in ,

Ngayau dan Rekonstruksi Wacana Kolonial

Ngayau
Ilustrasi Ngayau (Sumber: benuadayak.blogspot.co.id

TEROKABORNEO.COM – Ngayau dan Rekonstruksi Wacana Kolonial | Dayak – diakui atau tidak – ialah suatu entitas yang lahir dari rahim perjuangan dan perlawanan panjang juga “bermandikan” darah. Bermacam-macam ancaman dan rintangan lalu-lalang di dalam narasi sejarah Bangsa Dayak. Oleh sebab itu, maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa keberadaan Bangsa Dayak hingga detik ini bukanlah sesuatu yang diturunkan dari langit ke-tujuh, melainkan “ada” atas berbagai perjuangan orang-orang Dayak sendiri.

Bangsa Dayak – selanjutnya disebutkan Suku Dayak – merupakan penduduk asli pulau Kalimantan (Borneo). Menurut J.U Lontaan (1974), suku Dayak terdiri atas 405 sub-sub suku di dalamnya. Suku Dayak umumnya hidup di dalam klan-klan dan terpisah antar sub-sub suku. Meski demikian, orang – orang Dayak memiliki kebiasaan dan adat-istiadat yang cenderung mirip satu sama lain, misalnya ngayau/ memenggal kepala, bahuma/ berladang, rumah panjang (betang/lamin/radakng), tato dan telinga panjang, – walau tak semua sub suku serupa dan memiliki kebiasaan yang sama – hal-hal tersebut merupakan identifikasi umum ketika berbicara maupun mendengarkan cerita tentang Dayak.

Di antara sekian banyak adat dan tradisi, salah satu tradisi yang khas sekaligus problematis adalah praktik ngayau. Tidak dimungkiri bahwa ngayau merupakan salah satu ke”unik”an suku Dayak, – bahkan kerap dipandang “tak lazim”- karena hanya sedikit suku di dunia yang memiliki tradisi serupa. Untuk di Indonesia, selain suku Dayak, adalah suku Naulu di Maluku yang memiliki tradisi pataheri (memenggal kepala) tersebut. Ritual pataheri pada suku Naulu dijadikan penanda bahwa seorang laki-laki telah mencapai kedewasaaan. Di lain tempat, suku Atayal di Taiwan, Ilongot di Filipina serta suku Jivaro di Ekuador juga memiliki tradisi memenggal kepala atau head hunting, dengan penamaan dan makna yang berbeda-beda.

Istilah ngayau sendiri, menurut Dayak Kanayatn mempunyai tiga artian yakni, kayo artinya mencari, ngayo artinya orang yang melakukan ngayau dan mengayo artinya melakukan praktik ngayau. Meskipun identik dengan Dayak, namun praktik ngayau tidak secara universal dilakukan oleh semua sub suku Dayak. Misalnya adalah Dayak Jelai dan Dayak Pesaguan, sub-sub suku Dayak tersebut tidak memiliki tradisi ngayau.

Tradisi ngayau pada suku Dayak – yang memiliki tradisi ngayau – memiliki maknanya tersendiri. Tidak melulu soal kebrutalan, seperti mitos yang selama ini diciptakan. Misalnya pada suku Dayak Ngaju, praktik ngayau dibedakan menjadi dua. Pertama, ngayau dimaksudkan untuk menjaga kelompok-kelompoknya (lewu), sehingga rasa berterimakasih, takut, patuh dan segan yang ditunjukan oleh kelompok (lewu) si pengayau dengan sendirinya memberikan status sosial bagi si pengayau. Semakin banyak kepala yang di-ngayau maka akan menaikan status sosial dari si pengayau. Kedua adalah asang ngayau. Berbeda dengan ngayau yang pertama, asang ngayau dalam tradisi Dayak Ngaju merupakan perang yang dilakukan dengan motif-motif tertentu. Asang ngayau kerap dilakukan berkelompok dengan tujuan yang bermacam-macam, seperti balas dendam, merampok, cemburu, mempertahankan wilayah (lewu), mempertahankan hak dan lain sebagainya.

