in

Keldung Las Wehea Long Sekung Metguen

Keldung Las Wehea Long Sekung Metguen

TEROKABORNEO.COM – Pasca pembakaran hutan dan kabut asap yang melanda Kalimantan dan Sumatera, kekhawatiran muncul akan kelestarian hutan di tanah Kalimantan. Kondisi alam saat ini kian memperihatinkan dan berbanding terbalik dengan slogan yang mengatakan bahwa hutan Kalimantan merupakan paru-paru dunia. Keadaan yang diperparah oleh gempuran eksploitasi perusahaan perkebunan monokultur dan pertambangan tersebut menyisakan pertanyaan, apakah masih ada kelompok yang membela dan berjuang atas nama alam serta masyarakat adat?.

Jauh di pedalaman Kalimantan Timur, dan berjarak sekitar 450km dari Kota Samarinda, sebuah “rumah” bagi flora dan fauna berdiri kokoh sekitar lebih dari satu dekade yang menamakan diri sebagai Keldung Las Wehea Long Sekung Metguen atau dalam Bahasa Indonesia Hutan Lindung Wehea Long Sekung Metguen. Hutan Lindung Wehea terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Hutan Lindung Wehea diresmikan pada tahun 2004 oleh masyarakat Dayak Wehea dan dilindungi oleh hukum adat dengan luas hutan sekitar 38.000 ha dan berada di ketinggian 250 m di Timur sampai 1750 m di Barat. Hutan Wehea adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk sungai Wehea di Kabupaten Kutai Timur dan Sungai Long Gi di Kabupaten Berau. Hutan Lindung Wehea sebelumnya adalah hutan eksploitasi perusahaan Hak Pengusaha Hutan (HPH) PT. Gruti III yang kemudian pada tahun 1995 digabung dengan PT. Inhutani II menjadi PT. Loka Dwihutani. Pada tahun 2003, Pemprov Kaltim mengevaluasi hutan tersebut dan menyatakan bahwa keadaan hutan masih dalam kondisi baik.

Keldung Las Wehea Long Sekung Metguen

Menurut penelitian dari The Nature Concervancy, di Hutan Lindung Wehea terdapat berbagai jenis satwa liar antara lain 19 jenis mamalia, 114 jenis burung, 12 jenis hewan pengerat, 9 jenis primata, dan 59 jenis pohon bernilai ekonomis. Jika menjelajah ke dalam hutan, masih banyak sekali satwa yang bisa ditemui, salah satunya adalah orangutan yang akhir-akhir ini kehidupannya selalu diusik oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab.

Hutan Lindung Wehea merupakan hutan sekunder yang dijaga oleh masyarakat adat Dayak Wehea serta dilindungi hukum adat sebelum akhirnya disahkan oleh Pemerintah Daerah. Pada tahun 2005, Surat Keputusan Bupati Kutai Timur No. 44/02.188.45/HK/II/2005 membentuk sebuah Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea (BP-HULIWA) yang terdiri dari pemerintah, masyarakat adat, lembaga pendidikan, dan LSM. Dengan adanya BP-HULIWA, pemerintah daerah Kutai Timur dapat menganggarkan dana untuk pengelolaan Hutan Lindung Wehea.

Kearifan lokal yang sangat kuat dari masyarakat adat Dayak Wehea dan kentalnya tradisi di pedalaman Kalimantan Timur ini membuat Hutan Lindung Wehea bisa bertahan hingga saat ini. Berbagai penghargaan datang dan menyambut baik akan adanya Hutan Lindung Wehea tersebut. Kepedulian masyarakat adat Dayak Wehea ini mengantarkan pada suatu bentuk penghargaan yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia berupa penghargaan Kalpataru. Penghargaan Kalpataru tersebut diberikan langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kepada Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing di Istana Kepresidenan, di Jakarta, 5 Juni 2009 lalu.

Belum lama ini, Hutan Lindung Wehea mendapatkan penghargaan Equator Initiativ atau Customery Council of Wehea sebagai finalis of the Equator Prize 2015 pada tanggal 1 Oktober 2015. Kemudian pada tanggal 4 dan 5 Desember 2015 lalu diadakan rapat dengan tema “Global Landscape Forum” sehubungan dengan pengelolaan Hutan Lindung Wehea di Paris, Perancis. “Di sana kami membahas mengenai pengelolaan hutan terkait Hutan Lindung Wehea yang menerima penghargaan Equator Initiatif atau Customery Council of Wehea” kata Ledjie Taq selaku Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing via telepon (9/12).

Semua pihak terlibat dalam proses pelestarian Hutan Lindung Wehea Long Sekung Metguen. Salah satu diantaranya adalah pemuda-pemuda Dayak Wehea yang menamakan dirinya komunitas Petkuq Mehuey (sebutan untuk penjaga Hutan Lindung Wehea) dan secara struktural berada di bawah pengawasan Lembaga Adat Dayak Wehea. Petkuq Mehuey terdiri dari pemuda-pemuda Dayak Wehea yang menjaga hutan secara bergantian. Hutan lindung Wehea rutin dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Wisatawan-wisatawan tersebut pun akan disambut oleh Petkuq Meheuy (PM) yang akan memandu sekaligus menjadi tour guide dari para wisatawan ketika masuk ke dalam hutan agar proses pengawasan terhadap hutan pun bisa tetap berlangsung.

Hutan merupakan jantung kehidupan bagi masyarakat adat Dayak Wehea, segala proses pemenuhan kehidupan dimulai dari hutan. Oleh sebab itu, butuh dukungan dari semua pihak untuk tetap menjaga serta melestarikan Hutan Lindung Wehea Long Sekung Metguen agar tetap bertahan dan dapat dinikmati oleh anak cucu nanti. Di dalam tulisan Kepala Adat Dayak Wehea Desa Nehas Liah Bing pada salah satu write on the wall pada acara yang diselenggarakan oleh United Nation Development Programe (UNDP) di Paris, beliau mengatakan “Semua orang Wehea mengharapkan semua orang melindungi hutan”.

Wehea Long Sekung Metguen merupakan harapan dan keyakinan akan arti sebuah perjuangan dan sekaligus buah keberhasilan dari konsistensi dari perjuangan itu sendiri. Tempat itu juga sebagai contoh bagi kelompok masyarakat lain untuk selalu mempertahankan hutan dengan kearifan lokal serta warisan adat istiadat yang dapat membangkitkan rasa persatuan agar tidak mudah dipecah-belah dan dikuasai oleh segelintir orang yang hanya mencari keuntungan dan hanya bisa merusak alam.

 

Oleh : Emiliani Dea, Mahasiswi Atma Jaya Yogyakarta

What do you think?

2 points
Upvote Downvote

Total votes: 2

Upvotes: 2

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Polemik Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah

Polemik Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah

Sejarah Singkat Bahasa Melayu di Indonesia

Sejarah Singkat Bahasa Melayu di Indonesia