in

Tenun Ikat, Budaya Perempuan Dayak dan Mistis di balik Motif

Tenun Ikat Budaya Perempuan Dayak dan Mistis di Balik Motif
Photo by J. Paradise At Ensaid Panjang Village, Sintang, Kalimantan Barat It tooks a few month to finish this Tenun Ikat for a Dayak Desa woman. This activity is just for their leisure time.

TEROKABORNEO.COM – Kalimantan Barat, terkhusus Kabupaten Sintang yang letaknya berjarak kurang lebih 8 jam perjalanan darat dari Kota Pontianak adalah daerah yang kaya akan seni dan budaya. Salah satu kerajinan unggulan daerah ini adalah tenun ikat Dayak yang rata-rata diproduksi oleh perempuan-perempuan dayak sub suku dayak desa. Sebuah keterampilan yang diajarkan secara turun temurun kepada setiap anak perempuan suku dayak desa.

Kegiatan menenun biasanya dilakukan para perempuan dayak setelah melakukan aktifas menoreh getah karet, berladang dan membereskan urusan rumah tangga. Uniknya budaya menenun hanya dilakukan oleh kaum perempuan, kaum pria hanya berperan dalam menyiapkan peralatan untuk menenun saja. Pada tenun ikat, pola kain dibuat dengan mengikat benang pada benang penahan celup (celup : teknik pewarna yang pewarnaannya terbuat dari bahan-bahan alam seperti akar akar kayu dan dedaunan). Benang yang telah diikat dicelup berkali-kali untuk memperoleh pola yang diinginkan. Proses selanjutnya, benang yang telah memiliki pola ini lalu ditenun. Teknik ikat disebut sebagai teknik celup tertua di dunia (sumber dekranas : tenun ikat dayak, cerita dan motif kain).

Kain tenun digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti untuk menggendong bayi, selimut, dan sebagai rok kaum perempuan.

Proses menenun dalam budaya dayak tidak boleh dilakukan sembarangan, mereka yang menenun harus melalui rangkaian syarat dan upacara adat apalagi jika hendak menenun beberapa motif “keramat” seperti motif manusia, buaya, dan ular. Motif ini hanya boleh ditenun oleh ibu-ibu yang sudah ditinggal mati oleh suaminya. Untuk  penenun pemula, begitu selesai menenun sebuah kain, ia harus memberikan sesaji kepada roh nenek moyang sebagai tanda penghormatan dan permohonan agar mereka tidak mengganggu manusai yang masih hidup.

Tidak kurang dari 76 jenis motif yang dikenal di suku dayak Desa, diantaranya Emperusung (ikan yang mulutnya besar), ular, merinjan (Raja tumbuhan), Perahu,  Encerubung (pucuk rebung), Ruit (kait pada mata tombak), kesemua motif ini biasanya tidak lepas dari pengalaman hidup dan filosofi masyarakat dayak pada umumnya.

Seorang ibu di Desa Umin bernama Veronica Kanjan dari desa Umin adalah satu-satunya orang yang berani menenun motif sakral seperti buaya, hantu, rabing (raja ular) dan manusia. Ia meninggal pada tahun 2013. Dari segi kesulitan pembuatan motif mistis ini sesungguhnya sama dengan motif-motif lain namun karena mistisnya ini, tidak sembarang orang boleh menenunnya karena dapat berakibat kemalangan bahkan kematian.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

5 points
Upvote Downvote

Total votes: 9

Upvotes: 7

Upvotes percentage: 77.777778%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 22.222222%

Membawa Anak Mandi ke Sungai Tradisi Dayak yang Nyaris Punah

Membawa Anak Mandi ke Sungai Tradisi Dayak yang Nyaris Punah

Sinergitas Kedamaian Kalimantan

Press Release : Sinergitas Kedamaian Kalimantan