in

Laju Pilkada Menimbun Bara

Laju Pilkada Menimbun Bara
ilustrasi

TEROKABORNEO.COM – Entah, apakah lebih tepat disebut Pemilukada atau Pilkada? Pemilihan Umum Kepala Daerah atau disingkat menjadi Pilkada, sebuah proses pemilihan dan penentuan Kepala Daerah dimasing-masing kabupaten selama satu periode. Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Terkhusus di Kalimantan Barat, kegiatan ini kembali digelar serentak dengan melibatkan tujuh kabupaten, yakni: Bengkayang, Sambas, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, dan Ketapang.

Tetapi dalam beberapa bulan belakangan, kata ini setidaknya berseliweran setiap hari menghiasi pemberitaan diberbagai media massa maupun media elektronik, lokal ataupun nasional. Sesuatu yang menjemukan, selain daripada berita-berita lain di televisi yang itu-itu saja. Tak kalah menarik pula, ramai diperbincangkan kegiatan berkampanye para calon pemegang tampuk kekuasaan ditengah amuk kabut asap yang melanda sebagian Pulau Kalimantan.

Bencana, keadaan yang menarik untuk disuarakan dan diangkat ke permukaan, begitu penting dalam pemanfaatan isu dan pengembangan wacana, hingga ditengah kabut yang membumbung tinggi sekalipun. Lantang digemakan tentang pemanfaatan alam dan penanggulangannya yang tercantum dalam visi dan misi si calon selama proses kampanye. Lantas setelah itu?

Alangkah mirisnya, ditengah kabut asap itu, rombongan si calon Kepala Daerah dan segenap tim pendukung berkeliling kampung-kampung, mendirikan panggung hiburan, sehingga tak tampak batang hidung (karena asap yang menghalangi jarak pandang, -mungkin). Sebagai pelipur lara?

Ini adegan yang terjadi di abad sekarang, tentu saja – yang khusus terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah juga barang kali, entah. Bencana hebat yang melanda “Pulau Seribu Sungai” ini telah menyisakan dukacita yang mendalam, setidaknya membuat sekolah-sekolah diliburkan dan beberapa diantara penduduknya meregang nyawa, -tak bisa diselamatkan. Bukan asap bila tak ada api, namun tak merontokkan niat dan ambisi si calon untuk mengenalkan diri demi menuju kursi tertinggi. Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti aksi massa yang digalang oleh beberapa rekan mahasiswa di Yogyakarta. Aksi massa yang digelar diruang terbuka, di tengah Tugu Kota Jogja, menuntut Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk mengambil sikap dan bergerak memadamkan bara. Ya, bara api si pemakan segala. Aksi massa ala mahasiswa yang spektakuler, menurut saya pribadi. Seorang sahabat sesama mahasiswa berkata, “setelah sekian tahun, mahasiswa kita kembali bersuara. Meskipun jumlahnya tak seberapa, tak sampai seribu jiwa. Kita berhutang kepedulian terhadap tanah kelahiran”.

Saya melirik kearahnya, mengancungkan dua jempol ibu jari, menyatakan kekaguman atas peryataan itu. Sekalipun kegiatan ini menuai reaksi yang beragam, terutama dikalangan antar sesama mahasiswa daerah, ada yang mencibir dan nyinyir, ahh dasar otak pandir!

Asap datang asap pergi, tapi makin jelas terlihat akan kecenderungan lain: para pemimpin itu, para pemimpinnya terdahulu, dan kebanyakan pemimpin-pemimpin di negeri ini, telah bersikap abai dan saling tuduh menuduh, saling melempar tanggung jawab antar sesama antar sesama pejabat Negara. Yang gemerlap dalam “kabut prahara” ini tak lain karena saling tuding dan tumpang-tindih si penanggung jawab kejadian, Pemerintah Pusat menyatakan tragedi ini sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah Daerah, namun begitu pula sebaiknya Pemerintah Daerah mengelak dan mengatakan terbatas pula kewenangannya, dibeberapa tempat yang dilanda kabut asap hal semacam ini dianggap lumrah, karena daerah dipimpin oleh Pejabat Sementara. Hingga sulit untuk mengerahkan segenap daya dan kuasa, karena satu sebab dan tak lain: PILKADA.

Di zaman ini, “panggung sandiwara” itu, disesuaikan dengan kebutuhan selama proses peralihan kekuasaan.

Bukan kebetulan jika api sengaja dikobarkan ditengah perhelatan pesta demokrasi, -api dalam arti yang sebenarnya, sebagai bentuk pengalihan isu dan wacana barangkali. Api pula yang menutupi seluruh negeri, membuat sesak nafas orang muda-tua-bayi, membuat semua orang mengutuk si pesakitan-pesakitan penampung aspirasi yang tengah asyik santai duduk dikursi, membuat ngeri karena harapan hidup sedikit lagi (kadar zat beracun dalam asap tinggi!), dan membuat gentar semua makhluk hidup didalamnya karena ada yang berkata begini: “Selamatkanlah dahulu diri sendiri karena kabut asap ini terlampau tinggi, jarak pandang tak terlihat lagi dan bala bantuan tak bisa datang kesini, sementara itu menunggu saja hingga tampak matahari, atau bila tak sanggup silahkan bunuh diri”.

