in , ,

Wawancara: Delacroix Segera Luncurkan Mini Album Nyanyian Sang Enggang

Delacroix
Delacroix Musik

TEROKABORNEO.COM – Nama Delacroix tentunya masih sangat asing dan belum pernah terdengar sebelumnya di telinga para penikmat musik secara umum, baik di regional Jogja apalagi kancah nasional. Namun baru-baru ini sang kreator musik tersebut justru telah memulai propaganda promosi digital dengan meluncurkan sebuah klip musik berjudul “Tangis Ibu Bumi” di saluran Youtubenya. Lewat sebuah kesempatan santai tim Teroka Borneo pun menyambangi kediaman pria kelahiran Sintang, Kalimantan Barat yang kini memilih untuk berdomisili di Yogyakarta tersebut.

Malam itu kami pun mewawancarai Alexander Haryanto, sosok di balik nama Delacroix, seputar penggarapan project baru mini albumnya. Sambutan hangat terasa kala ia mempersilakan kami untuk masuk dan duduk di ruang tamunya.

Pria yang akrab disapa Alex ini memilih untuk tetap produktif dan menyalurkan kreativitasnya melalui musik. Ia yang juga merupakan seorang jurnalis salah satu media online nasional Indonesia ini berbagi cerita dengan kami mengenai rencana peluncuran karya mini album perdananya tersebut. Berikut ini petikan wawancara Teroka Borneo dengan Delacroix.

Apa dan bagaimana bisa memilih nama Delacroix sebagai identitas panggung? Ada alasan filosofis kah?

Delacroix, tanpa filosofi, itu saya ambil dari seorang pelukis yang bernama Eugene Delacroix. Tapi pada intinya, saya memilih nama tersebut dikarenakan lukisan-lukisannya yang “gelap”.. Jadi saya menginginkan ini jadi sebuah proyek karya yang juga “gelap”. Yang selama ini saya bayangkan lebih kepada itu. Jadi simbol Eugene Delacroix, melukis kegelapan melalui kanvas, saya mencoba untuk mengambil itu dengan jalan yang berbeda yakni musik.

Soal mini album ini sendiri ada berapa track dan apa saja judul lagu yang disajikan di dalamnya?

Ide membuat mini album ini sebetulnya berawal dari karya saya di tahun 2013 yaitu “Nyanyian Sang Enggang”. Dari situ saya ingin mengembangkan lagi tema-tema itu. kemudian saya buatlah beberapa lagu baru dan ada beberapa karya lama. Untuk temanya ada yang menceritakan tentang alam dan ada yang tentang penyesalan jadi lebih variatif. Total ada 5 track, judul-judulnya ada Tangis Ibu Bumi, Kegetiran Cinta Manusia, Sesal, Nyanyian Sang Enggang, dan Mawar Duka.

Ada alasan khusus soal penamaan judul mini album “Nyanyian Sang Enggang”? Mengapa judul ini yang dipilih bukannya “Tangis Ibu Bumi” yang sudah punya video klip itu?

Spontan saja sih, menurut saya Enggang itu kan simbol Kalimantan. Beberapa lagu di dalam ini kan ada yang menceritakan kegelisahan tentang alam, jadi saya menganalogikan bahwa Enggang pun ikut bernyanyi di dalam album saya, menyampaikan keresahannya.

Jadi Enggang itu gambaran masyarakat Kalimantan/masyarakat adat begitu?

Ya mungkin bisa diartikan seperti itu, bebas saja bagi siapapun untuk menginterpretasikannya seperti apa.

Bisa ceritakan soal teknis/proses penggarapan mini album Delacroix? Siapa saja yang terlibat?

Mulai dari awal saya kerjakan sendiri, lirik, musik, mixing, rekaman. Puisi dari Rudi Yesus, karya Rudi Yesus juga adalah salah satu karya yang memicu saya untuk membuat karya yang serupa. Yang mengisi bass Addy Setiawan (Kota dan Ingatan) band indie Jogja.

Siapa yang membantu penggarapan video klip Delacroix “Tangis Ibu Bumi”?

