in

Ironi Upacara Adat Lom Plai

Lom Plai
Keterangan foto: Ritual Adat Ngeldung (Dokumentasi Pribadi)

TEROKABORNEO.COM – Hiruk pikuk acara Lom Plai atau pesta panen padi yang diselenggarakan oleh masyarakat Dayak Wehea masih terasa hingga hari ini. Tahun ini, acara Bob Jengea yang menjadi puncak rangkaian Lom Plai di mulai di Desa Dea Beq pada tanggal 6 dan 7 April 2017 lalu, kemudian dilanjutkan di Desa Nehas Liah Bing yang diselenggarakan pada tanggal 7 dan 8 April 2017. Masih ada empat desa lagi yang akan menyelenggrakan Bob Jengea, yaitu Desa Bea Nehas, Desa Diak Lay, Desa Long Wehea, dan Desa Diaq Leway.
Suku Dayak Wehea sendiri tersebar di sejumlah Desa di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, yaitu Desa Nehas Liah Bing, Desa Long Wehea, Desa Diaq Leway, Desa Dea Beq, Desa Diak Lay, dan Desa Bea Nehas. Keenam desa ini masih memegang erat adat dan tradisinya, dan Lom Plai merupakan salah satu acara adat yang masih (akan) selalu dirayakan setiap tahun.

Lom Plai berasal dari bahasa Dayak Wehea, Lom (erau) = pesta; Plai = padi. Lom Plai adalah pesta panen padi yang selalu diselenggarakan setiap tahunnya oleh masyarakat adat Wehea sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dalam setahun. Sebagian besar acara adat ini selalu berkaitan dengan padi. Mulai dari membuka lahan hingga menuai hasil tanam. Konon, padi menjadi sakral karena perwujudan dari Putri Long Diang Yung yang berkorban nyawa demi menyelamatkan rakyatnya dari bencana kelaparan. Salah satu ritual yang paling lama penyelenggaraannya adalah rangkaian acara Lom Plai, yakni pesta panen padi. Rangkaian upacara adat Lom Plai adalah yang paling lama dari beberapa upacara adat yang lainnya yaitu sekitar satu bulan. Lom Plai dibuka dengan pemukulan gong di Eweang (sebutan untuk rumah adat Dayak Wehea) sebagai tanda dimulainya rangkaian acara.

Kemudian akan disusul dengan acara Laq Pesyai (Mengambil buah ketete dan guei=rotan). Setelah pengambilan buah ketete, pagi-pagi buta masyarakat Dayak Wehea akan bergotong royong memasang buah ketete dan rotan di sepanjang kampung. Setiap rumah wajib membantu memasang dan menyajikan makanan dan minuman untuk semua orang yang bergotong-royong. Kayu akan ditancapkan dan rotan dibentangkan di sepanjang kampung. Lalu buah ketete diikat pada rotan yang tersedia.

Masyarakat adat Dayak Wehea akan bernyanyi dan berdoa (dalam Bahasa Dayak Wehea; Enluei) setiap malam sebagai pujian syukur kepada Yang Maha Kuasa dan roh leluhur atas panen melimpah. Kegiatan ini dilaksanakan semalam suntuk hingga ayam berkokok dan sebagai ritual wajib sebelum menyambut hari puncak dari Lom Plai. Doa dan nyanyian dipanjatkan dalam Bahasa Dayak Wehea.

Acara puncak dari Lom Plai adalah Embob Jengea, atau biasa disingkat Bob Jengea. Acara ini diselenggarakan selama dua hari, hari pertama dimulai dengan Ngesea Egung (pemukulan gong), pendirian pondok-pondok di tepi sungai, menghias kampung, hingga persiapan di rumah masing-masing. Persiapan di rumah biasanya dibagi-bagi. Ada yang mencari bambu, ada yang memasak, dan persiapan lainnya. Padi yang telah dipanen, akan diolah dan dihidangkan untuk menjamu tamu yang datang berkunjung ke kampung. Makanan khas yang selalu dan wajib dihidangkan adalah beangbit (bahasa Dayak untuk dodol) dan Pluq (bahasa Dayak untuk lemang). Kedua makanan ini berasal dari beras ketan yang diolah dari hasil panen.

Hari kedua adalah hari menjamu tamu dan berpesta. Tanpa mempedulikan asal-muasal sang tamu, jika sudah masuk ke kampung seluruh masyarakat akan gembira menyambutnya. Siap-siap saja perut akan full karena setiap rumah yang dikunjungi, harus dan wajib untuk bersantap di sana. Selain itu, para perempuan adat akan melaksanakan ritual ‘pembersihan kampung’. Tak ada yang boleh melintasi jalanan di kampung, kecuali para perempuan adat. Seluruh orang diwajibkan untuk turun ke pondok-pondok tepi sungai yang telah disiapkan. Kemudian akan ada ritual perang-perangan di sungai dan lomba mendayung perahu, dilanjutkan dengan acara-acara lainnya hingga malam.

