in ,

Harta Terpendam Di Tanah Borneo Bagian Barat

harta terpendam
ilustrasi harta karun (pixabay)

TEROKABORNEO.COM – Banyak sekali harta-harta terpendam di dalam Nusantara ini. Hal itu dapat saja ditelusuri dari banyaknya artefak-artefak, arsip, maupun dokumentasi lainnya bekas peninggalan dari nenek moyang bangsa Indonesia. Di setiap daerah yang berada di Indonesia pastinya memiliki keunikan-keunikan dari setiap peninggalan itu, ada yang berupa arca, lontar, ukiran, tulisan tangan, foto, dan cerita lisan yang belum sempat di dokumentasikan kedalam tulisan dan hanya bisa diteruskan secara turun temurun kepada anak dan cucu mereka saja.

Secara khusus tulisan ini akan membahas peninggalan yang berada di Kalimantan Barat, lebih tepatnya berada di kecamatan Menukung, kabupaten Melawi. Cerita ini berhasil didokumentasikan kedalam bentuk tulisan, secara garis besar cerita ini akan membicarakan bagaimana perjuangan pemeritahan suku yang berada di daerah tersebut secara turun temurun kepada adik-adiknya.

Harta Di Natai Murau

Natai Murau merupakan nama bukit yang terletak di daerah pedalaman kecamatan Menukung, kabupaten Melawi. Natai berarti bukit, Murau adalah nama semacam tumbuh-tumbuhan kembang, Natai Murau merupakan bukit yang ditumbuhi banyak tumbuhan kembang. Kisah ini diawali dengan benteng suku Dayak yang berada jauh di pedalaman dan terdapat seorang pemimpin yang gagah berani dan ingin lebih maju. Segala bentuk tindakannya menjurus untuk kemajuan rakyat yang dipimpin olehnya, tegas dan jika ada yang melanggar akan dihukum tanpa toleransi. Ketegasannya inilah yang membuatnya ditakuti oleh rakyat-rakyatnya.

Talang, adalah nama pemimpin suku Dayak itu. Ia adalah orang yang giat bekerja dan tidak berfoya-foya membuangb waktunya, dia selalu mengajak rakyatnya untuk bekerja dengan giat. Tanah mereka sangat subur dan banyak memberikan hasil panen yang tak habis di makan, tahun bertambah demikian pula dengan kekayaannya semakin bertimbun. Pada masa Talang, uang belum dikenal dan barter adalah cara mereka untuk melakukan perdagangan, mulai benda-benda keramat seperti gong, pahar, dan lainnya, bahkan emas juga ditukarkan dengan bahan makanan. Kampung tetangga mengalami kelaparan lantaran tidak memiliki tanah yang subur dan mulai kelaparan, mereka melakukan barter dengan berbagai macam barang yang telah disebutkan sebelumnya untuk mendapatkan makanan. Dengan demikian harta milik Talang semakin banyak dan mulai menimbun. Karena ingin maju, maka Talang dan rakyatnya mulai mencari tempat baru yang lebih luas. Rakyatnya setuju dan mereka mulai membuat alat transportasi yaitu Tongkang, setelah beberapa bulan akhirnya selesai juga pembuatan Tongkang itu dan rakyat mulai mengangkut harta milik Talang kedalam Tongkang yang telah mereka buat, setelah semua harta selesai dan mereka pun mulai masuk ke Tongkang dan menunggu Talang. Akan tetapi, Talang tak kunjung datang dan seseorang teringat akan barang pusakanya yang tertinggal dan bergegas mengambilnya, setelah sampai dekat rumahnya ia mendengar ada suara berbisik dan ternyata suara itu adalah suara dari Talang dan Rihin orang kepercayaannya. Mereka berbincang “orang-orang yang sudah lemah harus kita singkirkan dan sangat memalukan kita”, seketika itu orang yang mendengar perbincangan tersebut langsung berlari menuju Tongkang dan memberitahukan kepada semua orang yang berada di situ, tanpa berpikir panjang mereka langsung mengayuh Tongkang dengan cepat untuk meninggalkan Talang dan Rihin.

