in

Pekan Budaya Dayak Nasional II: Sebuah ‘Sampah Ingatan’ (?)

Pekan Budaya Dayak Nasional

TEROKABORNEO.COM – Pada tanggal 24-27 November 2016, Pekan Budaya Dayak Nasional (PBDN) II telah ‘berhasil’ diselenggarakan di Kota Yogya, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan menyewa gedung nan megah, Jogja Expo Center (JEC), event kebudayaan Dayak berskala nasional dapat dikatakan sebagai acara tutup tahun dari kalender event kebudayaan Dayak pada semua level – lokal, regional, dan nasional. PBDN II merupakan kelanjutan dari PBDN I 2013 di Jakarta, sebagaimana tertulis di press release PBDN II, mendapat ‘respon positif’ dari berbagai kalangan.

Penulis tergerak untuk menyoroti secara khusus fenomena kebangkitan budaya yang menurut pembacaan penulis berpotensi menjadi sebuah habitus nyampah ingatan. Penulis memfokuskan pada penyelenggaraan PBDN II yang masih hangat dan sangat layak untuk disorot dan dikritisi. Penulis berpendapat bahwa wajah (kebhinekaan) budaya Dayak yang ditampilkan pada PBDN II sarat muatan eksotisme dan romantisme nirmakna.

Habitus nyampah ingatan bukan klaim emosional. Sebaliknya, itu merupakan sebuah pembacaan analitis dan kritis atas apa yang dihadirkan oleh penyelenggara dan pelaksana PBDN II di ruang publik, baik dunia nyata maupun dunia maya. Sampah ingatan itu bermula dari tulisan BME yang diunggah di www.ruangdayak.org bertanggal 23 November 2016 dengan judul Mahasiswa Pelaksana PBDN II Terancam Hutang Ratusan Juta Rupiah. Berita ini diterbitkan satu hari menjelang pembukaan acara PBDN II, di mana menurut hemat penulis hanyalah upaya mencari sensasi dan caper (cari perhatian). Memori pembaca direpresi dengan informasi yang tak berkelanjutan. Dengan narasi “kami akan terus maju walaupun dihadapkan dengan tamparan”, pihak pelaksana membaptis dirinya sebagai ‘patriot kebudayaan.’

Rasa simpati publik adalah hal yang diharapkan. Inilah sampah ingatan. Publik diingatkan bahwa faktor utama keberhasilan atau ketidakberhasilan penyelenggaraan PBDN II adalah anggaran, sehingga segala kekurangan selama penyelenggaraan hendaknya dimaafkan, sikap permisif diteguhkan – kesempurnaan hanya milik Yang Maha Esa. Oleh karena itu, pertanyaan kritis yang hadir adalah (1) Berapa anggaran penyelenggaraan PBDN II? Ratusan juta atau miliaran rupiah?, (2) Bagaimana mekanisme pencairan dana dan pembagian tugas kerja, mengingat – sebagaimana tercantum di poster PBDN II – event kebudayaan ini di-organized oleh XO production, Sekber J. C. Oevaang Oeray, dan pihak lain yang kurang jelas tampilan gambarnya. Mengapa hanya mahasiswa yang terancam hutang?, dan (3) Berapa jumlah hutang yang mengancam mahasiswa sebagai pihak pelaksana kegiatan?

Standar ganda diterapkan oleh pihak pelaksana kegiatan. Ancaman hutang lebih penting diberitakan ke publik daripada gagalnya pelaksanaan acara Talkshow Budaya dan Lingkungan yang mengangkat tema Hutan Adat Bukan Hutan Negara dan akan menghadirkan para pembicara yang kompeten di bidangnya. Hal ini tidak pernah dipublikasikan ke ruang publik, semisal www.ruangdayak.org. Kegagalan acara talkshow ini tidak cukup sensasional. Sampah ingatan dipilah dan dipilih sebelum dilemparkan ke ruang publik. Foucault (2008: 41) menegaskan bahwa represi atas ingatan dilakukan dengan pengalihan, intensifikasi, reorientasi dan modifikasi wacana.

