in

Mengapa Tato Mendapat Stigma Negatif di Masyarakat?

Mengapa Tato Mendapat Stigma Negatif di Masyarakat
Riky Yonda (Rajah Kulit) dok. pribadi

TEROKABORNEO.COM – Cara pandang Riky Yonda, artis tato asal Kalimantan, berubah setelah mempelajari sosiologi di salah satu kampus di Yogya. Tato yang semula dipandang sebagai trend, berubah menjadi wadah untuk meninjau seni rajah secara lebih serius.

“Dulu pandangan saya terhadap tato buruk, mungkin karena stigma negatif masyarakat. Tapi, setelah saya mengakrabkan diri dengan dunia tato, ternyata luas, tidak hanya bicara soal life style, namun lebih dari itu,” menurut pria asal Sintang ini.

Riky menjelaskan, ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari tato, terutama jika ditinjau dari perspektif sosial. Salah satunya respons masyarakat. Menurut dia, respons itu bisa beragam macam. Apabila seseorang cenderung terbuka, maka opininya terhadap tato sedikit positif.

Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang itu tertutup dan termakan dogma-dogma, maka dapat dipastikan pandangannya akan negatif, bahkan berujung pada penyematan kriminalitas. Seperti yang bisa disaksikan melalui media dan layar kaca.

Dalam satu kasus misalnya, apabila seseorang kedapatan mencuri ayam atau motor, sudah dipastikan aparat keamanan akan menonjolkan tato yang ada di tubuhnya. Seolah-seolah menjadi legitimasi untuk mengesahkan ia sebagai pelaku kriminal.

Padahal, kata Riky: “Tato itu tidak salah, tidak bisa mencuri, tidak bisa melukai orang lain, tak bisa membunuh dan korupsi.” Menurut pria yang sudah menjadi tato artis sejak 2013 ini, fenomena itu terjadi karena sebagian masyarakat awam tidak mengetahui bahkan tak ingin mengenal sejarah tato secara lebih dekat.

Penyematan kriminalitas terhadap tato masih terjadi dalam dunia pers Indonesia. Apabila mengetik keyword “preman bertato” dalam pencarian Google, maka judul berita yang muncul adalah Preman Bertato Minta Ampun Saat Dihajar Ratusan Warga, Pengalaman Pahit Dua Perempuan Korban Mulut Manis Korban Bertato dan Polisi Amankan 5 Preman Bertato di Pasar Baru Kuningan.

Terkait dengan fenomena di atas, Hatib Abdul Kadir Olong dalam bukunya berjudul “Tato” (2006) menyebut Orde Baru menguasai pers untuk menumpas siapapun yang berseberangan dengan pemerintah, karena tak punya kebebasan, dunia pers Indonesia justu ikut melahirkan stigma negatif bagi penyandang tato.

Tidak hanya di media massa, seni rajah yang merupakan produk budaya suku-suku pedalaman Indonesia, seperti suku Mentawai dan Dayak Iban, juga tak lepas dari stigma negatif bahkan berujung pada pemberangusan. Padahal, produk budaya ini mereka yakini sebagai budaya leluhur yang tak lepas dari aspek sosial dan spiritual.

Dalam video Mentawai Tattoo Revival, warga asli suku di sana menyatakan, kebudayaan tato di Mentawai sudah dilarang pemerintah. Bahkan larangan itu dinyatakan sendiri oleh Camat yang juga warga asli Mentawai asal Sikabaluan.

Alasannya, kata Durga— seorang tato artis yang pernah berkunjung ke daerah itu—budaya tato dianggap meresahkan kehidupan masyarakat dan beragama. Oleh sebab itu, Arab Sabulungan (nama tradisi tato di Mentawai) dihapuskan oleh Pemerintah melalui SK nomor 167 tahun 1954. Mereka sempat diberi sanksi sosial untuk membersihkan jalan, kantor dan fasilitas umum.

Saat berkunjung ke Mentawai dan transit selama 6 jam di Muara Sikabaluan, Durga menyatakan, ia memang tak menjumpai masyarakat yang masih memiliki tato. “Kami tidak menjumpai penduduk orang asli Mentawai dengan ciri khas mereka yang menggunakan kabit, cawat dan tubuhnya yang penuh tato.”