Merasa sudah cukup jauh mereka melambatkan kayuhan dan tiba-tiba seorang berteriak “Tongkang kami bocor dan nyaris tenggelam”, dengan cepat Modang yang merupakan anak dari Kepala Suku sebelum Talang memrintahkan untuk menepikan Tongkang mereka. Karena berkayuh di malam hari dan tidak tahu apa saja yang mereka tabrak saat berkayuh, menepilah mereka di sungai Melawi di muara sungai kecil untuk memperbaiki Tongkang mereka, barang-barang di keluarkan untuk di keringkan dan tempat mereka mengeringkan brang-barang itu sekarang bernama Sungai Sampuk hingga saat ini. Tongkang sudah selasai diperbaiki dan barang-barang juga sudah kering maka mereka melanjutkan perjalanan, tetapi air mulai pasang dan arus sungai juga sangat deras sehingga menyebabkan mereka harus masuk ke sungai kecil, dan Tongkang mereka tersangkut, maka Modang mulai berpikir apakah melanjutkan perjalan menuju Sintang takut kalau mereka masih dikejar oleh Talang dan Rihin atau bersembunyi di termpat yang aman ? Modang memanggil semua rakyat untuk merundingkan hal tersebut, dan hasilnya mereka memutuskan untuk bersembunyi dan membuka tempat baru untuk menyimpan harta benda dan membangun rumah tempat tinggal.

Membuka Kampung Baru

Pemerintahan di ambil alih oleh Modang, dan ia megutus beberapa orang untuk meninjau tempat yang akan dijadikan kampong baru, ia mengatakan tinjaulah mulai dari kesuburan tanah untuk bertani dan untuk membangun sebuah kampung. Mereka yang diutus sudah berangkat dan melihat sebuah tempat yang teramat indah, di bukit yang mereka lihat terdapat banyak tumbuhan kayu murau, dan terdapat sungai kecil yang sangat jernih airnya. Merasa tempat tersebut cocok, mereka segera turun dan melapor kepada Modang, Modang setuju dan berangkatlah mereka ke tempat tersebut dengan membawa barang-barang harta benda milik mereka. Mereka membangun rumah panjang sementara itu mulai timbul rasa curiga akan pencurian barang-barang mereka, Modang membagi dua pekerjaan rakyatnya ada yang membangun rumah panjang dan ada yang menggali lubang guna untuk menyimpan barang-barang yang berupa batu-batu permata, emas berbentuk lesung, berbentuk alu dan berbentuk tampak.

Bentuk-bentuk tersebut merupakan perlambangan kemakmuran kaum tani, dan semua barang yang berupa harta sudah dimasukan kedalam lubang yang telah mereka gali takut akan dicuri oleh orang, tidak lupa mereka juga memberikan tanda di lubang tersebut supaya tidak lupa. Tanda itu adalah sebuah pohon Nibung, pohon nibung dianggap sebagai suatu “pamali”, jika berani mengusik atau menggangu maka akan menanggung resikonya, seperti penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Semua rakyat taat akan peraturan yang dibuat oleh Modang dan mereka sudah mulai mengembangkan diri dibidang pertanian, panen berhasil, makanan berlimpah, usaha mereka tidak sia-sia, hidup tentram tanpa gangguan. Namun, mereka selalu siaga jika ada serangan secara mendadak dari berbagai arah. Perhitungan Modang sudah sejak lama mengenai kesiapan perang bagi rakyatnya, karena mereka hidup dimasa pengayauan dan harus siap jika mendapatkan serangan secara tiba-tiba.

Benar terjadi apa yang dipikirkan oleh Modang, mereka tiba-tiba diserang dan pertempuran sengit pun terjadi. Banyak korban berjatuhan dalam perang ini, Modang dan rakyatnya berhasil bertahan, suasana rakyat pun berubah menjadi tidak tenang musuh menyerang secara berulang. Karena banyak mendapatkan serangan dari musuh, Modang menjadi lelah dan ia tewas dalam suatu pertempuran. Rakyatnya menjadi panik dan kelabakan, suasana semakin mencekik, krisis pun tak terbendung.