Secara historis, praktik ngayau telah lebih seratus tahun ditinggalkan oleh suku Dayak. Perjanjian Tumbang Anoi yang diklaim sebagai “fajar peradaban” ialah titik dimana ngayau tidak lagi dilakukan. Perjanjian hasil prakarsa kolonial Belanda tersebut melibatkan hampir seluruh kepala suku, panglima perang dan tetua adat suku Dayak. Perjanjian Tumbang Anoi melahirkan tiga kesepakatan yaitu menghentikan habunu (saling bunuh), menghentikan hakayau (saling memenggal kepala), menghentikan hatetek (saling mencincang).

Walau telah lebih seabad ditinggalkan, stigma bahwa Dayak merupakan suku barbar, buas dan primitif masih erat melekat. Ditambah lagi dengan beberapa kali konflik etnis yang melibatkan suku Dayak, semakin dalam pulalah tiang pancang berbagai stigma buruk tersebut ditancapkan. Ironisnya, secara perlahan stigma-stigma buruk juga busuk tersebut pun lantas menjadi semacam keyakinan baru bagi generasi penerus Dayak sendiri.

Tidak terelakkan bahwa makna praktik ngayau pada suku Dayak telah banyak mengalami pergeseran. Memang benar bahwa pemaknaan akan sesuatu hal mutlak ditentukan oleh ruang dan waktu. Namun pertanyaan yang lebih fundamental adalah, apa yang melatarbelakangi ruang dan waktu sehingga menjadi penentu suatu pemaknaan? Tentu terdapat suatu upaya (re)konstruksi sehingga di kemudian hari, makna tersebut menjadi bergeser bahkan musnah. Pertanyaan itu sungguh relevan untuk melihat upaya rekonstruksi yang telah dan sedang dilakukan terhadap praktik ngayau, dan suku Dayak pada umumnya.

Lebih jauh lagi, masih banyak pertanyaan maha penting untuk diketengahkan. Misalnya, apa yang melatarbelakangi sehingga kolonial Belanda pada waktu itu begitu bernafsu untuk menghentikan ngayau? Apakah ngayau adalah semata bentuk perilaku barbar, buas dan tidak beradab sehingga harus dihentikan? Atau mungkin Tumbang Anoi adalah siasat busuk kolonialisme. Mari buktikan!

Sebelum tercapainya perjanjian damai Tumbang Anoi, beberapa kali pihak kolonial Belanda mengalami kegagalan di tanah Kalimantan. Misalnya pada ekspedisi Mayor Georg Muller, dalam perjalanannya mudik sungai mahakam, ia diperkirakan dibunuh oleh suku Aoheng. Selain itu, Schwaner di Barito dan Dr. A. W. Nieuwenhuis pada 1893 – 1894 juga mengalami kegagalan serupa. Di samping kegagalan – kegagalan tersebut, perlawanan terhadap Belanda pun banyak terjadi di berbagai daerah. Contohnya perang Banjar (1859 – 1863), perang Tewah (1885), perang Hulu Katingan (1893 – 1895) dan perang Barito (1865 – 1905). Dari berbagai perlawanan kontra kolonialisme Belanda tersebut, dapat ditarik kesimpulan mengapa Belanda menjadi aktor utama di dalam perjanjian Tumbang Anoi itu.

Sangat tragis, sebab saat ini praktik ngayau sebatas dimaknai sebagai presentasi betapa barbar dan buasnya suku Dayak. Hal tersebut dikarenakan, selain stigmatisasi dan peyorasi bangsa barat, makna ngayau juga telah dimanipulasi oleh bangsa kolonial Belanda. Dengan dalih bahwa mengayo merupakan tindakan tidak manusiawi, kolonial Belanda berusaha mati-matian untuk menghentikan tradisi tersebut. Padahal sesungguhnya, ngayau adalah penghalang bagi Belanda untuk menguasai Kalimantan, khususnya suku Dayak di pedalaman. Seperti ditulis oleh Arham Said “Tradisi ini (ngayau) pula yang membuat Belanda tak bisa sepenuhnya menguasai Kalimantan” (Radar Sampit, 12 Oktober 2014).

