in

Tanah Hilang Budaya Melayang: Sebuah Refleksi

tanah hilang budaya melayang
ilustrasi alam

TEROKABORNEO.COM – Kalimantan adalah salah satu pulau yang kaya akan pesona alam dan budayanya. Keharmonisan yang terjadi antara kehidupan manusia dengan alam tersebut saling berkorelasi sehingga menjadi satu kesatuan utuh yang senantiasa saling memberi makna dalam interpretasi hubungannya dengan peradaban yang sedang berlangsung. Hal tersebut sangat tampak dalam kehidupan masyarakat pedesaan yang memiliki ketergantungan dengan alam, misalnya masyarakat yang menjaga hutan agar keberadaan spesies binatang dan tumbuhan tetap terjamin, lalu mereka mengambil secukupnya “hasil hutan” tertentu guna kelangsungan hidup. Hasil hutan yang dimaksud di sini dapat berupa hewan dan tanaman yang dapat dikonsumsi maupun yang dijadikan bahan pengobatan tradisional, atau juga pemanfaatan kulit binatang atau kulit pohon untuk dijadikan bahan dasar membuat pakaian. Keselarasan yang terjalin membuat kehidupan saat itu penuh dengan produktifitas dan kreativitas masyarakat dalam menciptakan unsur kesenian baik itu musik, ukiran, tarian yang semuanya berdasarkan penghayatan terhadap hubungan baik dengan alam.

Namun hubungan sakral ini sekarang kian terancam dan perlahan mulai terputus dari “spirit” awal tadi. Hampir semua segi sumber kehidupan masyarakat dikomodifikasi sedemikian rupa sehingga pada akhirnya membuat manusia tercerabut dari akar budayanya. Tanah, hutan dan segala spesiesnya dijadikan sebagai sarana untuk menyokong ekspansi kapital yang berakibat pada eksploitasi manusia, alam dan budaya. Menurut Jean Baudrillard (1929-2007), ekspansi kapital telah mengubah manusia menjadi benda (sifat). anugerah berupa alam yang kaya semata dianggap atau dimanfaatkan sebagai penyokong produksi industri-industri berskala raksasa, sedangkan budaya hanya sebagai seremonial tahunan belaka. Tulisan ini sendiri berusaha untuk memberikan perspektif atau gambaran bahwa tanah dan kebudayaan betul-betul memiliki keterkaitan yang tak terelakkan. Pendapat saya ini didukung dan pernah diungkapkan oleh seorang pakar antropologi ekologi, Julian Steward (1995) yang mengemukakan bahwa manusia dan ekosistem berhubungan secara timbal balik dalam membentuk kebudayaan. Memaksa memisahkan manusia dari ikatan akan tanahnya dapat berarti pula membunuh sejarah dan kebudayaannya.

Memaknai Tanah dan Budaya

Pada tahun 1900-an, Kalimantan masih dianggap sebagai salah satu paru-paru dunia karena terdapat banyak hutan dan mitos-mitos yang mengiringinya. Mitos-mitos akan adanya kekuatan gaib yang meliputi hutan Kalimantan saat itu terus digaungkan bahkan oleh penguasa Orde Baru sekalipun, akan tetapi tetap saja kegiatan pembabatan hutan dan penghancuran rumah-rumah panjang suku Dayak tetap saja dijalankan. Semua itu dilakukan dengan dalih bahwa tempat-tempat tersebut merupakan sarang tindakan asusila. Ketika pembabatan hutan dan penghancuran rumah panjang dilakukan sebenarnya sedang terjadi “etnogenosida” karena menciptakan kondisi kehidupan etnis yang berakibat pada penderitaan fisik dan mental, dan atau mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik keseluruhan maupun sebagian, sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 8 huruf b dan c, UU 26 tahun 2000. Namun hal tersebut tampaknya dinafikan begitu saja dan tidak betul-betul disadari sehingga kehidupan sosial masyarakat Dayak pun pada akhirnya ikut terdampak.

