in ,

Marjinalisasi Bangsa Dayak: Tersingkir di Tanah Sendiri

Marjinalisasi Bangsa Dayak Tersingkir Di Tanah Sendiri
Seorang Ibu dari Suku Dayak yang Menuntut Hak atas tanahnya yang direbut Korporasi (Sumber Gambar : Video Navicula Borneo Tour, Bonga-Bonga Production)

TEROKABORNEO.COM – Tulisan ini adalah kumpulan kebodohan-kebodohanku selama berpuluh tahun hidup dalam ketidaktahuan bahwa alamku dirusak dan bangsa-ku dipinggirkan!

Tahun 2013 akhir Aku menyebrang ke Pulau Jawa dengan Kapal Laut Kirana I tujuan pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Perasaanku berkecamuk saat itu, antara bahagia dan bingung. Bahagia karena meninggalkan tanah kelahiranku, Pulau Kalimantan, demi pendidikan yang lebih baik dan demi nasib baik! Dan bingung karena bekalku sedikit—sekitar enam jutaan uang yang kubawa. (Lima juta untuk mendaftar kuliah, sisanya untuk hidup). Singkatnya, Aku sah jadi mahasiswa di Universitas Ahmad Dahlan. Tak perlu kuceritakan lebih jauh.

Di pertengahan tahun 2014 Aku masuk aktif di sebuah organisasi yang ada di Jogja: Gerakan Literasi Indonesia (GLI). GLI lah yang menyadarkanku pada keadaan di tanah kelahiranku dan negara ini. Mereka, oang-orang GLI, mengajakku pergi ke Urut Sewu (daerah konflik: Militer vs Petani).

Di sana Aku disuguhkan berbagai macam keadaan: penderitaan, penindasan, dan penembakan. Bagiku, keadaan yang demikian lebih berbisa dari racun ular kobra! Sebab keadaan yang demikianlah yang menyadarkanku betapa butanya Aku sebagai seorang manusia berkebangsaan Dayak!

Sepulang dari Urut Sewu, Aku mulai mempelajari keadaan demi keadaan yang terjadi di tanah kelahiranku. Tak pelak, sejarah bangsa-ku sendiri. (sebagai hutang atas kebodohanku). Tapi, tak semudah mencuci tangan setelah makan dengan sabun, lalu berbau wangi, Aku musti mencari ke sana-kemari buku-buku tentang Bangsa Dayak. Saudara, jika engkau melihat Aku waktu itu Saudara akan tertawa terbahak-bahak. Saudara, mungkin, pernah melihat anak ayam kehilangan induknya? Atau anak babi merengek minta ditetek? Seperti itulah Aku waktu itu, Saudara.

Namun, meskipun aku seperti anak ayam dan anak babi, usahaku tidak sia-sia, Saudara. Melalui beberapa kawan di GLI, Aku bisa menemukan buku-buku yang membahas tentang tanah kelahiranku.

Tak perlu panjang lebar, basi! Aku akan mencoba menyampaikan pada Saudara-saudara sekalian tentang bagaimana bangsa-ku, Bangsa Dayak, dimarjinalisasi dan tersingkir di tanahnya sendiri. Sebagai peringatan agar tidak melenceng jauh dari pembahasan Aku akan mengambil dua poin yang menjadi jantung masalah, yaitu, pelarangan bahuma (berladang) dan transmigrasi besar-besaran.

Pelarangan Behuma

Awal tahun 2016 Jokowi mengeluarkan kebijakan pelarangan mengolah ladang dengan cara dibakar. Bagi elit Dayak, hal itu bukan masalah besar. Tapi, bagaimana dengan orang Dayak yang “miskin”? Bagaimana mereka yang masih menggantungkan hidup pada pehumaan (lahan berladang) akan bertahan hidup? Mengapa Jokowi mengeluarkan kebijakan demikian tanpa mempelajari silsilah adat kami?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak pernah menemukan jawaban. Kalau pun ada jawaban, jawaban itu hanyalah bualan janji-janji busuk dan wacana-wacinu pemerintah semata! Kukatakan demikian karena memang begitulah keadaannya. Ternyata, Saudara, tidak hanya melakukan pelarang membakar lahan untuk behuma saja, tetapi Jokowi akan melakukan penangkapan bagi siapa saja yang berani melanggar kebijakannya yang maha timpang itu melalui tangan tentara.

