kepada SEMUA pelajar-mahasiswa kalimantan yang pernah menimba ilmu Yogyakarta tentang acara ini, niscaya anda akan mendengar cerita-cerita seru dengan versi yang lain lagi.

Lalu, kapan acara Gawai Dayak “PSBDK” ini dimulai? Sebelumnya penulis sengaja menggunakan kata Gawai Dayak “PSBDK” untuk menunjuk acara mahasiswa Dayak-Kalimantan di Yogyakarta tersebut, bukan PSBDK (Pesta Seni Budaya Dayak se-Kalimantan) saja sebagai sebutan “resmi” untuk merujuk pada acara tersebut. Acara ini awalnya bernama Gawai Dayak lalu kemudian diubah menjadi Pesta Seni Budaya Dayak se-Kalimantan. Penyebutan peserta acara yakni Pelajar-Mahasiswa Kalimantan dapat kita pahami, karena memang seperti kita ketahui bahwa di Yogyakarta yang menuntut ilmu bukan hanya di tingkat Mahasiswa saja, tetapi juga para teman-teman pelajar SMA atau bahkan SMP yang juga menimba ilmu di Yogyakarta. Namun, bagaimana dengan akronim PSB(D)K “Dayak” ? Sudah tepatkah seperti itu? bukankah yang hadir dan merayakan acara sejatinya tidak hanya dari etnis Dayak saja? tetapi juga Etnis lain yang berasal dari Kalimantan (Melayu, Batak, Jawa, Cina, dll juga turut hadir). Penyebutan ini penting karena berkaitan dengan seperti apa awal mula acara megah, prestisius dan membanggakan itu dimulai. (catatan: Beda dengan penyebutan frasa “Gawai Dayak” ya.)

Bagaimana tidak, ribuan orang datang berkunjung, tidak hanya pelajar-mahasiswa asal Kalimantan tetapi penduduk Yogyakarta. Bahkan Pemda Jogja melalui Dinas Pariwisatanya sendiri juga turut mengapresiasinya. Dalam beberapa obrolan ringan, Dosen dan Sejarawan Indonesia sekaliber Romo Baskara T. Wardaya, SJ bahkan pernah memuji acara itu, “Kalian (pelajar-mahasiswa yang ada di Jogja. Red) sudah satu langkah di depan orang-orang tua kalian. Kalianlah yang bisa membuat budaya Dayak dilihat kami di sini, di pulau jawa ini”. Banyak seniman Kalimantan-Dayak mendapatkan panggung bahkan dapat berkiprah hingga ke luar negeri, karena lewat acara semacam ini mereka mendapat exposure yang terbilang lumayan besar. Sebetulnya, bukankah yang justru lebih penting dari acara semacam Gawai Dayak ini adalah nilainya? apakah ia bisa bermanfaat untuk Kalimantan itu sendiri (manusia, hutan dan segala isinya). Teringat cerita seorang sahabat bahwa ironi Kalimantan adalah ketika upacara penyambutan dengan tari-tarian di landasan pacu pesawat terbang menyambut orang yang di kemudian hari merampas tanah leluhurnya dengan alasan sudah mengantongi izin hak guna usaha. Maka sahabat-guru lain menimpali, “jika saya menjadi orang yang kamu sambut itu, akan saya berikan kalian uang untuk kalian menari, berpesta pora hingga kalian lupa bahwa tanah kalian sudah di tangan saya. Menarilah hingga tunggang langgang asal jangan ganggu saya”. Semoga saya, anda, dan kita semua tidak sedang “di-ninabobo-kan” oleh hal-hal seperti ini.

Kegiatan Gawai Dayak “PSBDK” secara resmi tercatat (setidaknya diakui bersama) dimulai sejak 2002. Hanya pada tahun 2006 tidak dilaksanakan dikarenakan ada musibah gempa di besar di Yogyakarta dan sekitarnya, maka diurungkanlah kegiatan tahunan tersebut. Kegiatan Gawai Dayak “PSBDK” sendiri menerapkan sistem estafet menjadi/sebagai “tuan rumah-nya”. Tuan rumah di sini merujuk pada struktur kepanitiaan, dan juga asal dana untuk pelaksanaan Gawai Dayak tersebut. Semisal, tahun 2002 Sintang sebagai tuan rumah, struktur kepanitiaan didominasi oleh pelajar mahasiswa asal Sintang tahun berikutnya dari forum lain lagi (misal, Kapuas Hulu), tahun berikutnya dari forum lain lagi (misal, dari Kalimantan Tengah) dan seterusnya. seperti itu lah sistem kepanitiaan dan sistem pendanaan Gawai Dayak “PSBDK” di Yogyakarta.