Perjanjian Tumbang Anoi tersebut adalah pintu gerbang kolonial Belanda. Pasca perjanjian tersebut, kolonial Belanda dengan lebih leluasa menguasai Kalimantan. Selain itu, misi-misi penyebaran agama, khususnya Islam dan Katolik semakin gencar dilakukan. Praktik meng-ngayau pun ditinggalkan atas nama moral dan kemanusiaan. Bahkan dikenalkan sebagai suatu budaya kekerasan semata.

Di dalam bukunya yang sangat fenomenal berjudul Orientalism (1978), Edward Said melayangkan kritik keras terhadap berbagai proyek orientalisme yang berusaha menginterpretasikan timur dengan berbagai takhayul yang (sebenarnya) mereka ciptakan sendiri. Lebih buruk lagi, bahwa proyek-proyek tersebut lebih bersifat politis ketimbang akademis apalagi kemanusiaan. Dan terbukti, Dayak adalah salah satu korban proyek orientalisme itu!

Tidak berhenti sampai di situ, stigmatisasi dan upaya peyorasi terhadap suku Dayak oleh para orientalis juga terjadi salah satunya melalui catatan perjalanan seorang nahkoda kapal berkebangsaan Inggris bernama George Windsor Earl (1837). Di dalam catatannya tersebut, ia menyebutkan bahwa manusia Dayak pada waktu itu sebagai “manusia liar”. Selain Windsor, proyek – proyek orientalisme terhadap bangsa Dayak juga dilakukan oleh banyak penulis lainnya seperti Belcher, Keppel, Hugh Low, dan Frank Marrat (Saunders, 1993). Keseluruh penulis tersebut menggangap suku Dayak adalah suku tanpa peradaban sehingga harus “dimanusiakan”. Pandangan-pandangan parsial serba sok tahu tersebut pada akhirnya melahirkan berbagai stigma buruk bagi suku Dayak.

Foucault menegaskan bahwa wacana yang berkembang di tengah masyarakat membentuk relasi kuasa karena diterima sebagai suatu kebenaran. Wacana yang dibumikan ditengah-tengah suku Dayak oleh Belanda tersebut membawa berbagai ideologi dengan tujuan mempengaruhi masyarakat. Pada akhirnya, bermacam wacana yang dibawa Belanda di suku Dayak dengan sendirinya menjadi jalan untuk mendapatkan kekuasaan semata. Maka, semakin masyarakat Dayak memfetiskan takhayul-takhyul kolonial tersebut, maka semakin mulus pula proyek kolonialisme (baca; penjarahan) oleh Belanda.

 

Daftar bacaan:

Buku

  1. Edi Patebang, Dayak Sakti, Pontianak 1998
  2. Richard King, Agama, Orientalisme, dan Poskolonialisme, Yogyakarta 2001

Jurnal

  1. MAKNA DI BALIK TEKS DAYAK SEBAGAI ETNIS HEADHUNTER, R. Masri Sareb Putra

Internet

  1. https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2014/10/24/pertemuan-tumbang-anoi-1894-titik-hitam-dalam-sejarah-dayak-2/
  2. https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2014/10/18/pertemuan-tumbang-anoi-1894-titik-hitam-dalam-sejarah-dayak/

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

8 points
Upvote Downvote

Total votes: 10

Upvotes: 9

Upvotes percentage: 90.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 10.000000%

Lom Plai

Ironi Upacara Adat Lom Plai

Dayak Jawatn

Sejarah Dayak Jawatn Menurut Tetua Kampung Boti