Menurut pembacaanku, ini semua tipu daya pemerintah semata. Perlu bukti? Akan kubuktikan.

Di pertengahan 2015 Saudara jelas masih ingat kabut asap di Kalimantan, Sumatera, bahkan Papua? Masih kan? Nah, mengapa pemerintah begitu penakut menangkap korporasi-korporasi yang sudah sangat jelas melakukan pembakaran hutan. MENGAPA? Karena pemerintahan Indonesia tunduk pada kuasa modal. Baik asing maupun lokal. Tapi mengapa pemerintah begitu gagah menangkap rakyat yang berani melakukan pengelolan lahan behuma dengan acara dibakar? Jawabannya hanya satu: pemerintahan Negara Dunia Ketiga ini masih memberhalakan tatanan pemerintahan kolonial di rakyat “miskin” musti tunduk dan patuh pada Hukum dan Undang-Undang yang dibuat demi melancarkan jalan para tuan semata.

Orang Dayak yang masih menggantungkan hidup dengan behuma, sentak pusing tujuh keliling atas lahirnya kebijakan pelarangan behuma itu. Betapa tidak, kalau mengelola lahan dengan cara dibakar dilarang, mereka musti bagaimana? Pakai round up? Atau bulldozer? Berapa biaya yang akan mereka keluarkan untuk membeli round up dan menyewa bulldozer? (round up per galon kurang lebih Rp. 300.000.00, x per hektare dan menyewa bulldozer Rp. 250.000.00, per jam x per hektar). Saudara dari mana orang Dayak yang “miskin” mendapat uang sebanyak itu? Mencuri? Bekerja? Ke mana? Perusahaan? Dengan gaji sedikit dan biaya hidup yang tinggi? Mana cukup!

Di bawah pelarangan behuma itu Aku menemukan konsesi-konsesi pertambangan yang dikeluarkan pemerintah. PT. Semen Bosowa di Biduk-biduk, Kalimantan Timur, misalnya. Secara logika pun sudah tidak nyambung: masyarakat dilarang, tapi pemodal asing/lokal dipersilahkan merusak alam di tanah kelahiranku. Secara gamblang pemerintah telah melakukan marjinalisasi pada bangsa-ku, Bangsa Dayak, melalui kebijakan-kebijakan yang maha timpangnya. Pertanyaan menggelitik muncul kemudian, bukan kah memang begitu perlakuan pemerintah pada rakyatnya? Dengan sadar mereka melakukan pengkhianatan terhadap rakyat yang memilihnya. Bukan kah memang demikian nasib jadi warganegara Negara Dunia Ketiga semacam Indonesia ini?

Transmigrasi Besar-besaran

Bagiku, transmigrasi tidak lain adalah penjualan manusia. Apapun alasannya! Transmigrasi juga merupakan bentuk asli kegagalan pemerintah dalam mengelola rakyatnya. Aku pernah mengikuti sebuah diskusi tentang transmigrasi. Dalam diskusi itu si pemantik membuat pernyataan bahwasanya transmigran adalah perjudian nasib. Maksudnya, transmigran yang akan ditransmigrasikan pertama-tama akan dibuat kesusahan mencari pekerjaan di tanah kelahirannya sendiri. Kemudian muncullah rasa ingin hengkang dari tanah kelahirannya itu atau tepatnya mencoba peruntungan di tanah orang. Setelah dikolonisasi, transmigran-transmigran kemudian dilayarkan ke daerah-daerah yang luas wilayahnya berbanding jauh dengan populasi penduduknya. Di sana, transmigran-transmigran itu, mencoba peruntungannya masing-masing. Akan tetapi sialnya, tidak semua transmigran-transmigran itu menemukan nasib baik di medan peruntungannya. Bahkan, ada yang tidak bisa pulang sampai mati di tanah orang. Ironis bukan? Kalau Saudara tidak percaya, kusarankan menabung lah, kemudian pergi ke tanah kelahiranku, Pulau Kalimantan. Saudara dapat melihat sendiri betapa menderitanya menjadi transmigran.

