in ,

Senjakala Peradaban Tanah

senjakala peradaban tanah

TEROKABORNEO.COM – Peradaban – setuju atau tidak – merupakan sebuah narasi panjang yang bergelimpangan darah. Tak satupun kisah peradaban dibentuk tanpa disertai upaya penaklukan, penghancuran dan bahkan pembantaian. Semangat Gold, Gospel, Glory yang membuka tabir dunia baru dapatlah dijadikan referensi jelas bagaimana perabadaban pada akhirnya saling berhadapan. Samuel Huntington secara tegas menyatakan bahwa keruntuhan komunisme Uni Soviet bukanlah akhir sebuah sejarah, melainkan membuka selubung wacana lama tapi baru, yaitu benturan antarperadaban (clash of civization).

Peradaban cenderung identik dengan sebuah bangsa. Dalam konteks hubungan internasional, salah satu syarat berdirinya sebuah negara adalah eksistensi sebuah bangsa yang mengusung negara tersebut atau lebih dikenal dengan istilah self-determination. Sebuah bangsa bisa berciri homogen, seperti Kroasia dan Serbia, atau sebaliknya berciri heterogen seperti Indonesia dan Amerika Serikat.

Secara legal, bangsa Indonesia dideklarasikan melalui sebuah sumpah, yaitu Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 di mana salah satu isinya berbunyi: berbangsa satu, bangsa Indonesia.’ Bangsa Indonesia sebagaimana dikatakan oleh Benedict Anderson merupakan sebuah Imagined Community.

Bangsa Indonesia merupakan hasil konstruksi yang dibayangkan sebagai suatu bangsa yang memiliki ikatan pada tanah-air, bahasa dan ‘rasa kebangsaan.’ Bangsa Indonesia sendiri ditopang oleh ragam suku, salah satunya suku bangsa Dayak. Suku bangsa Dayak (selanjutnya ditulis suku Dayak) juga memiliki ragam subsuku yang jumlahnya mencapai ratusan dengan ragam bahasa-sosial-budaya dan tersebar di bagian luar, tengah, dan dalam pulau Kalimantan. Lazimnya sebuah peradaban yang lahir dari letak geografisnya, maka peradaban suku Dayak pun tak luput dari hal itu, yaitu peradaban sungai dan tanah (hutan).

Peradaban suku Dayak telah menarik perhatian dunia, mulai dari seni rajah kulit (tato), seni pengobatan, sistem huma (perladangan), sistem pemerintahan, serta sistem kepercayaan. Roda peradaban ini relatif terjaga ‘kemurniannya’ sampai terjadi persinggungan secara ‘terbuka’ dengan peradaban yang lebih besar. Pintu masuknya adalah perjanjian Tumbang Anoi yang menyepakati penghentian budaya mengayau (memenggal kepala). Sejak saat itu, peradaban besar yang telah ‘mapan’ tersebut secara evolutif mengkooptasi peradaban suku Dayak melalui sistem pendidikan dan sistem kepercayaan baru, tidak lagi primitif.

Tanah: Sebuah Peradaban?

Tanah merupakan sebuah hikayat tak terputus yang terus bercerita dalam diamnya. Ia merekam yang terjadi di atas maupun di bawahnya. Ia saksi bisu setiap jengkal perubahan berdalih pembangunan (baca: eksploitasi).

Strukur tanah di Kalimantan yang khas membuat setiap manusia Dayak yang mendiaminya setiap jengkalnya menciptakan, mengembangkan, dan mewariskan lokal geniusnya untuk keperluan kaumnya. Warna tanah, ketersediaan aliran air, dan jenis pohon yang menduduki tanah tersebut merupakan segelintir ‘simbol alam’ yang memerlukan kejeniusan untuk memahaminya sebelum membuka lahan pertanian.

Masyarakat adat Dayak pada dasarnya mengenal dua jenis sistem pertanian, yaitu perladangan dan persawahan. Pada lahan yang relatif datar dan air cukup tersedia, maka membuka sawah merupakan sebuah pilihan yang baik. Namun, sistem persawahannya masih bersifat semipermanen karena dikerjakan hanya setahun sekali, yaitu di musim hujan (Soedjito, 2005: 180).

Soedjito (2005: 179) juga menyatakan bahwa sistem perladangan berpindah, sebagaimana sering dilabeli demikian, sesungguhnya menciptakan kesalahkaprahan baru yang sangat fatal. Penamaan sistem perladangan masyarakat adat Dayak – berpindah dan membakar hutan – menyebabkan masyarakat adat Dayak dijadikan sasaran tembak setiap peristiwa lingkungan hidup yang terjadi di Kalimantan, misalnya kebakaran hutan. Lebih jauh, Soedjito mengatakan bahwa nama yang tepat adalah sistem perladangan daur-ulang.

Siklus sistem perladangan daur-ulang berotasi sekitar 5-8 tahun. Marilah kita berandai-andai: setiap kepala keluarga membuka sebuah lahan pertanian dan mengelolanya selama dua tahun. Sesudah dua tahun, mereka berpindah ke lokasi baru dan membuka lahan pertanian baru. Hal ini terus dilakukan selama delapan tahun, sebelum mereka kembali lagi ke lahan pertanian pertama mereka. Artinya, kepala keluarga hanya memiliki empat lahan pertanian saja dan membakar lahar setiap dua tahun.