Seni Rajah dan Produk Budaya Leluhur

Mengapa Tato Mendapat Stigma Negatif di Masyarakat
Traditional Handtapping Tattoo by Riky Yonda

Pelarangan dan stigma buruk terhadap tato ini tampaknya tidak bersandar pada kajian dan analisa mendalam terhadap masyarakat tradisional yang akrab dengan budaya tato. Padahal, tato diyakini erat kaitannya dengan alam dan spiritual masyarakat tradisional.

Lars Krutak—seorang antropolog yang melalang buana meneliti budaya tato tradisional di seluruh dunia— mengatakan secara spiritual, orang Mentawai percaya bahwa tato dapat memberikan kekayaan material setelah mereka meninggal. Mereka juga percaya bahwa tato akan menjadi identitas pengenal nenek moyang saat setelah kematian.

Dan yang lebih penting, banyak bentuk tato yang secara khusus diyakini dapat melindungi pemiliknya dari roh jahat yang bersembunyi di hutan. Selain itu, tato juga dapat membedakan suku-suku secara regional. Jika diistilahkan, tato akan menjadi semacam KTP bagi masyarat di sana.

Lars Krutak saat mewancarai Aman Laolao menyatakan budaya tato Mentawai sangat berkaitan dengan alam. Bahkan, apabila masyarakat setempat tidak menghentikan degradasi terhadap hutan, maka hal itu bisa menghancurkan budayanya termasuk praktik tato.

Aman Ipai  — sesepuh yang dihormati — mengatakan dia sangat khawatir apabila masyarakat Mentawai kehilangan hutan dan tradisi tato karena akan berdampak pada hilangnya budaya mereka, mulai dari bangunan, huma (berladang), hingga pertanian sagu.

Sama halnya dengan Mentawai, suku Dayak Iban juga menilai tato sebagai bagian dari budaya luhur, bahkan bisa digunakan untuk penyembuhan penyakit.

Lars menjelaskan, dalam kepercayaan Iban, beberapa penyakit fisik diyakini berasal dari roh jahat. Apabila seorang dukun gagal menyembuhkan, maka warga setempat akan mengadakan upacara perubahan nama untuk “menyembunyikan pasien” dari roh jahat.

Selain memberikan nama baru, ritual penyembuhan itu juga dilakukan dengan menato si penderita penyakit di dekat pergelangan tangannya. Hal itu diyakini untuk memperbaiki “ketidaksempurnaan” yang ada di dalam pasien.

Lars Krutak dalam tulisannya berjudul “In The Realm of Spirits: Traditional Dayak Tatto Borneo” menyatakan, selain berfungsi untuk penyembuhan penyakit, tato adalah bentuk seni spiritual yang menggabungkan citra manusia, hewan dan tumbuhan.

Tato diyakini sebagai bentuk untuk mengekspresikan perkembangan kehidupan mahkluk hidup dan spiritual di alam semesta. Oleh karena itu, tato juga dapat diartikan sebagai lambang eksistensi orang Dayak yang terukir di tubuh mereka. Para wanita Dayak Kayan yang ditato juga dapat diartikan sebagai keberhasilan mereka dalam menenun, menari atau bernyanyi.

Robby Dwy Karyadi dalam jurnalnya berjudul “Eksistensi Kearifan Lokal Tato Masyarakat Dayak Iban” juga menyatakan masyarakat suku Dayak Iban percaya bahwa tato di tubuh mereka akan berguna sebagai penerang jalan bagi orang-orang yang telah meninggal.

Menurut Riky Yonda, apa yang disampaikan Lars Krutak secara jelas menunjukan bahwa tato mempunyai fungsi dalam kehidupan masyarakat. Pasalnya, sebelum mengenal pengobatan medis, masyarakat Dayak mempunyai cara tersendiri untuk menyembuhkan penyakit, salah satunya melalui tato.

Atas dasar itulah, Riky menyadari bahwa tato mempunyai kontribusi terhadap kehidupan manusia. Kontribusi itu bisa dilihat dalam nilai-nilai spiritual yang ada di dalam tato. “Kesadaran itu muncul karena saya juga orang Dayak, yang juga memiliki budaya tato.”

Untuk itu, pemilik bendera Rajah Kulit ini menyatakan: “berhentilah memberikan stigma negatif atau buruk terhadap tato.” (alx)

What do you think?

3 points
Upvote Downvote

Total votes: 3

Upvotes: 3

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

5 Fakta Menarik Burung Enggang Yang Dianggap Keramat Oleh Suku Dayak

Saat di Bawah Terik Matahari Pontianak Naga Langit Sepanjang 118 Meter Menari