Pemaparanku di atas bukan tanpa dasar. Aku pernah hidup seratus hari di perkebunan kelapa sawit dan mataku tak pelak dari pemandangan-pemandangan yang menyengit hati. Salah satu yang mengena di hatiku sampai hari ini adalah kematian salah seorang pekerja harian. Sekali waktu, berdasarkan perintah asisten menejer, Aku disuruh mengawasi pekerja harian bagian penyemprotan. Waktu itu musim kemarau dan angin kencang. Salah seorang pekerja, perempuan paru baya, dengan napas terengah-engah menghampiriku. “Mas, ana sing pingsan ning kana!” Perempuan paru baya itu kemudian menarik tanganku. Tak lama setelahnya, sepasang mataku terbelalak melihat apa yang ada di hadapanku; seorang lelaki tua pingsan sambil mulutnya terus mengeluarkan busa. Sontak, aku menelpon asisten menejer yang menyuruhku. Setengah jam kemudian, mobil ambulan datang. Mereka membawa lelaki tua itu ke puskesmas milik perusahaan. Dan aku kembali mengawas.

Aku yang waktu itu tidak tega melihat para pekerja yang menangis, memutuskan untuk pulang. Sebelum sore, kami pulang. Malam harinya si penjaga mesin mengabarkan padaku bahwa lelaki tua yang pingsan tadi siang telah meninggal dunia. Aku terperanjak ke lantai. Tanpa bisa berkata-kata. Saudara, pernah kah engkau mendengar kejadian demikian pada transmigran-transmigran? Tentu tidak kan? Karena pemerintah dan perusahan kong kali kong berusaha menutupi hal itu dari engkau! Kadang, Aku kasihan melihat transmigran-transmigran itu, tanpa mereka sadari mereka tidak ubahnya barang dagangan yang diperjual-belikan di pasar.

Selain itu, konflik antara pribumi dan transmigran acap kali terjadi. Keduanya ibarat dua kutub magnet yang saling bertolakan. Pada posisi ini lah pemerintah dan komprador-komprador menjelma pembuat bom yang handal. Yang kapan saja bisa diledakan semaunya.

Dua pemaparanku di atas mengapa kukatakan sebagai jantung masalah yang terjadi di tanah kelahiranku, karena dua poin itulah yang sampai hari ini masih panas terjadi. Dan, dua poin di atas memiliki relasi dengan terjadinya marjinalisasi Bangsa Dayak: Tersingkir di Tanah Sendiri. Dan sialnya Aku baru sadar!

Otokritik

Aku punya hak penuh mempersoalkan apa yang terjadi di tanah kelahiranku. Tapi, Aku juga punya hak untuk dikritik terhadap diriku dan saudara-saudaraku se-Bangsa Dayak. Puncak dari semua ini ada dua poin, bagiku. Pertama, kurangnya rasa kepemilikan. Maksudku, untuk mengantisipasi perusakan alam yang terjadi di tanah kelahiranku, seharusnya kami menanamkan rasa kepemilikan pada tanah kelahiran sejak dini. Bahkan kalau perlu, sejak dalam kandungan. Itu sangat penting kalau tidak ingin generasi Bangsa Dayak macam hari ini: lebih suka menjaga kebudayaan agar tetap ada dan membiarkan perusakan merajalela. Kedua, banyaknya komprador-komprador yang menjamur di masyarakat maupun lembaga-lembaga adat.

Sumbangsaran

Saranku hanya satu: cabut perjanjian tumbang anoi! Namun musuhnya dialihkan jadi pemerintah, pemodal, dan perusahaan!

Rasionalisasinya begini: kurang kompromi apalagi Bangsa Dayak ini? Kurang baik apa Bangsa Dayak? Tapi semuanya dibalas dengan pengkhianatan dan perusakan-perusakan alam. Sudah tidak ada obatnya. Terlampau kronis. Hanya ada satu solusi: perang!

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

37 points
Upvote Downvote

Total votes: 39

Upvotes: 38

Upvotes percentage: 97.435897%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 2.564103%

Laju Pilkada Menimbun Bara

Laju Pilkada Menimbun Bara

Transmigrasi Gambaran Keadilan Sosial atau Ketimpangan Sosial

Transmigrasi, Gambaran Keadilan Sosial atau Ketimpangan Sosial ?