in ,

Pejuang Adat Muara Tae Dihantui Ancaman Pembunuhan

Petrus Asuy. Sumber Foto Istimewa

TEROKABORNEO.COM – Petrus Asuy mungkin tidak setenar seorang Menteri yang mencoba menguak kasus pelanggaran HAM di Papua ataupun mantan Presiden yang digadang-gadang menjadi pahlawan nasional. Petrus Asuy hanyalah seorang warga biasa yang tinggal di pedalaman Kalimantan Timur. Namun keberanian serta perjuangan bapak berusia 52 tahun tersebut telah mengundang kekaguman hingga membuatnya mempunyai tempat tersendiri di ingatan kita masing-masing.

Perjuangan Petrus Asuy dimulai seiring mewabahnya perusahaan pertambangan dan perkebunan di wilayah adat masyarakat Dayak Benuaq di Desa Muara Tae, Kutai Barat, Kalimatan Timur. Beroperasinya perusahaan-perusahaan tersebut memaksa masyarakat adat Muara Tae bercerai dengan alamnya. Masyarakat adat yang selama ini menggantungkan kehidupannya kepada alam harus berjuang mencari alternatif untuk bertahan hidup. Sungguh ironis memang. Namun itulah fakta sekaligus derita yang mereka alami.

Masuknya perusahaan pertambangan dan perkebunan di wilayah adat masyarakat Dayak Benuaq di Desa Muara Tae ternyata sangat berbanding terbalik dengan janji yang katanya “Demi Kesejahteraan Masyarakat”. Beroperasinya perusahaan-perusahaan tersebut malah melahirkan kesengsaraan serta penderitaan bagi masyarakat.

Perusahaan pertambangan dan perusahaan perkebunan (kelapa sawit) di wilayah adat masyarakat adata Dayak Benuaq di Desa Muara Tae hingga saat ini telah mengikis luas hutan adat dari 11 ribu hektar menjadi tersisa 4 ribu hektar. Perubahan status tanah adat menjadi lahan konsesi perusahaan tersebut memutus akses masyarakat adat Muara Tae dengan lingkungan alamnya. Atas dasar penderitaan tersebut membuat Petrus Asuy memulai perjuangan untuk mempertahankan tanah adat dari keserakahan perusahaan.

Berkat keberanian serta kegigihan Petrus Asuy bersama masyarakat adat Muara Tae dalam mempertahankan tanah adatnya tersebut membuat Petrus Asuy dianugerahi Equator Prize di Paris, Prancis dari Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) pada 2015 lalu. Namun ternyata, penghargaan tersebut bukanlah akhir dari perjuangan Petrus Asuy bersama masyarakat adat Muara Tae. Bagai dua sisi mata uang yang berbeda, kegigihan Petrus Asuy tidak hanya mendatangkan decak kagum, sejumlah pihak yang dirugikan justru melayangkan ancaman kepada dirinya.

Kejahatan Perusahaan dan Aparat Keamanan

Tidak berhenti disitu saja. Pada saat ini, perusahaan bahkan menjadi semakin galak terhadap pihak-pihak yang berani menentangnya. Kerakusan segelintir orang membuat mereka “buta” terhadap penderitaan masyarakat sekitar. Petrus Asuy merupakan salah satu korban yang mendapat intimidasi hingga ancaman pembunuhan dikarenakan mempertahankan tanah adatnya dari ekspansi perusahaan.

Seperti dilansir dari Mongabay.com, Petrus Asuy sekeluarga mengakui mendapat ancaman dari pihak yang tidak diketahui. “Kami sekeluarga mendapat ancaman pembunuhan dari Pak Sokeng, karena menolak menyerahkan lahan adat,” kata Masrani, anak Petrus Asuy, Senin (27/06/2016).

Ancaman pembunuhan terhadap Petrus Asuy sekeluarga oleh oknum tak dikenal tersebut bukan tanpa alasan. Munculnya ancaman pembunuhan tersebut bermula dari penolakan Petrus Asuy menghadiri undangan dari Kepolisian Sektor (Polsek) Jampang. Diketahui undangan tersebut merupakan permintaan dari PT. BSMJ (Borneo Surya Mining Jaya) untuk mengadakan mediasi antara PT. BSMJ (Borneo Surya Mining Jaya) dengan masyarakat adat Muara Tae terkait klaim lahan konsesi PT. BSMJ (Borneo Surya Mining Jaya).

Penolakan Petrus Asuy atas undangan mediasi dari Polsek Jampang tersebut dikarenakan ia merasa terdapat beberapa kejanggalan. Pertama, mediasi seharusnya dilakukan oleh pihak Kecamatan dan bukan kewenangan pihak Kepolisian. Kedua, mediasi tidak dilaksanakan atas persetujuan kedua belah pihak. Ketiga, mediasi tidak dilakukan tepat waktu. Hal tersebut dikarenakan hingga saaat ini masyarakat adat Muara Tae masih menunggu tindak lanjut dari rekomendasi inkuiri nasional yang telah diajukan Komnas HAM kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait verifikasi kepemilikan tanah adat.

Meskipun ancaman pembunuhan terhadap Petrus Asuy belum diketahui dalangnya. Namun sedikitnya kita sudah bisa menebak otak ancaman tersebut. Kegigihan Petrus Asuy dalam mempertahankan tanah adatnya tentu menjadi penghalang bagi perusahaan untuk memperluas lahan konsesinya. Hingga tidak mengherankan segala cara akan ditempuh untuk memuluskan kejahatannya.

Petrus Asuy merupakan satu dari tidak banyak orang yang berani melawan kejahatan korporasi – korporasi tersebut. Intimidasi hingga ancaman pembunuhan ialah konsekuensi dari apa yang ia lakukan. Tanah adat sudah menjadi bagian dari masyarakat adat Muara Tae. Hilangnya tanah adat juga berarti musnahnya masyarakat adat Muara Tae. Mengutip perkataan Petrus Asuy, “Bagi orang yang hidup di kota, tidak masalah dengan hutan jika hilang. Tapi, bagi masyarakat adat seperti kami sangat penting. Acara-acara adat sangat bergantung pada hasil hutan. Menghilangkan hutan, sama saja menghilangkan budaya kami.”

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

8 points
Upvote Downvote

Total votes: 8

Upvotes: 8

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

kabut asap bencana atau ulah manusia

Kabut Asap Bencana atau Ulah Manusia

Laporan Diskusi Publik Save Borneo

Laporan Diskusi Publik Save Borneo “Eksistensi Kebudayaan Dayak di Tengah Ekspansi Kapital”