in ,

Secercah Harapan untuk Aliran Kepercayaan Kaharingan

Aliran Kepercayaan Kaharingan

TEROKABORNEO.COM – Bagi orang luar Kalimantan, agama / aliran kepercayaan Kaharingan tentu masih asing di telinga. Bahkan mungkin sebagian orang Kalimantan sendiri tidak banyak yang mengetahuinya. Hal itu tidak mengherankan mengingat semakin pudarnya eksistensi agama tersebut. Aliran kepercayaan Kaharingan adalah agama asli suku Dayak (meskipun tidak seluruh sub-suku Dayak menganut agama Kaharingan). Agama Kaharingan berasal dari bahasa Sangen (Dayak kuno) yang akar katanya ialah ’’Haring’’. Haring berarti ada dan tumbuh atau hidup dari dalam diri sendiri, yang dilambangkan dengan Batang Garing atau Pohon Kehidupan. Batang Garing sangat terkenal di kalangan warga Dayak. Batang Garing kini menjadi salah satu corak motif pada tameng dayak dan sebagainya.

Di dalam agama Kaharingan, Tuhan Yang Maha Esa disebut sebagai Ranying Hattala. Kaharingan juga mempunyai kitab-kitab antara lain Panaturan, Talatah Basarah (kumpulan doa, dan Tawar (panduan memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Esa). Tempat ibadah agama / aliran kepercayaan Kaharingan disebut Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Balai Kaharingan saat ini dapat ditemui dibeberapa daerah di Kalimantan Tengah.

Agama Kaharingan telah turun-temurun dianut oleh orang-orang Dayak sebelum masuknya agama-agama dari luar. Namun, seiring berjalannya waktu, agama Kaharingan tersisihkan dan digantikan oleh agama-agama luar yang masuk di dalam masyarakat Dayak. Ironisnya, agama Kaharingan juga tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia seperti umumnya agama-agama lokal lain. Hal tersebut membuat sebagian penganut Kaharingan mencampurkan kepercayaannya dengan agama Hindu dan kemudian mengindentifikasi diri sebagai Hindu Kaharingan.

Pasca Pengakuan Mahkamah Konstitusi Tentang Penghayat Kepercayaan

Tertanggal 07 November 2017, Mahkamah Konstitusi secara resmi mengeluarkan keputusan yang menganulir Pasal 61 ayat 1 dan Pasal 64 ayat 1 Undang-Undang (UU) Administrasi Kependudukan karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Keputusan tersebut sekaligus menjadi titik awal diakuinya para penganut kepercayaan lokal seperti Kaharingan.

Dikeluarkannnya keputusan Mahkamah Konstitusi tersebut setelah para penggugat yang terdiri dari  para penganut kepercayaan lokal mengajukan judicial review. Keputusan MK membuat para penghayat kepercayaan dapat mencantumkannya di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Keluarga (KK). Sebelumnya, para penganut kepercayaan lokal tersebut kerap mendapat kesulitan untuk mengurus administrasi jika tidak mencantumkan enam agama resmi di dalam KTP maupun KKnya.

Lika-liku perjalanan para penganut Kaharingan yang kerap didiskriminasi diharapkan akan menjadi lebih baik dengan keluarnya putusan MK di atas. Sudah saatnya Kaharingan yang notabene adalah kepercayaan asli suku Dayak hidup kembali di tengah masyarakat Dayak. Mari berharap bahwa keputusan yang baik tersebut akan sejalan dengan implementasinya ke depan.

What do you think?

4 points
Upvote Downvote

Total votes: 4

Upvotes: 4

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

konflik agraria

Menyoal Program Sertifikasi Tanah dan Konfik Agraria di Kalimantan

Bangunan bersejarah di Kalimantan

Bangunan Bersejarah di Kalimantan, Sayang untuk Sekadar Dikenang