in

Kilas Balik Perlawanan Rakyat Sintang Terhadap Belanda

Perlawanan Rakyat Sintang
Halaman depan rumah dinas Bupati Sintang. Pendopo rumah dinas Bupati Sintang ini kabarnya akan dijadikan sebagai cagar budaya. Bangunan peninggalan penjajahan Belanda ini, sudah berdiri sejak tahun 1882 sebagai rumah Asisten Residen Belanda. (FOTO SUARA PEMRED/ abdulkhalikurrahman)

TEROKABORNEO.COM – Pada mulanya nama kota Sintang adalah Senentang. Nama tersebut digunakan oleh penduduk setempat dikarenakan banyaknya aliran sungai yang mengalir tentang-menentang satu sama lain. Adapun pendiri awal kota Sintang ialah Demong Irawan yang bergelar Djubari I. Demong Irawan adalah keturunan kesebelas dari Adji Melayu dan istrinya Putung Kumpat. Perjalanan terbentuknya kota Sintang tidaklah terjadi dalam waktu yang singkat. Berbagai peristiwa-peristiwa telah terjadi di dalam sejarah kota ini, termasuk perlawanan rakyat Sintang terhadap kolonialisme Belanda pada saat itu.

Kedatangan Belanda pertama kali di Kota Sintang adalah pada tahun 1820-an. Pada awalnya, orang Belanda yang datang pertama kali di kota Sintang diterima dengan baik oleh Pangeran Ratu Mohamad Kamarudin. Orang Belanda tersebut diberikan tempat tinggal di daerah yang sekarang dikenal sebagai Masuka. Daerah tersebut sangat strategis mengingat berada dekat dengan persimpangan antara sungai Melawi dan sungai Kapuas.

Selanjutnya pada tahun 1822 mulai berdatangan para serdadu Belanda. Kedatangan para serdadu Belanda tersebut disambut baik oleh pihak kerajaan Sintang. Berbagai siasat para serdadu Belanda untuk menguasai kota Sintang mulai dijalankan. Hukum-hukum dan peraturan Belanda mulai menggantikan adat-adat kerajaan. Awal keberhasilan Belanda tersebut dicapai tanpa terjadinya pertumpahan darah sedikitpun.

Meninggalnya raja Sintang Pangeran Mohammad Kamarudin tahun 1823 membuat kekuasaan Belanda semakin bertambah.  Putra Mahkota Ade Mohammad kemudian naik takhta menggantikan ayahnya. Belanda pun lantas menambah jumlah serdadunya di kota Sintang lengkap dengan persenjataan.

Strategi adu domba atau lebih dikenal dengan istilah devide et impera oleh Belanda membuat goyah posisi raja Sintang. Keadaan tersebut membuat raja Sintang terpaksa membuat kontrak untuk meminta bantuan pihak Belanda. Sesudah kontrak tersebut, Belanda mendatangkan seorang asisten residen bernama Kefron beserta stafnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di kerajaan Sintang. Mulai dari saat itu, semakin berkuranglah kekuasaan kerajaan Sintang dan Belanda hampir menguasai seluruh kota Sintang.

Perlawanan rakyat Sintang yang pertama terhadap Belanda di kota Sintang terjadi secara spontan akibat semakin tertindasnya masyarakat akibat kekuasaan Belanda. Perlawanan tersebut dikomandani oleh Pangeran Ratu Kesuma Idris di Nanga Kayan, Pangeran Muda, Pangeran Anum dan Pangeran Kuning bersama-sama seluruh rakyat. Pertempuran demi pertempuran terjadi untuk menghancurkan kekuasaan Belanda di Kota Sintang. Adapun perang yang terjadi antara lain:

Perang Tebidah (Pangeran Muda)

Pangeran Muda adalah anak Pangeran Kuning. Ia juga menggunakan nama Pangeran Ratu Kesuma Idris. Pangeran Muda bersama pamannya Pangeran Anum dan seluruh pasukan melakukan berbagai pertempuran demi meruntuhkan Belanda. Pada tahun 1857, Pangeran Muda akhirnya meninggal akibat sakit yang dideritanya. Sebelum meninggal Pangeran Muda sempat menyatakan bahwa “Aku sampai mati, jangankan jenazahku, ulatkupun tidak rela berjumpa dengan Belanda”. Benar saja, setelah wafatnya Pangeran Muda, perlawanan terhadap Belanda masih terus terjadi.

Perlawanan-perlawanan terhadap Belanda tersebut membuat seorang asisten residen Belanda bersama Controleur Khier mendatangi Tebidah. Kedatangan mereka berusaha untuk menangkan keadaan dan membujuk rakyat untuk menghentikan perlawanan. Upaya persuasif Belanda tersebut sedikit membuat rakyat mengurangi perlawanan terhadap Belanda.