Perubahan ini juga berakibat pada pemaknaan akan tanah tempatnya hidup dengan segala vegetasi dan budaya sebagai kreasinya. Misalnya dalam masyarakat Dayak Jawatn terdapat cerita bagaimana menghormati tanah sebelum membuka ladang. Kisah tentang tujuh bersaudara yang lahir dengan keistimewaan masing-masing. Anak pertama lahir dengan bentuk fisik yang sangat buruk sehingga dibuang ke tanah. Sedangkan anak ketujuh lahir dengan paras yang sangat rupawan tetapi menangis meminta nasi. Maka saudaranya berusaha untuk membuka ladang. Namun usaha tersebut gagal karena pohon yang sudah ditebang, keesokan harinya berdiri kembali. Penasaran dengan peristiwa aneh tersebut maka mereka menginap di hutan untuk melihat apa yang terjadi. Ketika malam tiba mereka melihat orang mendirikan lagi pohon-pohon yang sudah tumbang. Lalu mereka datang dan bertanya kenapa melakukannya? Orang tersebut katakan kalau mereka membuka ladang tidak terlebih dahulu datang minta ijin kepadanya. Ketika ditanya siapa dirinya? Maka orang tersebut mengungkapkan bahwa dirinya adalah orang yang dibuang oleh orang tuanya ke tanah sejak lahir karena bentuk tubuhnya yang buruk. Ketika mereka tahu bahwa orang tersebut adalah saudara sulung mereka maka mereka minta maaf dan berpelukan sambil menangis. Lalu kelima adiknya bercerita kalau adik bungsu mereka menangis dan meminta nasi. Si sulung mengatakan kalau mau membuat ladang maka perlu memanggil dan memberinya makan karena dirinya sudah dibuang ke tanah dan tanah menjadi bagian dari dirinya.

Penggalan cerita di atas tersebut mungkin hanya mitos, namun bukan berarti nirmakna melainkan ia memberikan petuah atau kebijaksanaan hidup bagi masyarakat yang masih menghayatinya. Sebagaimana menurut J. Van Baal (1987), mitos harus dipahami dalam kerangka sistem religi yang hadir pada masa lalu sebagai suatu kebenaran keagamaan. Melalui mitologi, Yang Ilahi hadir mengungkapkan dirinya dengan konsep dan bahasa simbol. Karenanya, van Peursen (1976) memandang mitos sebagai pemberi arah kepada kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman bagi manusia untuk bertindak bijaksana. Maka tanah dan segala vegetasinya harus dimaknai dalam relasinya dengan manusia. Relasi ini perlu dipahami dalam konsep kosmologis, di mana manusia dan alam saling ketergantungan. Contoh paling baik untuk memahami konsep kosmologi seperti ini bisa kita jumpai secara kasuistis pada orang-orang desa yang masih menggantungkan hidupnya dengan hutan dan sungai, misalnya bagaimana perjuangan warga sungai Utik yang menolak investor yang berniat membeli hutan adatnya. Dalam sebuah petikan wawancara antara Apai Janggut dengan Sulung Prasetyo yang merupakan seorang wartawan Sinar Harapan saat mereka tengah berjalan menyusuri hutan adat, Apai Janggut mengatakan bahwa “Anak muda seharusnya selalu ingat melindungi kelestarian hutan. Hutan itu ibarat nafas kehidupan, sedangkan tanah adalah dagingnya”. Lebih lanjut ia berucap, “Hutan adalah sumur dunia. Dari hutan banyak air keluar, tanah juga terjaga. Tanpa tanah, kita bukan apa-apa” (Sinar Harapan, 11 Juli 2017).

Begitu juga halnya dengan budaya. Budaya sangat terikat dengan manusia dan tanah sebagai entitas di mana dia hidup. Friedman (1995) menyebutkan bahwa kebudayaan merupakan suatu kreasi sosial dalam masa tertentu sehingga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan agen sosial yang terlibat. Sedangkan van Peursen memandang kebudayaan sebagai suatu proses belajar yang dapat membuat manusia semakin beradab. Dalam hal ini budaya tidak hanya sebatas adat istiadat tetapi juga tehnik mengolah makanan, tentang seksualitas, cara bertani, kesenian (warna, musik, tarian, ukiran), bentuk rumah, mitos, bahasa, ilmu pengetahuan dan agama.

Lalu bagaimana dengan falsafah budaya leluhur yang tertinggal saat ini? apakah masih dapat dikenali atau bahkan diterapkan apabila kita melupakan jiwa/ruh dari kearifan leluhur tersebut? Misalnya gawai padi dalam masyarakat Dayak. Gawai padi dilaksanakan setelah masyarakat Dayak selesai panen padi. Gawai tersebut diadakan sebagai ucapan syukur kepada Yang Ilahi karena telah memberkati bumi sehingga padi bisa dipanen. Tetapi pada saat ini gawai nampaknya seperti seremonial tahunan belaka. Tanah untuk menumbuhkan padi diserahkan/dijual ke perusahaan sehingga masyarakat menjadi buruh di tempat tinggalnya sendiri. Ketika ada momen gawai padi, mereka membeli segala kebutuhan yang bukan dari hasil olahan tangannya. Tanah tidak lagi dilihat sebagai satu kesatuan dengan kreasi sosial masyarakat. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang nilai budaya kalau tanahnya habis dijual dan hutannya dibabat habis untuk digantikan dengan tanaman monokultur? Padahal tanaman monokultur telah membawa konsekuensi besar bagi lingkungan. Kita lupa bahwa “Allah telah menyatukan kita begitu erat dengan dunia disekitar kita sehingga kita dapat merasakan pengundulan tanah hampir seperti penyakit pada setiap orang, dan punahnya suatu spesies bagaikan mutilasi yang menyakitkan” (Evangelii Gaudium, 215).