Untuk video klip saya merasa terbantu oleh beberapa teman yang secara sukarela membantu. Sutradaranya Arief Dharmawan, Kameramen : Nirwan, Creative Idea: Indrian Voice.

Spesifik konsep video klip?

Ide video klip ini berasal dari seorang kawan. Video ini lebih mengarah kepada video klip Chris Cornell “The Promise”. Referensi musik Delacroix itu banyak, tapi akhir-akhir ini saya lebih sering mendengarkan musik-musik bernuansa “gelap”.

Perihal apa yang ingin disampaikan oleh Delacroix melalui musik dan lirik-liriknya?

Sebenarnya simple saja sih, single baru Delacroix ini menceritakan tentang keresahan dan kegelisahan tentang kerusakan alam. Itu saja intinya.

Tantangannya apa saat mengangkat musik dengan tema-tema alam seperti ini?

Keinginan awal saya, tidak secara langsung menceritakan tentang alam. Hal tersebut berangkat dari latar belakang sebagai orang Kalimantan (Dayak) yang di mana tanah dan hutannya habis dan dirampas. Saya merasa tergerak. Jadi, intinya ini merupakan karya yang mengalir begitu saja. Karena saya orang Kalimantan makanya saya menulis tentang itu. Saya pernah mencoba beberapa kali membuat karya di luar tema lingkungan namun saya belum berhasil.

Ada kesulitan yang ditemui saat mengangkat isu yang demikian (baca; lingkungan)?

Tidak ada. Saya hanya berkarya. Dan tema yang saya angkat merupakan tema yang dekat dengan saya. Saya hanya tak ingin berbohong di dalam karya saya. Soal respon bebas dari pendengar.

Sebagai musisi asal Kalimantan mengapa tidak memilih tema umum seperti budaya dan keindahan alam seperti kebanyakan musisi Kalimantan lainnya?

Saya tidak ingin hanya membicarakan tentang keindahan (Kalimantan) namun melupakan bahwa juga terdapat “ketidakindahan” di sana (Kalimantan).

Tanggapan melihat geliat musik etnik Kalimantan?

Saya kurang mengikuti. Tapi melihat animo akhir-akhir ini lebih baik apresiasi dari orang-orang. Saya pernah menggarap musik etnik bersama teman Thambunesia (sapek) dan berhasil merilis mini album berjudul “Home Sickness” produksi Hell Hammer Record.

Pandangan soal kaitan musik dan isu lingkungan (kaitannya dengan geliat musik etnik Kalimantan?

Saya pikir itu belum digarap.

Kurang kesadaran atau kurang kemauan?

Saya tidak berani men-judge. Tapi permasalah di Kalimantan memang perlu untuk disampaikan/diangkat. Saya yakin apabila teman-teman serius mengerjakan tema-tema demikian itu pasti akan menjadi isu bersama. Saya tidak yakin sebuah karya musik bisa mengubah sesuatu. Tapi saya yakin musik bisa menjadi pintu gerbang untuk menciptakan suatu perubahan.

Kapan album ini akan dirilis ke publik?

Album saya ini akan keluar kalau lancar akhir September. Sekarang saya sedang mempersiapkan proses cetaknya.

Setelah rilis mini album, apa harapannya Delacroix?

Ya harapan saya dengan mini album ini semoga bisa diterima saja, ada respons dari pendengar setelah mendengar lagu-lagu itu. Syukur-syukur beli CD-nya, hehe. Tidak muluk-muluk. Terus berkarya. Saya juga masih baru. Masih banyak harus berdiskusi untuk menggarap tema-tema yang masih belum digarap.

Informasi kontak dan interaksi:

[email protected]

Facebook Alexander Haryanto

Instagram Alexander Haryanto

Berikut video klip Delacroix Musik berjudul Tangis Ibu Bumi:

What do you think?

10 points
Upvote Downvote

Total votes: 10

Upvotes: 10

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

masyarakat peladang

Historisitas dan Tantangan Masyarakat Peladang di Kalimantan

harta terpendam

Harta Terpendam Di Tanah Borneo Bagian Barat