Kembali ke Gawai Dayak “PSBDK” ini sesungguhnya milik siapa? Tergelitik dengan sebuah obrolan di sebuah grup chatting alumni Pelajar-Mahasiswa yang pernah menimba ilmu di Yogyakarta tentang tulisan di situs (resmi?) milik sekretariat bersama J.C Oevang Oeray (sekber JCOO) yang mengandung informasi yang salah a.k.a hoax a.k.a kebohongan tentang “sejarah” awal mula acara Gawai Dayak yang sekarang disebut PSBDK itu silahkan klik link http://sekber.weebly.com/blog/sejarah-singkat-pesta-seni-dan-budaya-dayak-se-kalimantan untuk melihat artikelnya. PSBDK sendiri belakangan diketahui sudah “diakuisisi” oleh sekber JCOO sejak tahun 2011 sebagai miliknya dan tertuang dalam AD-ART nya. Wow!

Postingan di website sekber.weebly.com

Versi lain yang berbeda dari apa yang dituliskan di tautan berita milik JCOO tersebut penulis dapatkan beberapa statement yang diungkapkan dari orang-orang yang menjadi penggagas Gawai Dayak pertama di Yogyakarta. Mereka adalah Marcelina Merry, Kak Ivo, Kak Renny, dan Bang Erik yang kebetulan ada di grup chatting tersebut. Berikut petikan obrol-obrol kami tersebut.

Pertanyaan pertama penulis adalah, kapan acara ini dimulai?

Ide kegiatan mendekati akhir tahun 2001 kalau tidak salah, karena seingatku libur Natal kita sudah mulai gerak. Ide kegiatan ini muncul di kos kak Corry.

Kenapa Para penggagas gawai dayak di Yogyakarta memandang perlu ada acara ini?

Beberapa kali mengajukan kepemilikan asrama (untuk mahasiswa Sintang. Red) kepada pemerintah daerah Sintang namun selalu ditolak dengan alasan karena merupakan organisasi yang mati dan tidak punya prestasi apapun. Kegiatan ini muncul akibat dari penolakan ini.

Siapa saja yang menggagas acara gawai dayak di Yogyakarta?

Yang saya ingat (yang hadir) di kos Kak Corry waktu itu hanya ada kami berlima, Kak Corry, Kak Ivo, Merry, Kak Netty dan Kakak (Kak Renny). Setelah ngobrol panjang lebar soal menyusun kegiatan akhirnya dimasukkan ke rapat FKPMKS (organisasi pelajar-mahasiswa Sintang yang ada di Yogyakarta).

Pengalaman-pengalaman lucu dan seru perjuangan mewujudkan acara Gawai Dayak perdana yang saat ini bernama PSBDK oleh para perintisnya, kak Cory bercerita tentang bagaimana susahnya nyari asrama sekber bersama Bastian dan pidato pertamanya di depan Pak Aspar Aswin. Bang Manto yang mencari dana ke Mensiku dan harus membonceng beratnya Kak Ivo. Tentang perjalanan Kak Renny dan Kak Netty jalan kaki menyusuri Sungai Melawi menuju perusahaan kayu demi mendapatkan dana untuk membuat kegiatan ini, Kak Ivo dan Kak Merry ke perusahaan-perusahaan sawit sampai sesat karena jalannya sama semua. Cerita Bang Erik, seksi usaha dana aja beli pakai duit sendiri. Bang Yohanes bercerita bagaimana sulitnya mencari bambu untuk dekorasi. Kak renny dimarahi Aspar Aswin, dimarahi pak Oesman Sapta Odang karena salah menulis gelar dan pengalaman-pengalaman lain yang membuat para penggagas awal acara gawai dayak “PSBDK” ini merasa tulisan sejarah singkat PSBDK di  situs sekber JCOO itu keliru dan menyesatkan informasi bagi para pembacanya.

Berkenaan dengan yang tertulis di situs sekber JCOO tersebut, Kak Renny secara pribadi kecewa, karena penulis di web itu tidak konfirmasi terlebih dahulu sebelum merilis tulisan, meskipun dia juga tidak menyalahkan sepenuhnya. Waktu (ide) gawai pertama kali muncul, aku tidak pernah tahu ada kegiatan seperti itu sebelumnya. Selama proses kegiatan berjalan tidak pernah dibahas soal kegiatan (yang mirip dengan gawai) tersebut. Jadi memang murni ini keluar dari kita tanpa mencohtoh kegiatan terdahulu. Tetapi jika ada kesamaan ide aku rasa wajar aja. Senada dengan Kak Renny, Bang Erik mempermasalahkan rilis tulisan sejarah singkat gawai Dayak di Yogya yang agak dipelintir, bukan berarti mengesampingkan posisi sekber JCOO.