Mempertahankan tanah dan re-interpretasi budaya

Masyarakat Kalimantan harus sadar bahwa tanah dan segala vegetasi di atasnya adalah sumber utama kehidupan. Tanpa tanah, masyarakat tidak bisa “hidup”. Namun sangat ironis karena tanah tersebut diserahkan ke investor perkebunan dan pertambangan. Misalnya di Kalimantan Barat berdasarkan data dinas perkebunan provinsi tahun 2014 ada 411 perusahaan kelapa sawit yang beroperasi dengan luas lahan 4.513.700.60 hektar. Bandingkan dengan luas wilayah provinsi Kalimantan Barat 146.807 km2. Logika yang sering digunakan adalah pembangunan. Dengan banyaknya perusahaan yang masuk berarti APBD bertambah dan itu bisa digunakan untuk membangun daerah.

Apakah betul persepsi korelasi (hubungan) antara banyaknya perusahaan yang masuk dengan pembangunan berbanding lurus? Berikut adalah kesaksian para uskup Patagonia-Comahue ketika hutan mereka dijarah oleh korporasi seperti yang tersurat dalam pesan natal. “Kami mencatat bahwa perusahaan yang beroperasi demikian sering berupa perusahaan multinasional. Mereka melakukan disini apa yang tidak pernah mereka lakukan di negara-negara maju atau yang disebut dunia pertama. Umumnya setelah mengakhiri aktivitas mereka dan menarik diri, mereka meninggalkan utang manusiawi dan ekologis besar seperti pengangguran, kota-kota yang mati, menipisnya cadangan alam tertentu, deforestasi, pemiskinan pertanian dan peternakan lokal, lubang-lubang terbuka, bukit-bukit hancur, sungai tercemar dan sedikit karya sosial yang tidak dapat lagi dilanjutkan” (Pesan natal uskup-uskup daerah Patagonia-Comahue, Argentina, Desember 2009).

Lalu apa yang perlu dilakukan? Amatus Woi dalam artikel Heronimus Heron yang berjudul “Membangun spiritualitas yang berwawasan ekologis” yang dimuat dalam jurnal ilmiah forum STFT tahun XLII no.2/2014 mengajukan suatu pandangan bahwa lingkungan termasuk tanah merupakan bagian yang utuh dalam risalah-risalah teologis, pemahaman dan penghayatan rohani umat manusia. Penyelamatan yang universal dan komprehensif juga menyangkut keselamatan ekologis. Maka mempertahankan hutan dan tanah agar tidak dirusak oleh korporasi adalah bagian dari keikutsertaan menjaga keutuhan ciptaan.

Tentu cara berpikir masyarakat perlu berubah. Tanah dan vegetasinya harus dipahami sebagai bagian dari dirinya. Sehingga masyarakat dapat melihat alam sebagai norma yang berlaku atau sebagai tempat berlindung yang hidup (Romano Guardini, the end of modern world, 55). Karena benteng terakhir membendung ekspansi kapitalisme adalah masyarakat. Penting untuk membentuk suatu wadah bersama atau organisasi untuk saling menguatkan dan berbagi bersama. Pengalaman menunjukkan bahwa di mana organisasi masyarakat kuat dalam mempertahankan tanahnya maka pemodal akan susah masuk. Walaupun sekarang sudah ada pola pendekatan baru dari investor yaitu mendatangi rumah warga satu persatu sehingga banyak dari lahan warga yang lepas terjual. Tetapi organisasi rakyat adalah salah satu pilihan dalam mempetahankan ruang hidup masyarakat.

Ketika tanah dan segala vegitasinya tetap terpelihara maka dengan sendirinya budaya lestari. Kalau tanah dan hutan masyarakat habis, pertunjukkan budaya mungkin masih ada tetapi tidak memiliki jiwa. Ia seperti benda mati yang dipaksa untuk tampil mempesona padahal ia sudah tidak bernilai lagi. Untuk itu kita perlu menginterpretasi budaya sehingga tidak memisahkannya dari tanah agar tidak menjadi komoditas belaka yang setelah pementasan dan didokumentasikan, tidak meninggalkan makna.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

19 points
Upvote Downvote

Total votes: 21

Upvotes: 20

Upvotes percentage: 95.238095%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 4.761905%

Dayak Jawatn

Sejarah Dayak Jawatn Menurut Tetua Kampung Boti

ngkran manok

Ngkran Manok (Borneopedia)