Sebagai penutup dari acara lom plai masyarakat Dayak Wehea akan melaksanakan ritual Ngeldung dan Embos Epaq Plai. Ritual Ngeldung akan berlangsung selama 3 hari. Selang beberapa hari dari Ngeldung, ritual Lom Plai akan di lanjutkan dengan Embos Epaq Plai.

Lom plai telah diapresiasi oleh pemerintah dengan memasukkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan tahun 2015 yang lalu. Penyelenggaraan Lom Plai didasari oleh kesadaran masyarakat itu sendiri atas panen yang melimpah sehingga ucapan syukur menjadi suatu kewajiban. Masyarakat Dayak Wehea dalam urgensinya tidak membutuhkan reward atau punishment seperti yang sering diterapkan di dalam perusahaan-perusahaan, namun ada hal yang lebih esensial maka harus dilaksanakan.

Namun, beberapa tahun belakangan, makna dari Upacara Lom Plai mulai tergerus. Penyebab utamanya adalah karena masuknya beberapa perusahaan terutama perusahaan perkebunan kelapa sawit. Saat ini, banyak masyarakat Dayak Wehea yang mulai beralih dari menanam padi menjadi menanam sawit bahkan buruh di perusahaan. Hal tersebut manjadi ancaman baru bagi suku Dayak Wehea dengan segala adat dan tradisi di dalamnya.

Ekspansi Perusahaan Kelapa Sawit

Kabupaten Kutai Timur merupakan salah satu kabupaten terkaya setelah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dan Kabupaten Bengkalis, Riau. Kabupaten Kutai Timur kaya akan sumber daya alam minyak, gas, tambang, dan perkebunan lainnya. Hasil audit BPK tahun 2013, Kabupaten Kutai Timur memperoleh jatah atas hasil sumber daya alamnya sebesar Rp 1. 486. 912. 938. 872 (1,486 T lebih). Prestasi ini luar biasa menakjubkan dari perspektif ekonomi. Namun apakah prestasi ini menjamin keberlangsungan hidup masyarakat di Kabupaten Kutai Timur, khususnya suku Dayak Wehea?

Menurut data BAPPEDA Kutai Timur pada tahun 2014 ada 13 perusahaan HPH sebanyak 498.805 ha dan 21 perusahaan HTI sebanyak 973.160 ha. Sawit Perkebunan besar sebanyak 318.025, 81 ha dan masih ada perusahaan-perusahaan lain yang masih aktif beroperasi di wilayah Kutai Timur seperti perusahaan minyak, tambang, dan lainnya. 700 ribu hektar hutan Kutai Timur akan beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.

Ekspansi perusahaan-perusahaan di Kutai Timur begitu masif, dan masih banyak lagi perusahaan lain yang mengantongi izin dari pemerintah daerah Kabupaten Kutai Timur.

Ekspansi perusahaan-perusahaan di Kutai Timur berbanding lurus dengan konflik-konflik yang terjadi di Kabupaten Kutai Timur. Sepanjang tahun 2016 lalu, Polres Kutai Timur menangani sebanyak 27 kasus. Dari 27 kasus, sebanyak 50% diantaranya terjadi antara masyarakat dan perusahaan. Sepanjang tahun 2015, Polres Kutim menangani 33 kasus sengketa lahan. Kasus sengketa lahan yang terjadi di wilayah Kutai Timur disebabkan saling klaim antara kedua belah pihak. Tak jarang, kedua pihak tersebut sama-sama memiliki bukti atas kepemilikian lahan baik berupa surat yang menguatkan kepemilikan lahan yang disengketakan atau surat pembebasan lahan.

Dari berbagai masalah sengketa lahan tersebut, sebagian besar adalah seputar perkebunan kelapa sawit. Masalah ini sebelumnya pernah terjadi di wilayah Kutai Timur, secara khusus di Kecamatan Muara Wahau.   Salah satunya adalah konflik yang terjadi awal tahun 2011 silam antara masyarakat dari  tiga desa (Demonstrasi tersebut diikuti lebih dari 200 orang warga desa, diantaranya Desa Dea Beq, Diak Lay dan Bea Nehas) di wilayah Sungai Telen, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, dengan perusahaan kelapa sawit PT. Swakarsa Group. Penduduk tiga desa tersebut, bahkan sempat menduduki pabrik kelapa sawit (PKS-II) PT. Swakarsa Group.