Ketika ditanya tentang berubahnya nama gawai menjadi PSBDK, Kak Renny mengatakan bahwa kesalahan terjadi ketika dulu, HPMKH (organisasi Pelajar dan Mahasiswa Kapuas Hulu) awalnya anggota HPMDKH adalah anggota FKPMKS (Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Sintang), tetapi tahun 2002 jumlah teman-teman dari Kapuas Hulu sudah mulai banyak. “Kita sebagai organisasi induk sebelum mereka melepaskan diri mendorong mereka untuk menyelenggarakan kegiatan karena waktu itu merasa teman-teman Kapuas Hulu merupakan bagian dari Sintang. Kesalahan penafsiran teman-teman HMPDKH bahwa kegiatan tersebut milik Sekber. Jadi kegiatan yang telah mereka (HPMDKH) melaksanakan kegiatan gawai Dayak, kegiatan tersebut dikembalikan ke Sekber, bukan ke FKPMKS. Waktu itu FKPMKS Protes keras dan akhirnya berinisiatif mengumpulkan seluruh organisasi Dayak yang bernah berpartisipasi di Gawai Dayak dan muncullah kesepakatan bersama. 1) Gawai Dayak diubah namanya menjadi PSBDK. Saat itu teman dari bahau yang memunculkan nama PSBDK. 2) kegiatan ini milik bersama dan tidak ada satupun organisasi boleh mengklaim sebagai miliknya. 3) jika suatu saat terjadi sesuatu dan lain hal yang dapat merusak kegiatan ini maka FKPMKS sebagai penggagas kegiatan ini berhak mengambil alih kegiatan seperti awal kegiatan ini diadakan”.

Point ke-2 dan ke-3 dari Kak Renny sepertinya mulai menemukan batu sandungan ketika Sekber JCOO memasukkan acara Gawai Dayak “PSBDK” ke ADART nya tahun 2011. Teman-teman dari Kalimantan Tengah sudah mengeluarkan selentingan bahwa PSBDK adalah acaranya anak-anak Kalbar, bukan lagi acara bersama seperti yang disepakati di awal. Kak renny berharap, Kegiatan PSBDK bisa dikeluarkan terlebih dahulu dari ADART Sekber JCOO kemudian dibicarakan kembali bersama seluruh organisasi se-Kalimantan (yang ada di Yogyakarta).

Harapan Kak Renny, tentang kegiatan PSBDK ini adalah bukan pada kemewahannya, tapi kebersamaannya. Roh kegiatan ini harus kembali. Kak Renny berpendapat kegiatan PSBDK mulai mengarah ke politik praktis. Pendapat Kak Renny ini bisa dipahami karena banyaknya massa yang hadir, kelompok yang hadir juga merupakan kalangan terpelajar asal Kalimantan, urusan tetek bengek soal acara PSBDK ini juga sebuah kesempatan untuk menjalin “relasi” dengan politisi daerah. Banyaknya massa yang hadir adalah “magnet” untuk politisi pragmatis. Jangan lupa mereka adalah kelompok terpelajar muda Kalimantan. Sebaliknya, banyaknya massa yang berkumpul adalah bargaining position bagi pribadi-pribadi opurtunis. Lewat momentum PSBDK yang kembali di-Tuan Rumah-i oleh Sintang di Tahun 2018, pelajar mahasiswa Kalimantan di Yogyakarta terkhusus yang berasal dari Kalimantan Barat bisa memperbaiki sistem kepengurusan Sekber JCOO demi Sekber JCOO yang lebih baik lagi ke depan.

Gelontoran dana APBD puluhan juta hingga ratusan juta rupiah untuk penyelenggaraan Gawai Dayak-PSBDK ini hendaknya berdampak positif bagi Kalimantan-Dayak itu sendiri, menjadi tempat pengobat kangen rumah, menjadi tempat mengasah analisa sosial para terpelajar (jangan lupa bahwa pesertanya adalah Mahasiswa dan Pelajar) tentang apa sesungguhnya permasalahan Kalimantan-Dayak di kampungnya. Tentu saja tak lupa kembalikan marwah PSBDK sebagai ajang pencarian pacar. (yang ini gurau) 😛

Lalu siapakah pemilik Gawai Dayak-PSBDK ini? Jawabannya adalah kita semua. Kita yang pernah mencicipi susah senang hidup di perantauan dan melepas rindu kampung halaman lewat acara Gawai Dayak “PSBDK” ini. Kritik dan saran terhadap pelaksanaan Gawai Dayak-PSBDK tentu akan selalu menjadi “pil pahit” yang menyembuhkan. Untuk kebaikan.

Jangan sampai kata-kata sahabat saya terulang kembali, “Kami menyambut para perampas tanah kami di hanggar pesawat dengan tarian penyambutan yang kami siapkan berminggu-minggu berbulan-bulan lamanya”. Jangan pula kita terlena dengan tari-tarian tapi lupa tanah makam leluhur sudah digarap HGU.

Salam.

#saveborneo

What do you think?

7 points
Upvote Downvote

Total votes: 9

Upvotes: 8

Upvotes percentage: 88.888889%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 11.111111%

Bangunan bersejarah di Kalimantan

Bangunan Bersejarah di Kalimantan, Sayang untuk Sekadar Dikenang

Rumah Adat Kalimantan Selatan

Rumah Adat Kalimantan Selatan Filosofi Arsitektur Suku Banjar