in ,

Sejarah Dayak Jawatn Menurut Tetua Kampung Boti

Dayak Jawatn

TEROKABORNEO.COM Sebagai seorang generasi muda desa yang hidup di zaman peralihan kebudayaan lisan ke digital saya merasakan adanya suatu lompatan budaya. Orang tidak terlebih dahulu diajarkan untuk memfragmentasi pengetahuan dan kebijaksanaan lokalnya tetapi langsung pada sistem sosial dan budaya yang terarah dengan media sosial. Beralihnya medium sumber pengetahuan dari budaya lisan menuju tulisan hingga zaman digital yang ditandai oleh lahirnya media sosial tentu menawarkan pendekatan yang berbeda. Jika tidak disikapi secara kritis dan cermat maka tidak mengherankan apabila nanti banyak dari generasi muda yang tidak mengerti akan sejarah dan kebijaksanaan hidup kaumnya terdahulu melainkan hanya mengetahui sebagian kecilnya saja atau bahkan tidak sama sekali. Fenomena globalisasi atau dalam studi filsafat disebut postmodernism era pada akhirnya dapat membuat sebagian orang tercerabut dari akar budaya dan identitasnya. Maka atas pertimbangan tersebut maka penulis merasa perlu untuk membuat tulisan mengenai asal usul Dayak Jawatn.

Tulisan ini sendiri bersumber dari wawancara dengan bapak Anong Yustinus pada 27 April 2017 yang bertempat di kediaman beliau di kampung Boti. Tujuannya supaya generasi muda Jawatn mengerti asal usul, identidas dan budayanya. Lebih dari itu adalah agar masyarakat mengenal Dayak Jawatn. Seandainya ada versi cerita yang sedikit berbeda dari para orang tua Dayak Jawatn yang tersebar di 16 kampung, penulis berharap ini bisa menjadi diskusi bersama agar ke depannya terdapat kesamaan cerita. Berikut adalah hasil transkrip wawancara dengan bapak Anong tentang asal usul Dayak Jawatn yang sudah penulis terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

 

Dayak Jawatn
(Dok. Emilia tahun 2002. Beberapa pemuda Jawatn Boti sedang joget bersama)

Bagaimana cerita Jawant pak?

Dayak Jawatn berasal dari Labe Lawe. Lari dari sana karena diserang oleh cacing. Penyebabnya karena penguasa minta diberi makan. Ketika mereka – Jawatn penduduk limbong, sedang membersihkan ayam di sungai, usus ayam dimakan oleh ikan. Maka mereka menggali cacing untuk menggantikannya. Setelah dibersihkan lalu dimasak dan makan bersama. Namun mereka menceritakannya sendiri ke penguasa kalau usus tersebut adalah cacing. Oleh penguasa, mereka diminta menggali cacing lagi. Ternyata mereka diserang cacing sehingga lari menyusuri hulu sungai Kapuas. Orang yang menjadi pemimpin rombongan tersebut bernama Pati Bangi. Gelombang migrasinya melalui beberapa tahap. Dalam kesepakatannya, kelompok migrasi awal akan memberi tanda di mana arah tujuan mereka dengan galah tesopit[1]. Galah karo[2] yang mereka gunakan sebagai pertanda terselip di muara sungai Sekadau. Kelompok migrasi kemudian melihat galah tesopit di muara Sekadau. Ketika mereka masuk muara ternyata masih dilintangi batang sebangko[3]. Lalu Pati Bangi bersama anak buahnya membawa mandau/pedang Sengkilang Patah Tiga. Pedang tersebut yang digunakan untuk memotong batang sebangko yang melintangi muara sungai Sekadau. Setelah terpotong mereka mudik ke hulu sungai dan masuk sungai Menterap. Mereka singgah dan menetap di kampung Nsuman, kampung Ntorap Idup, kampung Torong, kampung Kebayan.

 

Dayak Jawatn
(dok. Pribadi. Pusaka Dayak Jawatn di rumah Pasah)

 

Cerita pasah dan atur adat

Pada zaman dahulu orang belum mengerti atur adat, siapa yang mengerti perkara hidup dialah yang mengajari temannya. Namun terjadi kasus seorang warga yang bernama Alap Tambel ngampang[4]. Karena belum ada yang mengerti atur adat maka siapa yang melanggar tata hidup bersama langsung dibunuh dengan cara diikat ke kayu lalu dibuang ke sungai. Maka orang tua Alap Tambel mulah pemakan[5] karena setelah orang kampung pulang nuba ikan mau membunuh anaknya. Setelah membuat pemakan tersebut kedua orang tuanya mengikuti orang nuba[6]. Alap Tambel yang tidak ikut menuba pergi mandi ke sungai dengan membawa topong[7]. Sepulang mandi dia diikuti oleh hantu yang menjadi manusia. Dia kira mereka adalah orang yang akan membunuhnya. Karena ketakutan maka ia buang air kecil lalu mendengar suara “dak deredak, iso kutin diam dalam tolak”[8]. Padahal segala parang yang ada di rumah sudah disembunyikan oleh kedua orang tuannya. Mendengar suara tersebut ia melihat ke bawah rumah ternyata ada iso kutin[9] yang terselip. Diambilnya iso kutin tersebut lalu orang yang mengkutinya pulang dipantap[10] semua dan berubah menjadi tempayan[11].