Dara Sunti

Kesunyian menyelimuti rakyat yang ditinggalkan Modang, dan bangkitlah adik bungsu Modang yang bernama Dara Sunti. Ia mampu meminpin rakyat dan berkatan”Jangan Takut”, seorang perempuan yang gagah berani membangun sema

ngat mereka, Dara Sunti berdiri di medan perang membakar semangat, berjuang, dan bertahan, “Pasti menang, Jangan menyerah!”. Dara Sunti mempunyai paras yang amat cantik, rakyat pada masa pemerintahannya tidaklah banyak sebab sudah banyak yang menjadi korban semasa perang. Semangatnya memimpin tidak hilang dan terus memimpin jika ada perang, ia adalah seorang yang berpikir optimis, dan tak henti berpikir bagaimana cara mangatasi kesulitan yang sedang mereka hadapi saat ini.

Akhirnya Dara Sunti memohon kepada Jubata agar diberi bantuan, karena letih yang teramat sangat tertidurlah ia dengan pulas dan bermimpi bertemu dengan seorang ibu tua, dalam mimpinya “hai Dara Sunti, aku adalah penghuni Natai Murau. Aku sangat kasihan padamu, engkau seorang pemimpin wanita yang sangat bertanggung jawab terhadap rakyatmu. Aku ingin menolongmu. Aku ingin kamulah yang mendiami daerah ini. Turunlah engkau ke batang air sungai sana dekat serumpun bambu. Di sana ada mata air, mandilah engkau ke sana, kemudian minumlah airnya. Dengan demikian selamatlah engkau dan seluruh rakyatmu”, seusai ibu tua menyampaikan pesan itu, terbangunlah ia dan tidak dapat tidur lagi. Saat pagi tiba turunlah ia ke tempat yang perintahkan oleh ibu tua dalam mimpinya itu, ia mandi dan meminum airnya dan merasa adanya perubahan total dalam dirinya, perasaannya menjadi berani, tenaganya berlibat ganda.

Setelah mendapatkan kekuatan, ia menghadapi perang sendirian, rakyat dan saudara-saudaranya disuruh bersembunyi di dalam rumah. Semuanya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Dara Sunti, mereka hanya mengintip dari celah-celah dinding saja ketika musuh datang dan berada di depan halaman mereka. Dara Sunti mengambil Mandau saktinya dan loncat ke tengah-tengah musuhnya, mereka menyerang dengan membabi buta akan tetapi yang terhantam bukanlah Dara Sunti melainkan kawan dari musuh yang menyerangnya. Dengan mudah ia menusuk musuh-musuhnya, mereka yang ketakutan melihat kehebatan Dara Sunti pun langsung pergi dari tempat tersebut karena ketakutan melihat kekuatan Dara Sunti.

Harta kekayaan Dara Sunti sudah terdengar sampai ke hulu kampung, hal ini menyebabkan banyaknya kelompok yang menginginkan harta tersebut. Sangin adalah kepala suku kampung hulu, ia juga ingin memiliki harta tersebut, tetapi ia belum pernah perang sama sekali dan tidak mempunyai pengalaman perang. Sangin mendapatkan siasat hendak menawan hati Dara Sunti, dan berangkatlah ia sendirian ke tempat Dara Sunti. Ia bertemu dengan Dara Sunti dengan berbagai alasan Sangin menanyakan tempat yang baik untuk pertanian di daerah itu, melihat parasnya yang cantik Sangin pun jatuh hati kepada Dara Sunti dan lupa akan rencana awalnya. Rayuan dan janji-janji manis pun dikatakannya dengan harapan untuk mendapatkan hatinya Dara Sunti, ia pun meminta ijin untuk menginap dan di perbolehkan oleh Dara Sunti. Sangin mendapatkan ijin menginap sesukanya dan ia beranggapan bahwa dirinya telah mendapatkan hati Dara Sunti, setelah beberapa hari rakyat Sangin mulai cemas apakah kepala suku mereka selamat atau tidak karena berada di desa Dara Sunti yang tersohor kesaktiannya itu dengan rasa emosi mereka menyerang desa Dara Sunti. Setibanya di halaman Dara Sunti, mereka disambut dengan serangan oleh Dara Sunti yang dengan gagah berani serta ketangkasan perangnya. Ia menyerang satu persatu pasukan Sangin itu, Sangin yang melihat hal tersebut terkejut dan berteriak “aku kepala sukumu! Kenapa menyerang tanpa perintahku ? Berhenti!” Teriakan ini terlambat karena sudah banyak anak buahnya yang tewas. Dara Sunti berubah sikap kepada Sangin yang dianggap sebagai seorang penipu ulung, dan ia pun beralih menyerang Sangin hingga tewas. Anak buah dan rakyat Sangin sangat ketakutan dan berlari meninggalkan tempat itu.