Hal kedua yang menggerakkan penulis untuk menurunkan tulisan ini adalah tema acara ‘Mempertegas Budaya Dayak dalam Bingkai Kebhinekaan” (catatan: di press release tertulis Mempertegas Budaya Dayak dalam Bingkai KeIndonesiaan). Penulis menyoroti kata ‘mempertegas’ dan frasa ‘budaya Dayak’. Pertama, imbuhan memper-Kata Dasar (tegas) bermakna ‘membuat suatu keadaan menjadi semakin/ lebih Kata Dasar.” Logika sederhananya adalah (kebhinekaan) budaya Dayak sudah tegas. Namun, karena satu dan lain hal, perlu untuk semakin/lebih tegas. Di sinilah nalar kita diuji. Kondisi seperti apa yang membuat (kebhinekaan) budaya Dayak perlu dipertegas, bahkan dalam skala yang lebih luas, yaitu pada level kebhinekaan (ke-Indonesia-an). Apakah (kebhinekaan) budaya Dayak sedang mengalami krisis identitas? Sedang dimarjinalkan dalam panggung kebhinekaan (ke-Indonesia-an)? Dan berhasilkah PDBN II mempertegas (kebhinekaan) budaya Dayak dari aspek kualitas – edukasi kritis-kepedulian versus hiburan rakyat untuk kaum urban?

Kedua, frasa ‘Budaya Dayak’ menyiratkan makna bahwa Dayak adalah entitas tunggal dan monokultur. Ini sebuah bentuk penyangkalan atas kebhinekaan budaya Dayak yang telah memperkaya khazanah kebhinekaan budaya Indonesia sebagai suatu negara-bangsa. Publik dikondisikan dalam sebuah rumah kaca bernama Budaya Dayak dengan menafikan keberagamannya. Kata kebhinekaan tak pernah bersanding dengan frasa Budaya Dayak.

Novel 1984-nya George Orwell secara cerdas menarasikan bagaimana kekuasaan memasuki dan menguasai wilayah paling privat dari manusia, yaitu INGATAN. Ia memonopoli, mengendalikan, menarik, menghapus, merevisi dan bahkan menerbitkan ulang kenyataan sehingga realitas yang dibangun adalah mono. Singkatnya, ingatan kita sedang direpresi secara sistematis, masif dan terstruktur dengan wacana edukasi-promosi-kebangkitan budaya.

Tulisan “Tanah Hilang Gawai Tamat”-nya Hendrikus Adam yang diterbitkan di www.pontianakpost.co.id (26 Mei 2016) menyentil alam bawah sadar kita bahwa esensi peradaban masyarakat adat Dayak berangkat dari tiga elemen: tanah (hutan), air (sungai), dan udara. Gelontoran dana untuk menyelenggarakan PBDN II tidak mampu menyentuh permasalahan ini, tidak berpijak dan sensitif pada kerusakan elemen-elemen pembangun peradaban kebhinekaan budaya Dayak. Bahkan ia terkesan menari-nari di atas realitas sosial masyarakat adat Dayak yang sedang memperjuangkan status hukumnya, diberangus aktivitas berladangnya, dijepit ekonominya dengan menurunnya harga komoditas, dan masalah sosial lainnya. HABITUS NYAMPAH INGATAN SEDANG TERJADI!

#SaveBorneo

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

60 points
Upvote Downvote

Total votes: 74

Upvotes: 67

Upvotes percentage: 90.540541%

Downvotes: 7

Downvotes percentage: 9.459459%

Event Kebudayaan Dayak di Yogyakarta

‘Kabut Gelap’ Event Kebudayaan Dayak di Yogyakarta

Hari Batik Nasional

Ganti Hari Batik Nasional dengan Hari Kain Tradisional Nasional