Hingga saat ini wilayah Kecamatan Muara Wahau menjadi salah satu ikon perkebunan sawit di Kabupaten Kutai Timur. Menurut hemat penulis, ada beberapa perusahaan yang berada di wilayah Kecamatan Muara Wahau ataupun mengitari wilayah Kecamatan ini, yaitu PT Tapian Nadenggan (anak perusahaan PT Sinar Mas Tbk) dengan luas wilayah 12,473.11 ha (data tahun 2013)), PT Dharma Satya Nusantara (dengan lima anak perusahaan  yaitu PT Swakarsa Sinar Sentosa (SWA), PT Dharma Agrotama Nusantara (DAN), PT Dharma Intisawit Nugraha (DIN), PT Dewata Sawit Nusantara (DWT), dan PT Karya Prima Agro Sejahtera (KPS) serta memiliki  total luasan Hak Guna Usaha (HGU) sebesar 50.231 ha dan Ijin Lokasi 10.000 ha ), PT Astra Agro Lestari Group, PT Nusantara Agro Sejahtera, dan perusahaan lainnya. (beberapa perusahaan tidak memiliki data yang lengkap mengenai luas areal konsesinya).

Apabila kita mengaitkan Lom Plai dengan ekspansi yang perusahaan lakukan, tentu saja ada kaitan yang sangat erat antara kedua hal tersebut. Di satu sisi, perayaan Lom Plai selalu dirayakan setiap tahunnya, dengan makna ucapan syukur atas panen padi yang melimpah. Di sisi lain, tanpa sadar, perusahaan-perusahaan  kelapa sawit tersebut terus-menerus menambah luas area konsesinya menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Menurut data yang dikeluarkan Pemerintah Daerah tahun 2014,  sawit yang diproduksi oleh rakyat sebesar 86.061, 40 ha, sedangkan perkebunan besar milik swasta yang diproduksi sebesar 318. 028, 81 ha. Luas wilayah Kabupaten Kutai Timur saat ini adalah sebesar 35.747,50 km2. Artinya 11,31 % daratan Kabupaten Kutai Timur adalah lahan perkebunan kelapa sawit. Angka ini hanya mewakili lahan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2014, belum lagi perusahaan-perusahaan lain seperti perusahaan tambang batu bara, minyak, dan lainnya serta izin-izin yang dikantongi oleh pemerintah daerah.

Apabila kita mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Claudia D’ Andrea di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah, teritorialisasi adalah srategi untuk membuat suatu klaim atas wilayah. Teritorialitas merupakan fenomena yang secara luas merujuk pada cara dimana kontrol diterapkan atas suatu area geografis, misalnya mengikutsertakan atau tidak mengikutsertakan orang-orang dan mengontrol apa yang orang-orang lakukan dan apa yang mereka akses untuk mendapatkan sumber daya di dalam batas-batas geografis tersebut. Lebih jauh lagi Vandergeest dan Peluso dalam Andrea (2013) mengidentifikasi tiga tahap yang dikembangkan secara sistematis. Pertama, deklarasi negara bahwa seluruh tanah yang tidak digarap yang berada di dalam garis batas negara merupakan hutan negara dan berada di bawah yuridiksi lembaga kehutanan negara. Kedua, Penarikan garis demarkasi dari tanah hutan permanen dan cagar alam. Ketiga, Pemetaan kembali atas hutan dan lahan lain berdasarkan kriteria ilmiah seperti tipe tanah, derajat kemiringan tanah, serta vegetasi. Tahapan teritorialisasi selalu menjadi alasan konflik lahan yang terjadi di masyarakat mana pun di Indonesia.

Kasus seperti ini lama kelamaan akan mereduksi apa yang menjadi esensi dari upacara adat seperti Lom Plai. Betapa tidak, banyak masyarakat yang beralih dari petani ladang ke perkebunan kelapa sawit, ada pula yang masih bertahan sebagai petani ladang, ada pula yang kedua-duanya: memiliki ladang padi dan lahan sawit. Jika ekspansi kapital terus menerus “dikampanyekan” oleh pemerintah sebagai satu-satunya yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, maka benarlah determinisme ekonomi yang dikatakan oleh Marx dalam Barker (2013), basis struktur akan memengaruhi  supra struktur. Basis Struktur terdiri atas cara produksi dan relasi produksi yang akan memengaruhi supra strukturnya yaitu kebudayaan, politik, hukum, dll. Sehingga kebudayaan akan bersifat politis karena ia mengekspresikan relasi sosial kekuasaan kelas dengan cara menaturalisasikan tatanan sosial sebagai suatu “fakta” dan mengaburkan relasi eksploitasi di dalamnya. Pada akhirnya, Lom Plai hanya akan menjadi upacara-upacara yang tidak memiliki esensi.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

9 points
Upvote Downvote

Total votes: 9

Upvotes: 9

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Pemindahan Ibukota

Pemindahan Ibukota ke Palangkaraya: Omong Kosong Pemerintahan Jokowi-JK

Ngayau

Ngayau dan Rekonstruksi Wacana Kolonial