Perang Pangeran Mas

Pada tahun 1855, pangeran Adi Patih meninggal dunia. Anaknya Ade Abdul Rasyid menggantikan dirinya. Tahun 1867, terjadilah pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Mas. Pangeran Mas adalah orang Banjar yang datang karena mendengar adanya perlawanan melawan kekuasaan Belanda di Kota Sintang.

Sejak awal kedatangannya di Sintang, Pangeran Mas langsung mengatur siasat untuk menyerang. Benteng pertahanannya terletak di Batu Baning atau sekarang dikenal sebagai Kampung Ladang. Pasukan Pangeran Mas menggunakan kapal yang diberi nama Kapuas. Pertempuran tersebut berhasil menewaskan banyak pasukan Belanda. Tidak lama setelah pertempuran tersebut, Pangeran Mas meninggal dunia. Mendengar kabar tersebut,  Belanda langsung balik menyerang tanpa adanya perlawanan yang berarti.

Perang Abang Kadri (Raden Kesuma Yuda)

Berani Abang Kadri, menyempal Ulok Lela” artinya Abang Kadri berani menyumbat mulut meriam. Penggalan pantun tersebut adalah bukti kecintaan rakyat Tempunak akan keberanian Abang Kadri. Abang Kadri sendiri adalah seorang yang berasal dari Sekadau. Ia datang ke Sintang dan menikahi putri suku Kabahan di kampung Kalakik Nanga Pinoh. Pernikahannya tersebut dikarunia tiga orang anak yakni Abang Abdulrais, Abang Noh Yatim, dan Abang Jakfar Sidik.

Perang Abang Kadri terjadi pada tahun 1869. Pertempuran tersebut terjadi di sungai Tempunak. Namun karena banyak hal, salah satunya adalah ketidakseimbangan kekuatan antara pasukan Abang Kadri dan pasukan Belanda. Belanda dengan mudah mematahkan dan memukur mundur pasukan Abang Kadhi. Setelah pertempuran itu, Belanda juga berhasil menangkap Abang Kadri. Tidak berhenti di situ, Abang Kadri juga difitnah oleh Belanda sebagai orang yang berbahaya bagi kerajaan Sintang. Akibatnya, Abang Kadri ditahan oleh kerajaan Sintang.

Berkat kegigihannya, Abang Kadri berhasil melarikan diri dari penahanan. Ia lantas pergi menuju kampung durian bersama anaknya Abang Noh dan Abang Jafar Sidik. Di pelariannya tersebut, Belanda berhasil menangkap kembali Abang Kadri. Kali ini ia ditahan di Telok Melano daerah Ketapang.

Perang Tebidah

Perang Tebidah ini adalah salah satu perang yang berhasil membuat pihak Belanda tertekan. Perang Tebidah dipimpin oleh empat orang suku Dayak Kayan yakni Nata, Apang Labung, Abang Labung, dan Apang Rabat. Perang tersebut terjadi selama dua bulan sejak 13 Agustus sampai 18 Oktober 1890. Selama dua bulan tersebut, pertempuran sengit hampir terjadi siang dan malam.
Untuk mengatasi perlawanan tersebut, pihak Belanda mengerahkan seratus duapuluh orang pasukan. Pasukan dipimpin oleh Residen Trom dengan seorang Overste. Di dalam pasukan tersebut, panembahan Ismail diikutkan oleh Belanda dengan harapan dapat meredam perlawanan perang Tebidah. Meskipun berkali-kali pasukan Tebidah menelan kekalahan namun hal tersebut tidak membuat perlawanan untuk menghilangkan penindasan oleh Belanda berhenti.

Perang Padung/Perang Mensiku

Perang ini dinamai perang Padung karena dipimpin oleh seorang bernama Padung yang berasal dari daerah Ketungau. Dalam perang Padung, pihak rakyat berhasil menewaskan seorang Residen Belanda bernama Stol. Perang Padung terjadi pada tanggal 10 Maret 1874. Tidak banyak sumber yang menceritakan bagaimana proses dan kelanjutan terkait perang Padung tersebut.
Perang Padung disebut pula perang Mensiku karena terjadi di daerah Mensiku. Kurangnya kesiapan membuat pasukan Padung tertekan. Padung melarikan diri dan akhirnya berhasil ditangkap oleh pihak Belanda di perbatasan Sarawak. Setelah kejadian tersebut, Padung diasingkan oleh Belanda ke Jawa. Mulai dari saat itu, tidak terdengar lagi kabar bagaimana nasib Padung.

