in

Kerusakan Ekosistem Hutan Akibat Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Kerusakan ekosistem alam sudah tidak terbendung lagi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh berkembang pesatnya perkebunan kelapa sawit

TEROKABORNEO.COM – Kerusakan ekosistem alam sudah tidak terbendung lagi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh berkembang pesatnya perkebunan kelapa sawit yang terus masuk ke berbagai daerah yang memiliki potensi alam cukup baik untuk ditanami kepala sawit. Dampak-dampak negatif mengenai hal tersebut pun mulai dirasakan pada dewasa ini.

Menurut UU No 32 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 17 tentang pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup di katakan Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup

Kerusakan ekosistem di Indonesia, telah terjadi pada berbagai tempat dan berbagai tipe ekosistem. Sebagai contoh, pada ekosistem pertanian atau perkebunan. Ancaman kepunahan satwa liar juga telah terjadi pada pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit pada lahan hutan.

Pertumbuhan sub-sektor kelapa sawit telah menghasilkan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang sering digunakan pemerintah bagi kepentingannya untuk mendatangkan investor ke Indonesia. Namun pengembangan area perkebunan kelapa sawit ternyata menyebabkan meningkatnya ancaman terhadap keberadaan hutan Indonesia.

Konversi hutan alam masih terus berlangsung hingga kini bahkan semakin menggila karena keinginan pemerintah yang menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Program sawit di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di pulau Kalimantan. Program pemerintah itu tentu saja sangat diminati oleh investor, karena lahan yang ditunjuk pemerintah untuk perkebunan sawit adalah wilayah hutan. Sebelum berinvestasi para investor sudah bisa mendapatkan keuntungan besar, berupa kayu dari hutan dengan mengurus surat Ijin Pemanfaatan Kayu kepada pihak pemerintah.

Akibat deforetasi tersebut Indonesia mendapat ancaman hilangnya keanekaragaman hayati dari ekosistem hutan hujan tropis. Juga menyebabkan hilangnya budaya masyarakat di sekitar hutan.

Budidaya tanaman kelapa sawit menerapkan sistem monokultur yang mensyaratkan pembersihan awal pada lahan yang akan digunakan (land clearing). Secara ekologis, memang pola monokultur lebih banyak merugikan karena tanaman tersebut akan berdampak pada penghilangan atau pengurangan tanaman lain.

Bukan hanya itu praktek konversi hutan alam untuk pengembangan area perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan jutaan hektar area hutan konversi berubah menjadi lahan terlantar berupa semak belukar atau lahan kritis baru, sedangkan realisasi pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan yang direncanakan.

Dampak Perkebunan Kelapa Sawit Bagi Ekosistem Hutan

Hutan mempunyai fungsi ekologi yang sangat penting, antara lain, hidro-orologi, penyimpan sumberdaya genetik, pengatur kesuburan tanah hutan dan iklim serta rosot (penyimpan, sink) karbon, Hutan juga berfungsi sebagai penyimpan keanekaragaman hayati.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit memiliki dampak-dampak besar bagi penduduk Indonesia, khususnya Masyarakat di Kalimantan dan Sumatra yang merupakan basis area perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia.

Kerusakan dan degradasi hutan menyebabkan perubahan iklim dengan dua cara. Pertama, menggunduli dan membakar hutan melepaskan karbondioksida ke atmosfir dan kedua, wilayah hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon berkurang.

Peran hutan dalam mengatur iklim sangat penting. Sehingga, jika kita terus menghancurkan hutan tropis, maka kita akan kalah dalam memerangi perubahan iklim.

Hutan adalah rumah bagi keanekaragaman hayati dunia, jutaan binatang dan tumbuhan. Terlebih lagi, jutaan masyarakat asli yang bergantung hidup kepada hutan sebagai sumber kehidupan mereka.

Dampak Negatif Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Ekosistem Hutan

Dampak negatif yang ditimbulkan secara ekologis pada perkebunan kelapa sawit telah merubah ekosistem hutan, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plasma nutfah, sejumlah spesies tumbuhan dan hewan yang semakin punah.

Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama.

Praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Selain itu juga mengakibatkan hilangnya sejumlah sumber air, sehingga memicu kekeringan, peningkatan suhu, dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam.

Dampak negatif bertambah serius karena dalam praktek pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.

Secara sosial sering menimbulkan terjadinya konflik antara perusahaan dengan masyarakat sekitar baik yang disebabkan oleh konflik kepemilikan lahan atau karena limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit.

Dampak negatif tersebut akan terus berlangsung jika pemerintah dan pemerhati lingkungan tidak segera mengambil tindakan dan memberikan solusi yang tepat.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

61 points
Upvote Downvote

Total votes: 61

Upvotes: 61

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Raden Tumenggung Setia Pahlawan

Pahlawan Nasional Indonesia Raden Tumenggung Setia Pahlawan

Kebudayaan Dayak Sebagai Tanggung Jawab Lintas Identitas