in

Membawa Anak Mandi ke Sungai Tradisi Dayak yang Nyaris Punah

Membawa Anak Mandi ke Sungai Tradisi Dayak yang Nyaris Punah

TEROKABORNEO.COM – Dayak adalah salah satu suku yang tak bisa lepas dari adat dan tradisinya, setiap tahap hidup manusia Dayak selalu bersentuhan dengan tradisi. Mulai dari proses kelahiran sampai kematiannya seorang Dayak lekat dengan sebuah ritual. Salah satu tradisi unik yang dimiliki suku Dayak adalah membawa anak mandi ke sungai. Sebuah tradisi yang nyaris punah karena semakin tergerus oleh zaman. Bisa kita lihat bahwa sekarang ini tidak banyak lagi komunitas Dayak yang punya kesadaran untuk menjaga salah satu tradisi leluhur ini. Memang belum dapat dijelaskan dengan pasti mengenai apa saja yang menjadi faktor/penyebab terkikisnya tradisi seperti ini, karena sepengetahuan penulis belum ada penelitian khusus ditujukan untuk mengetahui hal ini. Namun, satu dugaan yang paling kuat memengaruhi pudarnya tradisi masyarakat Dayak ialah laju moderenisasi. Mari kita perhatikan tulisan sederhana berikut. Membawa Anak Mandi ke Sungai Tradisi Dayak yang Nyaris Punah.

Tradisi membawa anak mandi ke sungai ini dikenal di suku Dayak Desa. Sebuah suku yang mendiami wilayah Sintang, Kalimantan Barat. Desa Umin sendiri adalah salah satu yang masih terus menjaga tradisi tersebut. Di setiap tahunnya antara bulan Juni atau Juli selalu diadakan sebuah upacara adat membawa anak mandi ke sungai. Beberapa anak akan dibawa mandi ke sungai dalam waktu yang bersamaan, tergantung seberapa banyak anak yang belum dibawa mandi ke sungai, bisa sampai puluhan anak dalam satu kali upacara. Biasanya dibarengi dengan upacara ngambil semengat padi (akan dibahas di tulisan berikutnya).

Upacara membawa anak mandi ke sungai di suku Dayak Desa dimaksudkan sebagai permintaan izin kepada yang Maha Kuasa untuk si anak dalam menggunakan sungai sebagai urat nadi kehidupannya kelak, yang juga merupakan urat nadi kehidupan untuk setiap manusia Dayak. Harapannya adalah si anak direstui oleh sang Maha Kuasa dalam menggunakan “fasilitas” yang diberikan-Nya.

Tradisi membawa anak mandi ke sungai diawali dengan “begendang” yaitu menumbuk beras ketan oleh ibu si anak dibantu dengan beberapa keluarga perempuan yang nantinya akan mendampingi saat membawa anak ke sungai, Begendang ini dilakukan pada sore hari, satu hari sebelum pelaksaan upacara dan dilanjutkan pada pagi hari sebelum si anak dibawa ke sungai. Saat upacara begendang dilakukan, para penumbuk ketan ini menggunakan pakaian adat lengkap.

Pagi hari, sebelum memulai upacara adat, ibu si anak dan para ibu yang membantu begendang “nyauk” yaitu mengambil air ke sungai untuk dibawa ke rumah. Prosesi selanjutnya, rombongan anak yang dibawa mandi ke sungai, yang posisi rumahnya terjauh dari sungai berangkat terlebih dahulu dan menjemput rombongan lainnya. Dahulu, rombongan ini akan langsung menuju sungai, namun beberapa tahun belakangan semenjak masyarakat Desa Umin mengenal Gereja, rombongan terlebih dahulu ke Gereja untuk diberkati, baru kemudian menuju ke sungai, tempat memandikan anak.

 

Sebelum tradisi memandikan anak dilangsungkan, terlebih dulu dilakukan pemberkatan secara keagamaan di Gereja setempat.
Sebelum tradisi memandikan anak dilangsungkan, terlebih dulu dilakukan pemberkatan secara keagamaan di Gereja setempat.

Upacara adat di sungai dimulai dengan pembacaan doa kepada leluhur. Tetua adat membacakan doa agar roh-roh leluhur menyertai upacara tersebut dan roh-roh jahat diusir. Ketika membacakan doa tetua adat melempar “pegelak” atau sesajen ke sungai sebagai persembahan kepada leluhur. Kemudian baru anak dipanggil untuk dibawa mandi ke sungai satu persatu, dimulai dari anak yang memiliki silsilah keluarga tertua.

upacara-memandikan-anak-di-sungai
Seorang ibu tengah memandikan anaknya ke dalam sungai ditemani dua anggota keluarga dengan pakaian adat.

Prosesi dari darat turun ke sungai dimulai dengan kaki kanan (biasanya untuk turun ke sungai ada tangga). Yang boleh menggendong bayi saat dimandikan ke sungai tidak boleh ada cacat cela, baik itu secara fisik, ekonomi maupun cacat secara norma di masyarakat. Semua rombongan yang menghantar anak untuk mandi ke sungai wajib menggunakan pakaian adat lengkap. Saat anak masuk ke sungai, sang ayah memotong buah kelapa yang dilempar ke sungai dengan Mandau. Filosofinya adalah anak itu telah siap mengarungi gelombang kehidupan. Buah kelapa juga melambangkan kesucian, airnya yang murni, dan daging buahnya yang putih bersih tanda suci. Keluarga si anak (biasanya paman-paman dan kakek si anak) berdiri di tepian sungai membawa senjata tradisional (senapan lantak) dan bersiap menembakkan senapannya ketika si anak masuk ke dalam air. Senapan ini tanpa peluru. Tembakan ini adalah tanda pengusiran kepada roh-roh jahat, anak pun kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Proses yang sama dilakukan oleh semua anak. Baru kemudian masing-masing pulang ke rumah dan sebagai ungkapan syukur, setiap orang yang datang ke rumah si anak dipersilahkan makan.

Tradisi ini nyaris punah. Tidak banyak kelompok suku Dayak Desa yang masih menjaga tradisi ini. Sepengetahuan penulis hanya tersisa 2 kampung yang masih melakukan tradisi ini, yaitu desa Umin dan desa Pauh. Penyebab nyaris punahnya tradisi ini bisa karena dianggap kuno dan tidak jarang juga karena masuknya agama yang menganggap tradisi ini sebagai kegiatan musrik dan menduakan Tuhan. Namun berkaca pada 2 desa yang masih memiliki tradisi ini, agama tidak seharusnya menjadi “alat legitimasi” menghilangkan tradisi tertentu, melainkan agama harus mampu mengakomodasi budaya yang telah lama ada, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan nilai kemanusian ataupun norma lain yang berlaku di masyarakat luas.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

3 points
Upvote Downvote

Total votes: 5

Upvotes: 4

Upvotes percentage: 80.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 20.000000%

Sandung Tempat Penyimpanan Tulang Belulang Manusia Dayak

Sandung Tempat Penyimpanan Tulang Belulang Manusia Dayak

Tenun Ikat Budaya Perempuan Dayak dan Mistis di Balik Motif

Tenun Ikat, Budaya Perempuan Dayak dan Mistis di balik Motif