in

Kabut Asap Bencana atau Ulah Manusia

kabut asap bencana atau ulah manusia

TEROKABORNEO.COM – Masih lekat di ingatan bagaimana kabut asap yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera selama beberapa bulan terakhir. Meskipun saat ini hujan sudah mulai turun, namun itu tidak menghapus memori betapa berat penderitaan yang harus ditanggung oleh saudara-saudara kita di Kalimantan dan Sumatera akibat kabut asap tersebut. Kabut asap sudah menjadi bencana tahunan yang selalu terjadi seiring bergantinya musim penghujan ke musim kemarau. Sialnya, bencana itu seolah-olah adalah titipan takdir yang tak dapat dihindari oleh manusia.

Tidak mengherankan jika beberapa bulan terakhir kabut asap menjadi primadona di dalam setiap pemberitaan, baik media daerah, nasional bahkan internasional. Kabut asap pekat seperti yang terjadi di Palangkaraya hingga berada di level 2.900 (empat kali lipat di atas ambang batas maksimal) akhirnya menimbulkan berbagai aksi protes dari berbagai kalangan, baik masyarakat yang terkena langsung dampak kabut asap tersebut maupun pihak-pihak yang berempati terhadap para korban. Aksi solidaritas terus mengalir dari seluruh penjuru negeri, tidak terkecuali mahasiswa Kalimantan di Yogyakarta yang mengadakan aksi solidaritas dan penggalangan dana di Tugu Yogya pada 25 Oktober lalu. Berangkat dari kepedulian dan keprihatinan yang sama, semua pihak pun turut ambil bagian dalam meringankan penderitaan para korban akibat asap beracun yang harus mereka hirup setiap saat.

Kabut asap Kalimantan melumpuhkan kegiatan masyarakat

Kabut asap yang terjadi selama lebih kurang empat bulan tersebut telah berhasil melumpuhkan nyaris seluruh aktivitas masyarakat. Kondisi yang mengharuskan masyarakat untuk tidak keluar rumah membuat kegiatan perekonomian seakan mati total. Masyarakat harus kembali memutar otak untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari karena pekerjaannya terhambat oleh kabut asap tersebut. Seperti halnya para nelayan yang terpaksa untuk menyandarkan kapal-kapalnya di pantai karena jarak pandang yang terbatas ataupun industri-industri kecil yang menghentikan proses produksi karena stok bahan baku yang sulit didapat. Selain itu, kabut asap juga melumpuhkan proses belajar-mengajar hampir di seluruh daerah di Kalimantan dan Sumatera. Pemerintah Daerah menghimbau agar sekolah-sekolah meliburkan para siswanya karena kabut asap yang semakin tidak terkendali. Generasi muda yang katanya sebagai penerus bangsa harus menghentikan proses belajar-mengajarnya karena kabut asap tersebut. Beban yang harus dipikul generasi muda akibat keserakahan dan relasi kekuasaan yang menindas.

Dampak terparah kabut asap ialah terjadinya degradasi kesehatan masyarakat. Kabut asap beberapa bulan terakhir yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera membuat masyarakat hidup dalam kungkungan asap beracun yang mengancam kehidupan mereka. Setiap hari mereka harus meregang nyawa dan berharap setiap hela nafas tidaklah menjadi yang terakhir. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan, total sebanyak 19 orang korban meninggal dunia dengan persebaran sebanyak 5 orang di Kalimantan Tengah, 5 orang dari Sumatera Selatan, 5 orang dari Riau, 2 orang dari Jambi, dan 3 orang dari Kalimantan Selatan. Sayangnya, setelah berbagai dampak yang timbul akibat kabut asap tersebut, pihak-pihak yang harusnya bertanggung jawab seakan saling melempar “bola panas” dan saling menyatakan bahwa kejadian tersebut bukanlah kewenangannya.

Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan sudah seperti penyakit yang belum ditemukan obatnya. Pihak-pihak terkait seolah tidak dapat menemukan akar permasalahan sehingga kabut asap harus terjadi berulang setiap tahun. Padahal, berdasarkan Data Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan dan Polri menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera sebagian besar terjadi di area konsesi perusahaan HTI maupun perkebunan. Data tersebut mengindikasikan bahwa biang kerok atas bencana kabut asap tersebut ialah pembakaran yang dilakukan secara sengaja oleh korporasi. Namun sialnya, masyarakat sering kali menjadi tumbal atas ulah korporasi tersebut. Metode pertanian masyarakat dengan cara membakar untuk lahan pertanian menjadi dalih dalam upaya pengkambing-hitaman masyarakat.

Pemerintah dan aparat penegak hukum seakan bungkam dan tak mempunyai “taring” untuk menindak tegas setiap pelaku pembakaran hutan dan lahan yang akibatnya harus dinikmati oleh masyarakat Kalimantan dan Sumatera ini. Simbiosis mutualisme antara pemeritah dan korporasi menjadikan korporasi semakin sewenang-wenang melakukan kejahatannya. Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebutkan, pada tahun 2013 dari 117 perusahaan yang mereka laporkan sebagai pelaku pembakaran hutan dan lahan di Riau, hanya delapan perusahaan yang ditindaklanjuti dan satu yang divonis. Pemerintah bahkan berupaya mati-matian untuk menutupi nama-nama perusahaan yang terbukti dengan sengaja melakukan pembakaran tersebut.

Logika kapitalisme yang menjadi dasar tindakan korporasi demi efisiensi biaya pembukaan lahan atau land clearing menjadi akar penyebab bencana yang setiap tahun menghantui masyarakat. Ketidakseriusan Pemerintah dalam menindak tegas korporasi-korporasi yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan menegaskan tidak berdayanya Negara terhadap kekuasaan modal. Sistem-sistem kapitalisme yang merusak lingkungan hingga menggilas hak-hak hidup manusia ini bukanlah suatu kewajaran. Kabut asap yang sekarang seolah sudah menjadi agenda tahunan ini merupakan akumulasi dari kejahatan yang dilakukan oleh korporasi dengan diperparah legitimasi dari para penguasa yang cacat nurani.

 

Tulisan pernah dimuat dalam MiniNews Bumi Kalimantan Edisi I, November 2015.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

5 points
Upvote Downvote

Total votes: 7

Upvotes: 6

Upvotes percentage: 85.714286%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 14.285714%

senjakala peradaban tanah

Senjakala Peradaban Tanah

Pejuang Adat Muara Tae Dihantui Ancaman Pembunuhan