Sepulang orang menuba lalu bermufakat untuk membunuh Tambel. Ternyata ayah Tambel melihat rumah bakatugak[12] tempayan. Berceritalah ayah Tambel kalau tempayan tersebut didapat anaknya, “kami mengakui kesalahannya tetapi cerita dia mendapat tempayan bagaimana?”. Maka bertanyalah orang kepada Alap Tambel bagaimana ceritanya mendapatkan tempayan tersebut? Alap Tambel bercerita kalau ia turun mandi membawa topong pemakan. Pulang lalu diikuti oleh orang. Dari sekian banyak yang dipantap menjadi tempayan ternyata Rangkang bekaki[13] yang tidak mampu naik tangga jamban sedangkan yang lain mampu dia pantap.

Setelah bermusyawarah maka warga sepakat untuk be bi’in[14]. Mereka membuat lantin[15] menggunakan pohon pisang yang diisi pemakan seperti lancang maram, manok, sanga, potih gengkarok. Lalu mengabor boras dan memanggil segala isi sungai. Mereka datang semua. Namun Rangkang bekaki yang tidak bisa dipantap. Maka berkatalah Rangkang bekaki, “o… Manteare, Tajo Sekapong, Tajo Bulong, Pasah Pelale, Patong dah mati am konak pantap anak nsia. Tinggal aku soyang me yang idup”. Rangkang bekaki mampu melompat ke sungai, sedang Manteare yang menjadi kepala dari pusaka tersebut. Yang mendapat segala tempayan tersebut adalah warga Kebayan.

Mereka lalu sepakat untuk tidak membunuh Tambel, “tidak bisa orang bersalah langsung dibunuh”, namun yang melangar norma tetap perlu dihukum. Mereka bermusyawarah lagi untuk menentukan bagaimana cara menjatuhkan hukum adat. Di situ ada Asuk domong lancuk yang sedang mendengar perdebatan warga. Bagaimana menjatuhkan hukum kepada orang yang hamil di luar nikah? Adatnya enam bolas. Lalu Asuk[16] turun ke tanah mengambil rango[17] enam belas potong lalu di tata. Kalau adat delapan, ambilnya rango lalu di tata delapan buah. Kalau adat empat poku, diambilnya rango lalu ditata empat buah. Jadi yang mengajarkan adat adalah Asuk. Warga lalu menunjuk Ngorti (Merti) Garti sebagai pemimpin adat.

Cerita Nsuman?

Kalau cerita Nsuman, salah seorang warganya memancing ke teluk Seladan. Setelah beberapa kali dia memancing, ia melihat buluh[18] yang tingginya melebihi ujung pohon tapang (terminalia catappa). Karena melihat keanehan buluh tersebut maka ditebang dan diambil tiga ruas[19]. Kemudian ia pulang ke rumah dengan membawa tiga ruas buluh lalu di sandar ke jurong bersama dengan galah miliknya. Ketika pagi istrinya ingin memberi ayam makan ternyata tidak melihat jurong[20].

Istrinya: wah…. di mana jurong kita?

Suaminya: kemarin masih ada.

Istrinya: ke mana hilangnya?

Keluar suaminya dari dalam rumah melihat jurong ternyata masih ada di tempatnya.

Suaminya: ini jurongnya masih ada.

Istrinya: kok aku tidak melihatnya?

suaminya mengambil buluh tiga ruas dan meletakkannya di tempat lain baru istrinya melihat jurong.

Suaminya: kalau begitu buluh tersebut ada isinya.

Setelah itu ia memberitahukan orang satu kampung tentang keanahan buluh tersebut. Setelah ada kesepakatan warga maka buluhnya dibelah dan di dalamnya berisi abu[21]. “Mekat batang badah” maka abu ditabur mengelilingi rumah[22] warga, sehingga kampong Nsuman lalu ngolap[23].

 

Dayak Jawatn
(Dok. Pribadi. Di sinilah letak Tanah Berani bertemu warga Kebayan)

 

Cerita Kebayan

Warga Kebayan kemudian diserang Biyajuk[24]. Karena banyak yang meninggal maka mereka lari ke Nsuman agar bisa ngolap di sana. Dalam perjalanan menyusuri hilir sungai Menterap mereka bertemu dengan seorang laki-laki bernama Tanah Berani di Boti.

Tanah Berani: kalian mau pergi ke mana?

Warga Kebayan: kami mau pergi ke Nsuman

Tanah Berani: ada apa dengan warga di Kebayan?

Warga Kebayan: kami diserang Biyajuk

Tanah Berani: kalian berlindung di sini saja biar aku yang hadapi, “tuk tanah berani namae”[25].

