in

Memaknai Lumbung : Sebuah Refleksi Sosial

Memaknai Lumbung sebuah refleksi sosial

“Lumbung desa pratani padha makarya

Ayo dhi, njupuk parinata lesung nyandhak alu
Ayo yu, padha maju yen wis rampung nuli adang
Ayo kang, dha tumandang yen wus mateng nuli madhang.”
(Lirik lagu daerah Lumbung Desa)

Penggalan tembang dolanan di atas mungkin terasa asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, mungkin juga cukup akrab di telinga masyarakat pedesaan di Jawa bagian Tengah. Simaklah terjemahan lirik sederhana sarat makna ini:

“Lumbung desa para petani bekarya
ayo dhi, mengambil padi ditata dalam lesung dan memegang alu
Ayo yu, pada nutu bila sudah selesai lalu dimasak
ayo kang, kerjakanlah, ketika sudah matang lalu dimakan”

Bait pertama menjelaskan secara tegas bahwa lumbung bersifat menggerakkan. Lumbung menjadi sebuah magnet yang mampu menarik segenap potensi di desa. Kekuatan ini menerabas sekat gender, agama, bahkan status sosial.

Desa wajib memiliki lumbung. Kehadirannya merupakan tanggapan atas ketidakpastian pada keadaan: perang, perubahan cuaca (kekeringan), guncangan politik dan ekonomi, serta serangan hama. Ia adalah sebuah kearifan lokal yang melintasi ruang dan waktu untuk selalu bertahan dan terus dipertahankan. Lirik lagu Desa karya Iwan Fals secara lugas mendeskripsikannya:

Di lumbung kita menabung
Datang paceklik kita tak bingung
Masa panen masa berpesta
Itulah harapan kita semua

Lumbung adalah sebuah harapan akan masa depan yang lebih baik. Ada semangat kemajuan, optimisme yang diusung. Ia menghadirkan romantika masa keemasan di mana pesta selalu menjadi hal yang meriah dan agung bagi masyarakat pedesaan. Semua bermula dari lumbung dan berakhir pada lumbung. Lumbung tak boleh kosong karena benih harapan wajib disemai selalu.

Lumbung bisa ditilik dari beberapa dimensi: sosiologis, filosofis dan arsitektur. Dimensi sosiologis sebuah lumbung tercermin dari lirik lagu dolanan berbahasa Jawa di atas. Semua elemen masyarakat desa bergerak dan menikmati panen raya karena mereka paham bahwa lumbung akan dan harus selalu terisi. Gairah ini menggerakkan dinamika masyarakat desa. Tiada kemuraman, hanya keceriaan yang terpancar. Lumbung melahirkan ritus. Ritus menjadi sebuah habitus. Habitus bermuara pada identitas.

Gotong royong, musyawarah dan kerukunan merupakan identitas unik masyarakat pedesaan. Lumbung memfasilitasi dialog lintas generasi, usia, bahkan status sosial. Sekat sosial mencair di hadapan lumbung. Lumbung melahirkan budaya khas yang menjadi modal sosial yang kuat. Nilai-nilai inilah yang perlahan mulai tergerus dengan masuknya modal besar dari kota dan perubahan sistem ekonomi-pertanian.

Lumbung kental dengan makna filosofis. Ia mengadakan kepastian atas ketidakpastian. Ia memberikan kelegaan untuk hari esok. Ia-lah cikal bakal tabungan, bentuk sederhana dari habitus menyimpan. Di lumbung, petani menyimpan bahan pangan (padi) sebagai cadangan untuk masa depan yang penuh tanda tanya.

Masyarakat pedesaan menanggapi ketidakpastian perubahan dengan cara yang unik. Lumbung mengisyaratkan bahwa harta terbesar masyarakat pedesaan adalah ketersediaan bahan pangan (padi, jagung, dan kedelai) yang cukup. “Hilang”nya lumbung seringkali dikaitkan dengan bencana yang akan mendatangi mereka, baik bencana alam, ekonomi, bahkan politik. Lumbung membangun kedekatan masyarakat pedesaan dengan alam.

Terakhir dan sangat jarang ditelisik adalah menilik lumbung dari aspek arsitektur. Indonesia kaya akan arsitektur vernakular pertanian (agriculture vernacular architecture). Masing-masing etnis di Nusantara memiliki nama rupa dan bentuk lumbung yang beragam. Keberadaan lumbung juga disertai dengan folklore di tiap etnis, yang paling terkenal adalah Dewi Sri.

Arsitektur bangunan lumbung menyimbolkan makna. Lihatlah bentuk lumbung di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Atap lumbung menyerupai tanduk kerbau. Kerbau merupakan binatang yang kerap dijumpai di kedua wilayah ini. Merekalah yang memainkan peran teramat penting sebagai tenaga pembajak. Bentuk atap serupa tanduk menyiratkan penghargaan besar atas kiprah hewan ini.

Cerita Rakyat dan Sejarah

Sebagai negara agraris, tentulah sangat mudah mendapati bentuk rupa lumbung yang beragam di Nusantara. Ragamnya rupa juga sejalan dengan ragamnya cerita rakyat dan sejarah yang bersinggungan dengan bangunan sederhana ini. Lumbung selalu identik dengan padi. Cerita rakyat yang populer adalah Dewi Sri.

Dalam cerita rakyat yang kebanyakan mengambil latar tempat di pedesaan, lumbung selalu hadir. Dari sana, kita pun tahu bahwa lumbung tidak semata diperuntukkan untuk padi, tetapi juga untuk tanaman pangan sejenisnya. Dalam cerita rakyat Legenda Nyai Bagelen dari Purworejo, hasil pangan seperti kedelai juga disimpan di dalam lumbung.

Sejarah pun mencatat peranan lumbung yang sangat penting. Tercatat bahwa serangan kedua yang dilancarkan oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram ke Batavia pada tahun 1629 mengalami kegagalan karena lumbung-lumbung beras yang didirikan secara tersembunyi di Kerawang dan Cirebon berhasil dibakar oleh VOC berdasarkan informasi dari mata-mata mereka. Alhasil, 14.000 prajurit Kesultanan Mataram menderita kurang perbekalan.

Cerita rakyat dan sejarah sudah sewajarnya menjadi kawah candradimuka bagi para pembuat kebijakan. Indonesia merupakan sebuah negara ‘dilema agraris.’ Dilema karena Indonesia diproyeksi menjadi negara industrialis, lepas dari bayang-bayang agraris. Sebaliknya, kekuatan negara ini, apabila ditinjau dari sudut luasan lahan dan mata pencaharian, maka pilihan melepaskan julukan sebagai negara agraris bakal menghadirkan arena ‘perang’ wacana baru.

Sudah saatnya lumbung dihidupkan kembali. Ketika bergulir wacana Dana Desa, lumbung sudah sewajarnya diprioritaskan supaya tidak ada lagi berita tentang ancaman kelaparan yang diderita petani. Lumbung mesti menjadi garda depan melawan renterir karena lumbung merupakan bentuk paling tradisional lembaga keuangan masyarakat. Lumbung adalah cadangan pangan untuk hari esok.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

5 points
Upvote Downvote

Total votes: 5

Upvotes: 5

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Kabut Asap dan Peran Dewan Adat Dayak

Kabut Asap dan Peran Dewan Adat Dayak

pemilukada politiknya kelas menengah

Pemilukada Politiknya Kelas Menengah