Pengalaman ini menambah kegelisahan Dara Sunti. Ia memikirkan bagaimana jika serangan balasan tiba-tiba datang, karena musuh tidak akan senang jika kepala sukunya terbunuh. Karena lelah memikirkan hal ini, ia pun tertidur dan bermimpi bertemu dengan ibu tua yang telah membantunya dulu. Dalam mimpinya “Ibu tua tak akan meninggalkan engkau Dara Sunti. Terhibur hati Dara Sunti. Ibu tua menyuruh nya pergi menebang pokok bambu yang agak besar. Pokok bambu  di dekat engkau mandi dahulu, bambu itu berisi serbuk putih. Ambillah serbuk putih itu dan taburkan disekililing daerah halamanmu, pasti musuh tidak akan melihat mu lagi dan seluruh rakyatmu”. Dara Sunti pun terbangun dan menjalankan apa yang perintahkan oleh Ibu tua dalam mimpinya itu, ia pun mencari tempat itu dan meraba mana bambu yang agak besar. Setelah ketemu dan ditebang pokok bambu tersebut, ia memotong ruas demi ruas dan mengumpulan serbuk putih sesuai dengan yang di pesankan oleh Ibu tua, setelah merasa cukup ia pun bergegas pulang dan di sepanjang halaman daerahnya ia menaburkan serbuk putih tersebut. Pagi tiba dan Dara Sunti mengumpulkan rakyatnya serta memberikan perintah “Mulai sekarang ini tak seorangpun ke luar rumah”, sejak saat itu musuh tidak pernah menggangu mereka.

Pembuktian Harta Terpendam Di Natai Murau

Direktorat Kebudayaan Sintang, telah datang ke tempat ini untuk mengadakan penelitian khusus. Tempat ini terletak dekat kampung Bunyau. Data-data nyata telah ditemukan, tempat penyimpanan harta karun ini benar-benar ada dan tempat penimpanannya berukuran empat puluh meter persegi.

Usaha penggalian harta karun ini terhenti sebab rakyat penduduk kampung Bunyau sangat keberatan, takut akan bencana yang akan disebabkan karena peninggalan nenek moyang. Menurut penduduk setempat, harus ada mengadakan sajen atau ijin terlebih dahulu, dengan ketentuan harus mengorbankan anak gajar atau seorang anak sulung.

Kalimantan memang banyak sekali menyimpan harta karun, di berbagai tempat yang ada di Kalimantan terutama di bagian pedalaman masih banyak menyimpan berbagai macam harta karun peninggalan para leluhur.

 

Sumber : SEJARAH – HUKUM ADAT DAN ISTIADAT KALIMANTAN – BARAT. Oleh J.U. Lontaan.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

8 points
Upvote Downvote

Total votes: 8

Upvotes: 8

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Delacroix

Wawancara: Delacroix Segera Luncurkan Mini Album Nyanyian Sang Enggang

Tatto

Bonfilio Yosafat: Tatto (Iban) Bukanlah Soal Kejahatan