Lalu warga Kebayan singgah di Boti[26] dan membuat rumah di Kadok[27]. Ada beberapa warga Kebayan yang tidak ikut migrasi ke Boti memilih untuk pindah ke Mondi. Di kemudian hari warga yang tinggal di Kadok terserang penyakit cacar yang mengakibatkan banyak yang meninggal. Lalu mereka pindah ke kampung Boti. Di Boti terdapat banyak danau. Dari berbagai danau tersebut ada yang namanya danau pelale. Di danau pelalelah warga yang sudah menetap di Boti mendapatkan keromong[28]. Asalnya dari warga yang sedang berburu babi hutan. Sampai di danau pelale, anjing warga menggonggong babi hutan selama tujuh hari tujuh malam. Setelah tujuh hari menggonggong maka warga datang untuk melihat hewan apa di sana. Ketika sampai di danau pelale anjing sudah menjadi keromong. Maka keromong tersebut di simpan warga di Rumah Pasah[29] disatukan dengan Sengkilang Patah Tiga, Manteare, Tajo Sengkapong, Tajo Bulong dan Pasah Raorangah.

 

Warga Torong dan Ntorap Idup

Warga kampung Torong atau yang kemudian hari berubah menjadi kampung Montok dalam kisahnya habis karena berperang melawan suku Seberuang. Yang hidup hanya seorang panglima dengan istrinya namun tidak meninggalkan cerita. Karena zaman itu semua orang mati di bakar maka abu jenazahnya di simpan dalam tempayan. Makam tersebut sampai saat ini masih ada di Sandong Belabang. Sedangkan warga Ntorap Idup kemudian tinggal dan menetap di Sulang Betung. Salah seorang panglima Ntorap Idup pada waktu itu bernama Jalak Temiang. Dalam perperangannya dia berhasil membunuh panglima Seberuang yang bernama Panglima Repen dan Ria Nambang. Di kampung Sulang Betung masih tersimpan beberapa kepala manusia yang didapat dalam perang tersebut.

Dari tiga kampung tua Dayak Jawatn karena Nsuman sudah ngolap, warganya berkembang menjadi 16 kampung yaitu Boti, Sulang Botong, Mondi, Roca, Nate Kelampe, Tapang Birah, Gintong, Engkorong, Sungai Gontin, Bongkit, Sengiang, Ensibo, Kerentak, Jangkak, Gurong dan Bunut. Kampung-kampung tersebut terletak di daerah Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

 

Catatan Kaki:

[1] Galah adalah pohon bambu yang digunakan untuk mendayung perahu. Sedangkan tesopit artinya diselipi.

[2] Galah karo adalah sebatang pohon bambu yang digunakan untuk mendayung perahu namun di bagian ujungnya dibuat berkait untuk menarik dahan kayu ketika air pasang.

[3] Batang sebangko adalah batang pohon adau yang menjadi sejarah kota Sekadau.

[4] Ngampang adalah hamil di luar nikah.

[5] Mulah pemakan adalah membuat suatu acara untuk mengenang seseorang

[6] Nuba adalah mencari ikan dengan menggunakan racun yang berasal dari buah pohon kayu atau akar kayu.

[7] Topong adalah kue yang terbuat dari beras yang telah menjadi tepung.

[8] Dak deredak, iso kutin diam dalam tolak artinya ada parang yang terselib di bawah rumah.

[9] Iso kutin adalah parang yang belum punya gagang/kayu sebagai pegangan karena baru habis ditempa.

[10] Pantap berarti parangi.

[11] Tempayan atau yang sering disebut guci yang berukuran besar.

[12] Bakatugak tempayan berarti terdapan banyak tempayan.

[13] Rangkang bekaki atau juga sering disebut rangkang sura adalah kayu yang berakar tetapi terdapat dalam air sungai.

[14] Be bi’in adalah melakukan ritual adat.

[15] Lantin adalah beberapa pohon kayu yang diikat sebagai rakit di sungai.

[16] Asuk adalah anjing.

[17] Rango adalah dahan pohon yang mati dan jatuh ke tanah.

[18] Buluh artinya bambu.

[19] Ruas sama dengan potong.

[20] Jurong adalah tempat menyimpan padi yang terpisah dari rumah tempat tinggal warga.

[21] Abu adalah fase setelah kayu habis terbakar oleh api.

[22] Rumah pada waktu itu masih berbentuk rumah panjang.

[23] Ngolap berarti tidak kelihatan.

[24] Biyajuk adalah hantu yang makan manusia.

[25] Tuk Tanah Berani namae artinya Aku Tanah Berani namanya.

[26] Boti adalah nama tempat yang dahulunya terdapat banyak danau namun sekarang menjadi nama kampung.

[27] Kadok adalah nama tempat.

[28] Keromong adalah sejenis gong namun berukuran kecil.

[29] Rumah Pasah adalah tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka yang terletak di kampung Boti.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

14 points
Upvote Downvote

Total votes: 20

Upvotes: 17

Upvotes percentage: 85.000000%

Downvotes: 3

Downvotes percentage: 15.000000%

Ngayau

Ngayau dan Rekonstruksi Wacana Kolonial

tanah hilang budaya melayang

Tanah Hilang Budaya Melayang: Sebuah Refleksi