Kabut asap dan Pilkada, bermula dari api yang digunakan untuk membakar lahan, namun menyebar secara perlahan-lahan, membumbung pelan tapi menawan, berkobar-kobar secara berkelanjutan, dan menebar asap setinggi awan, celakanya: api tampil pula saat para calon pemimpin hendak tampil di panggung pertunjukan. Ironis, disaat acara keliling kampung dihalangi kabut asap yang menghalangi, panggung tetap di dirikan, pertunjukan musik dangdut tetap diperdengarkan, dan bencana kabut asap tak lebih cantik dari suara si biduan. Bayangkan saja dalam sebuah kabupaten misalnya, ada beberapa kecamatan, ada beberapa desa, ada beberapa dusun, ada berapa panggung yang di dirikan untuk menggelar perhelatan?

Tapi Pilkada memang begitu adanya, pada akhirnya menyisakan segenap harapan dan janji. Harap-harap cemas bila tak di tepati dan janji-janji yang tak lebih manis dari gulali. Di zaman modern seperti sekarang ini, beberapa para calon turun ke lapangan dengan harapan menarik simpati, mengajak segenap masyarakat ke tengah lapangan terbuka demi pengenalan diri dan penyampaian visi-misi, mengorganisir segenap pendukung: muda-tua demi memuluskan kursi. Janji, -palsu barangkali, acapkali berdengung seperti layaknya sebuah nyanyian pelipur lara karena penduduk tengah bermuram durja lantaran dirundung bencana. Slogan, semboyan, poster, kalender, kata-kata peneduh dan penyemangat jiwa bergelora, konvoi mobil yang dihias sedekian rupa, baju dan kaos dibagikan pada pendukungnya, atraksi hiburan: panggung dangdut dan biduan.

Kabut asap dan Pilkada saling bercerita: seperti kabut kemana angin membawa api sejauh itu pula asap mengikuti; demikian pula dengan Pilkada, dimana aspirasi dapat diserap jadi simpati disitu pula arah tepat menaiki kursi. Citra, lebih mudah di dulang dan didapat sekalipun dihalangi oleh asap kabut pekat. Nilai “pamer-pameran” di jalanan dan panggung hiburan selama proses bertemu simpatisan tentu disesuaikan pula dengan anggaran pengeluaran sekarang dan jumlah penerimaan ditahun-tahun ke depan, tak lain demi memuluskan tujuan.

Tapi lambat laun cerita perihnya terpapar asap akan berganti dengan meriahnya pesta Pilkada, lalu digantikan pelbagai cerita lainnya. Kemarin kita melihat asap sebagai panggung pertunjukan perbantahan wacana, sekarang Pilkada juga berlaku serupa. Keduanya lahir dan berkembang subur di media, ibarat padi ditanam dilahan subur: menghasilkan dan berbuah banyak. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, keduanya akan datang lagi di tahun-tahun mendatang, entah akan kembali berpasangan, ataukah berpisah di lain kesempatan. Siapa berani menjamin asap tak membumbung lagi dan Pilkada tak akan digelar secara langsung seperti sekarang ini?

Padahal bicara kabut asap berbicara pula tentang ketidak-becusan para pemimpin mengurus negeri, ngeri-ngeri sedap melihat Pilkada digelar ditahun yang sama dimana bencana ini terjadi, lalu ada lagi nanti para pemimpin yang mengelak diri ketika terpilih sembari mengatakan begini: “kejadian itu terjadi sebelum saya ada diposisi ini,tak usahlah dikaitkan-kaitkan dengan saya lagi”. Lantas siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah terjadi: API?

Satu hal yang harus diyakini, kabut asap dituduh datang sendiri karena tak ada yang mau mengakui, lain hal dengan Pilkada yang telah diatur dalam disepakati dan disetujui oleh para dewan tertinggi seantero negeri.

Kabut asap adalah bumbu pemanis menjelang perhelatan Pilkada tahun ini, keduanya sama-sama menjanjikan. Menjanjikan untuk selalu cepat ditangani, entah demi rasa peduli ataukah ambisi pribadi demi menambah pundi. Tapi jangan lupa janji itu tak selalu bisa ditepati, ada pula janji yang selalu di ingkari, karena janji tak lebih manis dari gulali.

 

(Tulisan pernah dimuat dalam MiniNews Bumi Kalimantan Tahun 2015)

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

4 points
Upvote Downvote

Total votes: 6

Upvotes: 5

Upvotes percentage: 83.333333%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 16.666667%

Hari Batik Nasional

Ganti Hari Batik Nasional dengan Hari Kain Tradisional Nasional

Marjinalisasi Bangsa Dayak Tersingkir Di Tanah Sendiri

Marjinalisasi Bangsa Dayak: Tersingkir di Tanah Sendiri