in ,

Sejarah Singkat Bahasa Melayu di Indonesia

Sejarah Singkat Bahasa Melayu di Indonesia

TEROKABORNEO.COM – Selama beberapa abad bahasa Melayu telah menjadi “alat komunikasi” bagi seluruh Nusantara; Sejarah Singkat Bahasa Melayu di Indonesia bukan saja bertugas sebagai lingua franca bagi orang Indonesia saja, akan tetapi bertugas juga sebagai penghubung antara orang Indonesia dengan orang asing. Pengetahuan kita tentang perkembangan awal bahasa Melayu memang terbatas karena sumber-sumbernya yang amat sedikit dan juga jarang ditemukan. Tapi yang dapat menjadi catatan adalah terdapatnya sebuah Inskripsi tertua yang masih terpelihara dalam Bahasa Indonesia di Nusantara ini ditulis dalam suatu bahasa yang dengan tepat sekali disebut Bahasa Melayu Kuno, oleh karena bahasa tersebut lebih dekat atau punya banyak kemiripan dengan bahasa Melayu daripada bahasa-bahasa Indonesia lain yang sekarang ini. Inskripsi tersebut tertanggal sejak pertengahan abad ketujuh Masehi (tahun 650-an); dan telah ditemukan di sekitar kota Palembang, yaitu ibukota Sumatera Selatan saat ini, di bukit bukau daerah Minangkabau (Sumatera Tengah) dan di pulau Bangka. Ketiga hal ini saja sebetulnya adalah bukti bahwa pada ketika itu bahasa Melayu telah digunakan secara cukup luas pada zaman itu.

Inskripsi tersebut juga menandakan permulaan berkembangnya kerajaan Sriwijaya, yang selama beberapa abad memainkan peranan penting dalam sejarah Asia Tenggara. Sesungguhnya sudah dapat dipastikan bahwa di kerajaan yang amat kental “sifat” Indianya ini bahasa Sansekerta amat terkenal – sebagaimana juga halnya dengan beberapa kerajaan di Jawa pada waktu itu dan setelahnya. Akan tetapi ada perbedaan yang cukup menarik: jika di Jawa inskripsi-inskripsi tertua seluruhnya menggunakan bahasa Sansekerta, maka tidak halnya raja-raja Sumatera pada zaman itu. Mereka lebih suka untuk menggunakan bahasa setempat untuk undang-undang kerajaannya. Posisi kerajaan Sriwijaya saat itu amat penting sebagai pusat perdagangan, oleh karena terletak pada jalan laut utama antara India dan Tiongkok; dan sangat mungkin bahasa Melayu merupakan bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhannya. Bahasa tersebut juga merupakan bahasa istana resmi, dan oleh karena itu merupakan pelopor bahasa Indonesia moderen.

Ada pula beberapa bukti lain yang rupanya turut memperkuat kesimpulan ini: salah satu di antaranya ialah bahwa pada abad-abad berikutnya beberapa inskripsi dalam Bahasa Melayu Kuno telah ditemukan di pulau Jawa, dan tentu saja seperti kita ketahui bahwa di pulau Jawa bahasa Melayu bukanlah merupakan “asli” setempat. Banyak seluk-beluk yang belum jelas, akan tetapi dapat menunjukkan bahwa bahasa Melayu dapat dan sangat mungkin digunakan sebagai ganti ataupun pendamping bahasa Jawa atau Sansekerta sebagai bahasa resmi di beberapa bagian pulau Jawa sepanjang abad kedelapan hingga kesepuluh Masehi.

Bukti kedua tentang pentingnya bahasa Melayu sebagai perantara kebudayaan pada zaman pertengahan diperoleh dari kesusastraan Tionghoa. Para pengunjung Tionghoa, yang sering menghabiskan masa bertahun-tahun lamanya di berbagai pusat agama di Indonesia dalam perjalanan mereka ke India, menyatakan bahwa mereka menggunakan bahasa setempat – yang mereka sebut Kw’un Lun – untuk kegiatan kesarjanaan mereka, untuk penelaahan dan penterjemahan buku-buku dari bahasa Sansekerta, dan itulah bahasa pengajaran yang digunakan oleh para guru setempat. Istilah Kw’un Lun itu dipakai untuk menyebut bahasa-bahasa setempat pelbagai daerah (Kamboja, Birma, Madagaskar) dan tidak perlu rasanya menganggap bahwa istilah itu selamanya digunakan bagi bahasa yang sama. Akan tetapi jelas agaknya bahwa pada akhir abad ketujuh pada zaman pengunjung yang terkenal I-Tsing, bahasa setempat di ibukota Sriwijaya (bahasa Melayu) amat luas digunakan sebagai bahasa pengajaran filsafat Sansekerta dan Buddha.

Kita hampir tidak mempunyai keterangan apa pun tentang perkembangan bahasa Melayu selanjutnya pada abad-abad permulaan tersebut. Tentang sejauh manakah bahasa Melayu tersebar ke arah timur pada zaman  itu, tetapi besar kemungkinan melalui perdagangan, bahasa Melayu tersebar sampai kepulauan Maluku. Setidak-tidaknya kepada kaum pengembara Eropa yang paling awal, umpamanya Magellan dan ‘ahli bahasanya’ yang bernama Pigafetta, yang telah menghasilkan daftar kata-kata Melayu yang pertama, jelaslah bahwa bahasa Melayu merupakan satu-satunya lingua franca bagi seluruh kepulauan itu.

Bahasa Melayu sejak itu bukan saja terus memainkan peranan itu saja, tetapi juga menjadi semakin penting. Bahasa tersebut merupakan bahasa perdagangan antara orang-orang asing (India, Tionghoa, Arab, Eropa) dengan orang Indonesia, dan juga antara “orang Indonesia” yang berlainan bahasa. Bahasa Melayu juga merupakan bahasa yang digunakan oleh kaum penyebar agama, untuk meluaskan pengaruh agamanya, baik Islam maupun Kristen.

 

Sumber : A. Teeuw, (Sastra Baru Indonesia 1)

What do you think?

4 points
Upvote Downvote

Total votes: 4

Upvotes: 4

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Keldung Las Wehea Long Sekung Metguen

Keldung Las Wehea Long Sekung Metguen

Diskusi Publik Save Borneo

Diskusi Publik Save Borneo “Eksistensi Kebudayaan Dayak di Tengah Ekspansi Kapital”