in

Laporan Diskusi Publik Save Borneo “Eksistensi Kebudayaan Dayak di Tengah Ekspansi Kapital”

Laporan Diskusi Publik Save Borneo

TEROKABORNEO.COM – Jum’at, 28 Oktober 2016, di hari yang (tanpa sengaja) bertepatan dengan peringatan 88 tahun Sumpah Pemuda, sebuah diskusi sederhana dan apa-adanya dilaksanakan di Yogyakarta. Diskusi Publik bertajuk “Save Borneo”tersebut mengangkat tema mengenai “Eksistensi Kebudayaan Dayak di Tengah Ekspansi Kapital”. Kegelisahan dan kekhawatiran akan kondisi Kalimantan terkini menjadi ruh/semangat dilaksanakannya diskusi tersebut.

Diskusi yang bertempat di Jln. Dr. Wahidin Sudirohusodo no. 54, Yogyakarta tersebut menghadirkan dua orang pembicara yakni Saut Situmorang dan Yasir Dayak. Saut Situmorang merupakan salah satu sastrawan Indonesia kelahiran Tebing Tinggi Sumatera Utara serta Yasir Dayak, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Selain menghadirkan kedua pembicara, diskusi tersebut juga diawali oleh penampilan memukau dari Band Agoni dan Alexander Haryanto.

Sebagai pembicara pertama, Yasir Dayak mengungkap tabir pengrusakan kebudayaan Dayak akibat semakin mewabahnya ekspansi korporasi, baik perkebunan dan pertambangan di Kalimantan. Sebagai salah satu bukti terkini terkikisnya kebudayaan Dayak ialah pada kegiatan berladang (bahuma). Berladang (bahuma) merupakan kebudayaan masyarakat suku Dayak untuk melangsungkan hidupnya.

Yasir Dayak menyesalkan adanya tindakan kriminalisasi terhadap masyarakat adat (Dayak) yang melakukan kegiatan membakar hutan untuk berladang (bahuma). Kebudayaan berladang (bahuma) masyarakat Dayak tersebut dituding menjadi “biang kerok” terjadinya kebakaran hutan sehingga mengakibatkan kebakaran asap seperti tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Yasir Dayak, di dalam melakukan kegiatan berladang (bahuma) suku Dayak memiliki aspek sosial dan religius. Hal tersebut tampak dari adanya kebiasaan masyarakat Dayak yang saling membantu pada saat melakukan kegiatan berladang (bahuma). Selain itu, orang-orang Dayak juga melakukan serangkaian prosesi ritual adat sebelum melakukan kegiatan berladang (bahuma) tersebut memohon restu dan berkat kepada Sang Pencipta.

Setali tiga uang dengan Yasir Dayak, Saut Situmorang membeberkan proses degradasi kebudayaan akibat ekspansi kapital. Saut Situmorang mengawali perbincangan mengenai hancurnya kebudayaan Batak akibat ekspansi perusahaan. Menurut Saut, Tanah Batak (dulu) merupakan penghasil terbaik kemenyan dan kapur barus. Namun pasca masuknya perusahaan HTI dan kelapa sawit, Tanah Batak perlahan-lahan berjalan menjemput ajalnya.

Kecintaan Saut Situmorang terhadap tanah kelahirannya membuat dirinya berang terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh ekspansi kapital. Menurut Saut, pola penghancuran kebudayaan oleh ekspansi kapital juga terjadi pada masyarakat Dayak. Penghancuran tersebut diperparah oleh peran para komprador sebagai pemegang “kunci” masuknya perusahaan-perusahaan tersebut.

Pada kesimpulan diskusi tersebut kedua pembicara sepakat bahwa masifnya perusahaan di Kalimantan berbanding lurus dengan terkikisnya kebudayaan Dayak itu sendiri. Kedua pembicara juga mengajak semua pihak untuk secara tegas menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk ekspansi kapital yang berpotensi menghancurkan kebudayaan.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

3 points
Upvote Downvote

Total votes: 5

Upvotes: 4

Upvotes percentage: 80.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 20.000000%

Pejuang Adat Muara Tae Dihantui Ancaman Pembunuhan

Benarkah melamar gadis serawai adatnya mahal

Benarkah Melamar Gadis Serawai Adatnya Mahal ?