Masyarakat adat dayak menjaga keadaban tanah dengan melaksanakan siklus perladangan daur-ulang. Sistem ini memastikan bahwa keberlangsungan unsur hara dan tumbuhan tetap terjaga. Singkatnya, etnoekologi telah diterapkan oleh masyarakat adat Dayak dengan mengklasifikasi satuan tanah dan bentang alamnya dengan mendasarkannya pada fungsi pemanfaatannya. Misalnya, masyarakat adat Dayak Kenyah, Kalimantan Timur mengelompokkannya ke dalam istilah Umak (rumah tempat tinggal), Sada leppo’ (pekarangan), Leppo’ (pemukiman), Uma (ladang), Kalimeng (kebun kecil), Jekau (bekas ladang), Empak (hutan rimba), dan Tana’ ulen (hutan cadangan masyarakat).

Tanah: Hak (yang) Berkonflik

Tanah adalah sebuah hak. Hak yang bagi masyarakat adat Dayak sangat penting, walaupun begitu rapuh di mata hukum formil mengingat bahwa hukum yang dianut masyarakat adat Dayak senantiasa bersifat lisan dan berdasarkan kepercayaan tanpa selembar kertas. Hal ini seringkali disalahtafsirkan bahwa masyarakat adat Dayak tak mengenal aturan kepemilikan tanah. Ketiadaan patok batas dan sertifikat tanah adalah penanda betapa pengetahuan masyarakat adat Dayak sangat rendah.

Masyarakat adat Dayak mengenal kepemilikan individu dan komunal. Pembukaan ladang dilaksanakan secara koletif, sementara kepemilikan tetap bersifat pribadi. Pemegang hak atas tanah adalah keluarga yang pertama kali membuka hutan rimba sebagai ladang mereka.

Hak atas tanah ini dapat diwariskan ke anak-cucu. Kadang, tanah tersebut juga dapat dipinjamkan ke keluarga lain yang membutuhkan. Jadi, masyarakat adat Dayak telah mengenal Hak Milik dan Hak Pakai. Perjanjiannya berdasarkan kepercayaan dan bersifat lisan. Hak Milik ini bisa dilepaskan apabila si pemilik sudah tidak mau memilikinya.

Hak atas Tanah diatur secara tegas dalam kehidupan masyarakat adat Dayak yang secara lisan ‘dibukukan’ sebagai hukum adat. Hukum adat ini pada dasarnya lebih banyak mengatur relasi intraanggota masyarakat adat Dayak. Ketika peradaban lokal-minor ini bersinggungan dengan peradaban nasional-major, maka kebutuhan untuk mendokumentasikan hukum adat secara tertulis pun berkembang. Relasi intermasyarakat – terutama kebijakan yang berkaitan dengan tanah (hutan) – mulai diatur dan disusun.

Kebijakan pemerintah, baik daerah maupun pusat, di bidang tata kelola pemerintahan, kehutanan, perkebunan, pertambangan dan transmigrasi telah ‘meminggirkan’ masyarakat adat Dayak dari peradaban tanah yang mereka bangun. Perda No. 16/DPRGR/1969, misalnya, membuat masyarakat adat Dayak Kadorih kehilangan hak ulayatnya di mana posisi Demang dalam sistem Kedemangan yang semestinya menjadi mitra camat dibuntukan secara hukum. Negara hanya mengakui Lewu (kampung) sebagai kawasan masyarakat hukum adat (Rini, 2005: 32).

Hukum formal dan hukum adat menghasilkan gesekan yang berujung konflik. Penguasa dan pengusaha berselingkuh di payung hukum Negara, di mana kekosongan aturan main rinci menjadi celah masuknya kepentingan. Terminologi lahan kritis atau tandus pun muncul sebagai pembenaran masuknya konsesi perkebunan untuk mengelola tanah.

Masyarakat adat Dayak tak pernah mengenal lahan kritis ataupun tandus. Lahan yang ditumbuhi semak belukar bukan lahan kritis. Lahan itu sedang memperbarui diri. Lahan itu bertuan, bukan lahan kosong. Pemanfaatan tanah (hutan) berdasarkan fungsi dan peruntukannya pun dikelompokkan ke dalam nama-nama lokal. Local wisdom ini diberangus begitu saja secara terstruktur, sistematis, dan masif.

 

Daftar Pustaka

Soedjito, Herwasono. 2005. Apo Kayan: Sebongkah Sorga di Tanah Kenyah. Bogor: Himpunan Ekologi Indonesia.

Rini, Kartika. 2005. Tempun Petak Nana Sare: Kisah Dayak Kadori, Komunitas Peladang di Pinggiran. Yogyakarta: INSISTPress.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

17 points
Upvote Downvote

Total votes: 17

Upvotes: 17

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

pemilukada politiknya kelas menengah

Pemilukada Politiknya Kelas Menengah

kabut asap bencana atau ulah manusia

Kabut Asap Bencana atau Ulah Manusia