Perang Raden Paku (Perang Melawi)

Enam tahun setelah Perang Padung, timbullah perang yang dipimpim oleh Raden Paku. Dengan semangat yang membara, pasukan Raden Paku bangkit melawan Belanda. Perang tersebut meliputi daerah Kayan Hulu dan Tebidah. Kurangnya pengalamanan dan persenjataan, Raden Paku ditangkap oleh Belanda untuk kemudian diasingkan ke Jawa (Betawi).
Sesudah redanya perlawanan, pihak Belanda mengundang Panembahan Ismail untuk menemui Gubernur Jenderal Belanda di Bogor. Di dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membuat suatu kontrak baru. Selain itu, Panembahan Ismail juga dihadiahi medali emas dan ditambah gelar “Panembahan Ismail Kesuma Negara”. Berbagai hadiah dan penghargaan tersebut membuat pihak kerajaan Sintang tidak menyadari bahwa Belanda semakin menambah kekuasaannya di Sintang.
Pada tahun 1913 Belanda memperbaharui isi kontrak dengan menegaskan pemisahan keuangan Sintang dan administrasi Belanda. Ketentuan-ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Semua rakyat wajib membayar blasting/pajak.
2. Hak atas tanah anak-anak raja berdasarkan peraturan tahun 1887 dicabut untuk kemudian diatur oleh Belanda.
Menurut Belanda, pihak Panembahan tidak mengurus administrasi dengan baik. Akibatnya Panembahan ditangkap dan diasingkan ke Jawa beserta seluruh keluarga.

Perang Panggi

Perang Panggi terjadi pada masa Panembahan Abdulmajid tahun 1908. Perang terhadap Belanda tersebut dipimpin oleh Panggi, Ruguk dan Rangas. Pasukan Panggi menyerang dari daerah Batang Tuk dan Belitang (Jangkit). Namun rencana tersebut bocor dan diketahui pihak Belanda. Tentara Belanda langsung saja menghadang. Namun naas, pemimpin pasukan Belanda bernama Peiner tewas di dalam pertempuran tersebut.
Kabar tersebut membuat Belanda semakin menguatkan pasukannya. Pasukan kedua Belanda dipimpin Letnan Van Hassel. Pasukannya menyerbu menggunakan kapal yang diberi nama Punan. Pasukan Panggi dikejar dan akhirnya para pemimpin berhasil ditangkap untuk diasingkan ke Jawa.
Setelah perang Panggi, pihak Panembahan mengusulkan untuk mendirikan sekolah dengan sebutan H.I.S (Hollands Inlands School). Usulan tersebut diterima oleh Belanda dengan konsekuensi pihak Panembahan mengurangi perlawanan terhadap Belanda. Selain sekolah, berbagai sektor seperti pertanian dan peternakan mulai dikembangkan. Pada masa ini pula perkebunan karet mulai dibudidayakan.

Perang Apang Semangai

Saat ini, nama Apang Semangai menjadi Gedung Olahraga di kota Sintang. Perang Apang Semangai muncul dikarenakan penolakan terhadap pajak yang diberlakukan Belanda. Perang Apang Semangai muncul dari Nanga Payak. Dunda alias Apang Semangai menyusun strategi untuk menghancurkan kekuasaan Belanda. Namun tanpa diketahui, siasat tersebut tercium oleh pihak Belanda.
Pasukan Belanda yang dipimpin Jansen langsung menyusuri sungai Payak untuk mencari Apang Semangai. Ternyata, pasukan Apang Semangai telah siap siaga menyambut pasukan Belanda tersebut. Di dalam pertempuran itu, Jansen tewas ditangan pasukan Apang Semangai. Tewasnya Jansen membuat Belanda meningkatkan kekuatannya.
Belanda lantas mengirimkan dua pleton pasukan di bawah pimpinan Letnan van Wijk dan Mayor Groot untuk mengejar Apang Semangai. Setelah mencari kesana-kemari, pasukan Belanda belum pula berhasil menangkap Apang Semangai. Apang Semangai baru ditangkap setelah empat tahun berhasil bersembunyi. Ia diadili di Sintang dan divonis 20 tahun penjara di Cipinang Jakarta. Karena berkelakuan baik, Apang Semangai akhirnya dibebaskan setelah menjalani 12 tahun masa tahanan.
Berbagai perlawanan rakyat Sintang terhadap Belanda adalah inisatif pribadi atas ketidakadilan dan ketertindasan yang dilakukan Belanda. Penjajah Belanda yang menginjakkan kaki di Sintang akhirnya harus meninggalkan Sintang karena semakin bersatunya dan masifnya perlawanan rakyat. Sintang akhirnya berhasil kembali dikuasai akibat jerih payah para pejuang memperjuangkan tanahnya.

What do you think?

8 points
Upvote Downvote

Total votes: 8

Upvotes: 8

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Rumah Adat Kalimantan

Rumah Adat Kalimantan Bangunan dengan Makna Filosofis

Asal usul Suku Dayak Kalimantan

Asal Usul Suku Dayak Kalimantan Sebelum Mengenal Agama