in

‘Kabut Gelap’ Event Kebudayaan Dayak di Yogyakarta

Event Kebudayaan Dayak di Yogyakarta

TEROKABORNEO.COM – Tidak lama lagi, tahun 2016 akan segera menemui akhir untuk menjemput awal yang baru. Hingga penghujung tahun ini, setidaknya beberapa pagelaran kebudayaan Dayak telah dilaksanakan di kota Yogyakarta. Sependek ingatan penulis, sedikitnya terdapat tiga kegiatan akbar telah diselenggarakan antara lain; Festival Mini Isen Mulang, Pekan Seni Budaya Dayak Kalimantan (PSBDK) dan Pekan Budaya Dayak Nasional (PBDN).

Kegiatan kebudayaan tersebut tentunya diselenggarakan dengan beberapa alasan antara lain: pertama, untuk mempromosikan kebudayaan Dayak kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat Yogyakarta tempat kegiatan tersebut terselenggara. Kedua, agar generasi muda Dayak di Yogyakarta semakin akrab dan dapat menjadi penyambung estafet melestarikan kebudayaannya.
Sampai di titik tersebut, tentunya semua pihak pasti merasa bangga dan mendukung secara penuh kegiatan-kegiatan tersebut.

Apabila kita bergeser dan melihat dari sudut lain, akan timbul berbagai pertanyaan mengganjal akan maksud dan tujuan kegiatan-kegiatan tersebut. Setelah sepakat akan berbagai tujuan ‘mulia’
kegiatan tersebut, pertanyaan utama yang akan muncul ialah “Apakah kegiatan-kegiatan tersebut mendukung eksistensi kebudayaan Dayak?”. Jika kita teliti atau setidaknya jujur dengan dengan diri sendiri, sudah tentu jawaban pertanyaan tersebut adalah TIDAK. Mengapa?

Menjawab pertanyaan tersebut, penulis menitikberatkan pada beberapa hal. Pertama, eksklusifitas event kebudayaan Dayak di Yogyakarta. Pagelaran ‘kebudayaan Dayak’ di Yogyakarta selama ini
telah memunculkan ‘wajah’ barunya yang sangat bertolak belakang dengan esensi kebudayaan Dayak sendiri. Eksklusifitas pada setiap event ‘kebudayaan Dayak’ tersebut terlihat dari tempat pelaksanaan dan teknis pelaksaannya.

“Hujan” anggaran pagelaran ‘kebudayaan Dayak’ di Yogyakarta selalu deras setiap tahunnya. Puluhan bahkan ratusan juta tidak segan-segan dialokasikan demi terselenggaranya event-event tersebut. Pemerintah daerah, investor dan para donatur adalah ‘jantung’ kegiatan-kegiatan tersebut.
Gedung-gedung mewah nan mahal adalah tempat wajib untuk menyelenggarakan pagelaran “KEBUDAYAAN DAYAK” tersebut. Wajah eksklusif lain tampak pada mekanisme ticketing yang diberlakukan pada salah satu event kebudayaan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, sekali masuk gedung pertunjukkan setara dengan biaya makan selama satu hari di kota pelajar ini. Menjadi sebuah paradoks jika beralasan bahwa hal tersebut merupakan keharusan demi kelangsungan kegiatan namun berlangsung di gedung bertarif tinggi.

Kedua, minimnya muatan edukatif. Pagelaran kebudayaan yang bertujuan agar generasi muda akrab dan dapat menjadi agen melestarikan kebudayaannya ternyata adalah omong-kosong belaka. Event-event tersebut selalu melibatkan mahasiswa-mahasiswi di dalamnya, baik sebagai panitia penyelenggara maupun sebagai peserta/kontingen. Pagelaran kebudayaan yang seharusnya menjadi media belajar generasi muda tidak lebih menjadikan mahasiswa/i sebagai event organizer. Event-event kebudayaan tersebut bahkan semakin mengasingkan para generasi muda dari akar kebudayaannya sendiri karena disibukkan dengan hal-hal yang (sebenarnya), sangat tidak penting.

Ketiga, sekadar romantisme dan eksotisme kebudayaan. Banyaknya kegiatan-kegiatan kebudayaan Dayak di Yogyakarta kerap – jika tidak ingin dikatakan – absen terhadap maraknya eksploitasi yang
sesungguhnya mengancam kebudayaan dan eksistensi Dayak itu sendiri. Semakin menjamurnya berbagai perusahaan di Kalimantan yang berakibat pada hancurnya ekosistem dan tatanan sosial ekonomi masyarakat jarang bahkan tidak pernah menjadi perhatian pihak penyelenggara event-event tersebut. Ancaman kebakaran hutan akibat ulah perusahaan-perusahaan ‘nakal’ perambah hutan, kriminalisasi terhadap masyarakat adat hingga aksi teror di Bumi Kalimantan tidak pernah disentuh sedikitpun.

Pada akhirnya, event-event yang mengatasnamakan kebudayaan Dayak tersebut tidak lebih dari sekadar romantisme dan eksotisme kebudayaan. Kebudayaan ekspresif seperti tari-tarian dan alunan musik menjadikan satu-satunya tolok-ukur ‘event-event kebudayaan Dayak’ tersebut.
Upaya pelestarian yang tidak berlandaskan pada semangat akar kebudayaan Dayak itu sendiri seperti sengaja menutupi ‘kanker ganas’ bernama penghancuran alam dan membalut luka itu hanya dengan menampilkan ‘keindahan’ kebudayaan semata.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

21 points
Upvote Downvote

Total votes: 87

Upvotes: 54

Upvotes percentage: 62.068966%

Downvotes: 33

Downvotes percentage: 37.931034%

Mempertegas Budaya Dayak dalam Bingkai Kebhinekaan

Mempertegas Budaya Dayak dalam Bingkai Kebhinekaan

Pekan Budaya Dayak Nasional

Pekan Budaya Dayak Nasional II: Sebuah ‘Sampah Ingatan’ (?)